Sendon Waton Kartini

oleh -277 Dilihat

Rembang, isknews.com (Lintas Rembang) – Pemerintah Kabupaten Rembang tengah sukses menyajikan Sendon Waton Kartini di pendopo Musem RA Kartini, Rabu (19/4) malam. Dialog budaya tersebut diawali makan gratis bersama masyarakat, Bupati Rembang H. Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Bayu Andriyanto dan jajaran OPD.

Dalam dialog selaku narasumber sejarawan sekaligus ketua Forum Komunikasi Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Jawa Tengah, Edi Winarno tengah menjelaskan tentang apa yang dimaksud emansipasi dari RA Kartini. Dalam penjelasannya pahlawan emansipasi wanita itu tidak menginginkan wanita melawan laki-laki atau lupa kodratnya.
Di zaman Kartini, hak-hak kaum perempuan sama sekali tidak ada. Bahkan wanita saat itu sembari menunggu dilamar oleh laki-laki, mereka dipingit terlebih dulu.

Foto: Memasuki acara malam itu, suara merdu dari seniwati asal Solo, Sruti Respati yang menyanyikan lagu Melati Suci karya Guruh Soekarno Putra membius ratusan penonton yang ada di pendopo. (Dok.Isknews.com)

“Di kanan kiri pendopo ada kesel laki-laki dan perempuan. Kesel perempuan berlubang dan kesel laki-laki buntu (tidak berlubang). Maksudnya ketika ada orang melamar si perempuan bisa nginceng (mengintip) dari lubang kesel itu, tidak boleh keluar.” terangnya.Lebih lanjut, Edi Winarno menceritakan Kartini meneteskan air mata ketika mengetahui di Banten seorang istri dicerai suaminya gara-gara hamil. Dirinya tidak ingin wanita diperlakukan sedemikan rupa.

Namun Ia juga mengungkapkan bahwa sosok Kartini tidak hanya memperjuangkan kaum perempuan, tetapi juga laki-laki. Buktinya apa setelah dia menikah Kartini tidak jadi berangkat belajar ke Belanda.
“Dia justru memperjuangkan Agus Salim untuk menggantikan dirinya, karena Agus Salim ini merupakan lulusan terbaik seluruh Indonesia waktu itu dari HBS, artinya Kartini memperjuangkan laki-laki dan perempuan semua masyarakat pribumi, tetapi karena perempuan begitu termarjinalkan maka Ia ingin wanita terpenuhi hak-haknya agar bisa maju bersama memerdekakan bangsa. Ini prinsip emansipasi yang dikemukakan kartini,”jelasnya.

Selain Edi Winarno pemkab juga menghadirkan narasumber penggiat literasi Trini Haryanti. Dengan kehadirannya dialog budaya juga diselingi dengan obrolan tentang buku dan membaca.
Sementara itu, Bupati Rembang H. Abdul Hafidz mengatakan, Sendon Waton Kartini ini cukup menarik sehingga layak digelar karena didalamnya mengupas bagaimana RA Kartini berjuang selama ini. Pesan dan cita-citanya menjadi penting diketahui dan dipahami oleh generasi sekarang.

“Daerah ini akan bermartabat ketika tidak melupakan sejarahnya,” kata Hafidz, sembari melanjutkan, Inilah inti yang akan dikemas melalui dialog budaya gema kartini sendon waton kartini. Di sini pemerintah maupun masyarakat bisa menyampaikan atau urun rembug dengan narasumber yang akan memberikan keilmuannya untuk menyikapi kondisi daerah Kabupaten Rembang yang harus menghormati sejarah.
Tak hanya itu, Bupati mengingatkan bahwa Kartini tidak mewariskan harta benda, tetapi cita-cita. Cita-cita itu yang harus digelorakan saat ini. (Hdy)

KOMENTAR SEDULUR ISK :