Seminar Beyond Teaching, YBPM Kudus Dorong Guru Jadi Penggerak Kemajuan Sekolah

oleh -522 Dilihat
Pembicara seminar "Beyond Teaching", Peturs Gunawan Wijaya, mengabadikan momen bersama peserta usai memberikan materi tentang pentingnya membangun jiwa kewirausahaan dan school ownership di lingkungan sekolah, Senin (29/6/2026). (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.com – Yayasan Bina Pelayanan Masehi (YBPM) Kudus mendorong para guru dan tenaga kependidikan menjadi penggerak utama kemajuan sekolah melalui Seminar Beyond Teaching yang digelar di Gedung Griya Kinasih, Kompleks SD-SMP Masehi, Kudus, Senin (29/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya YBPM membangun budaya kerja yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan pendidikan.

Seminar menghadirkan Petrus Gunawan Wijaya sebagai pembicara. Kegiatan ini diikuti oleh guru dan tenaga kependidikan di lingkungan YBPM Kudus dengan tujuan memperkuat pemahaman bahwa setiap insan sekolah memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan peserta didik maupun orang tua.

Dalam materinya, Petrus menegaskan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini semakin kompleks. Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya menjalankan proses belajar mengajar, tetapi juga harus memiliki strategi dan cara berpikir yang adaptif agar mampu bertahan di tengah persaingan antar lembaga pendidikan.

“Perubahan di dunia pendidikan berlangsung sangat cepat. Karena itu sekolah tidak bisa hanya berjalan seperti biasa, tetapi harus memiliki keberanian untuk berpikir berbeda agar mampu terus berkembang,” ujarnya.

Ia memperkenalkan konsep school ownership, yakni membangun rasa memiliki terhadap sekolah dengan menerapkan semangat kewirausahaan dalam pengelolaannya. Namun, ia menekankan bahwa konsep tersebut bukan berorientasi pada keuntungan finansial, melainkan pada pengembangan kualitas layanan.

“Yang ingin dibangun bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi menanamkan jiwa kewirausahaan. Nilai yang harus dimiliki adalah inovatif, kreatif, solutif, dan mampu bekerja secara efisien. Karakter seperti inilah yang akan membuat sekolah mampu bertahan dan terus bertumbuh,” jelasnya.

Petrus juga mengajak para guru mengubah cara pandang terhadap peserta didik. Menurutnya, siswa bukan lagi sekadar penerima materi pelajaran, melainkan mitra yang harus memperoleh pengalaman belajar terbaik selama berada di lingkungan sekolah.

“Murid bukan objek yang hanya diajar. Mereka adalah mitra yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik, mulai dari proses pembelajaran, kenyamanan, hingga perhatian yang diberikan sekolah. Ketika mereka merasa dihargai, kepercayaan kepada sekolah juga akan tumbuh,” katanya.

Lebih lanjut, ia mendorong guru dan seluruh pengelola sekolah untuk memiliki rasa kepemilikan yang kuat terhadap lembaga pendidikan. Dengan demikian, setiap individu akan terdorong memberikan kontribusi maksimal demi kemajuan sekolah.

“Saya berharap setiap guru dan pengurus memiliki mindset sebagai owner. Ketika memiliki rasa tanggung jawab terhadap kemajuan sekolah, mereka akan lebih termotivasi memberikan pelayanan terbaik sehingga sekolah mampu naik ke level berikutnya dan bersaing dengan sekolah lain,” ungkapnya.

Melalui seminar Beyond Teaching, YBPM Kudus berharap para guru dan karyawan tidak hanya meningkatkan kompetensi mengajar, tetapi juga memperkuat kemampuan membangun hubungan dengan siswa dan orang tua. Bekal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan dan perkembangan sekolah di masa mendatang. (AS/YM)