Kudus, isknews.com – Tradisi sedekah bumi (Apitan) di Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, berlangsung semakin meriah dengan penampilan Tari Bun Ya Ho yang menjadi daya tarik utama dalam perayaan tersebut, Minggu malam (3/5/2026).
Kegiatan yang telah berlangsung turun-temurun ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas limpahan rezeki. Tradisi tersebut dikemas dengan nuansa kearifan lokal yang kuat, salah satunya melalui pertunjukan seni tari khas desa setempat.
Tari Bun Ya Ho sendiri memiliki nilai historis yang cukup panjang. Berdasarkan cerita masyarakat, tarian ini diciptakan oleh seorang ulama asal Kebumen, Kyai Abdul Jalil, yang kemudian menetap di Desa Megawon. Saat itu, tarian dijadikan media dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat.
Seiring waktu, Tari Bun Ya Ho tidak hanya digunakan sebagai sarana dakwah, tetapi juga kerap ditampilkan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, hingga perayaan desa. Keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Megawon.
Kepala Desa Megawon, Nurasag, menjelaskan bahwa tarian tersebut sarat makna ajakan untuk berbuat kebaikan. Selain itu, nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya menjadi pesan moral yang terus dijaga hingga saat ini.
“Tarian ini memiliki filosofi sebagai ajakan menuju kebaikan. Kami mulai menghidupkan kembali Tari Bun Ya Ho sejak Apitan tahun 2013 agar tetap dikenal oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Teguh Riyanto, menyampaikan bahwa tradisi Apitan merupakan bagian penting dari kekayaan budaya daerah yang perlu dilestarikan bersama.
Menurutnya, melalui kegiatan tersebut diharapkan tercipta kebersamaan antara masyarakat dan pemerintah desa, sehingga mampu memperkuat keharmonisan serta menjaga nilai-nilai toleransi di tengah kehidupan sosial.
“Apitan ini bukan hanya tradisi, tetapi juga sarana mempererat persatuan. Semua pihak diharapkan bisa berperan aktif dalam memajukan kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Perda Nomor 8 Tahun 2021,” jelasnya.
Di Kabupaten Kudus sendiri, tidak banyak desa yang memiliki tarian khas. Oleh karena itu, Pemerintah Desa Megawon terus berupaya melestarikan Tari Bun Ya Ho agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus sebagai bagian dari identitas budaya lokal. (AS/YM)






