SERAH 7: Merawat Tradisi, Merayakan Kreasi

oleh -288 Dilihat
Pamflet Serah 7

KUDUS, ISKNEWS.COM — Serah berkolaborasi dengan komunitas kesenian 9,9 mengumumkan penyelenggaraan SERAH 7: Merawat Tradisi, Merayakan Kreasi, pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di Selatan Gazebo, Desa Megawon. Dalam rangkaian acaranya menghadirkan pertunjukan dari COTSU (musikalisasi puisi), Teater Obeng X Simpul Teater (puisi), Terban Teater Labs (drama teater), KB. Cabean (tari), Ahmed Zeyn (puisi), dan Ruang Intim (teatrikal), dilengkapi live session kuliner tradisional khas Desa Megawon, Getuk Gulung dan lain sebagainya.

Ekosistem Seni dan UMKM Tidak Terbentuk dengan Sendirinya

Ditemui di sela persiapan acara, Dian Puspita Sari menjelaskan bahwa pertemuan seni dan UMKM dalam satu ruang perlu dirancang secara sengaja, tidak muncul otomatis hanya karena keduanya ditempatkan berdekatan.

“Kalau seni dan UMKM cuma diletakkan berdampingan tanpa skema yang jelas, keduanya jadi dua kegiatan yang kebetulan terjadi di tempat yang sama. Yang kami coba bangun di SERAH 7 adalah titik temu yang konkret, dimana pelaku UMKM ikut terlibat dalam produksi acara, tidak hanya berjualan di pinggir panggung,” ujar Dian.

Dian juga memberi catatan bahwa keberhasilan ekosistem berkesenian memang sulit diukur hanya dari jumlah pengunjung selama satu hari acara. Menurutnya, indikator yang lebih relevan justru terletak pada apakah kolaborasi antara seniman dan pelaku UMKM berlanjut setelah panggung dibongkar, sesuatu yang belum tentu terjadi tanpa mekanisme tindak lanjut yang jelas dari penyelenggara.

Seni Daerah dalam Negosiasi dengan Pasar Rakyat

Pembicaraan berlanjut dengan Yudhistira, yang menyoroti dua kutub yang bertemu di panggung SERAH 7 pada 22 Agustus: warga desa Megawon yang hadir lewat tradisi k mendatang, liner Getuk Gulung, dan antusiasime komunitas seni  seperti COTSU, Teater Obeng X Simpul Teater, Terban Teater Labs, KB. Cabean, Ahmed Zeyn, hingga Ruang Intim yang membawa idiom seni kontemporer dan sudah terbiasa tampil di panggung publik.

“Begitu dua kutub ini bertemu di satu panggung pasar rakyat, ada tarik-menarik yang jarang dibicarakan terbuka. Komunitas luar desa datang dengan bentuk pertunjukan yang lebih terlatih untuk menarik perhatian penonton, sementara warga desa hadir lewat sesuatu yang lebih sederhana secara tampilan, tapi lebih dekat dengan akar tradisi setempat. Risikonya, tradisi desa jadi latar pelengkap yang memberi suasana ‘kerakyatan’, sementara panggung utama tetap didominasi komunitas luar,” kata Yudhistira.

Yudhistira menambahkan, warga desa yang terlibat lewat sajian kuliner tradisional umumnya tidak punya infrastruktur promosi maupun jaringan panggung setara dengan komunitas seni luar desa. Partisipasi warga desa terlihat besar dalam momentum acara, tapi posisi tawarnya lebih lemah dibanding komunitas luar yang lebih dulu punya nama dan jejaring pertunjukan.

Dua kesaksian ini menyisakan pertanyaan yang belum terjawab oleh rilis acara: apakah SERAH 7 pada 22 Agustus mendatang benar-benar mempertemukan warga desa dengan komunitas seni lainya secara setara, atau justru menempatkan tradisi desa sebagai latar budaya  semata? atau jejaring yang sudah lebih dulu dikenal publik?