Kudus, isknews.com — 30 Mei 2026, Program Serah#5 yang digelar di Taman Budaya Sosrokartono Kudus menghadirkan lebih dari sekadar pertunjukan seni. Melalui berbagai aktivitas budaya yang melibatkan komunitas dan masyarakat, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat diberdayakan sebagai ruang perjumpaan, ekspresi, dan partisipasi warga.
Pada Sabtu (30/5), ratusan pengunjung memadati kawasan taman budaya untuk menyaksikan berbagai agenda yang diselenggarakan sepanjang program. Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah pertunjukan Barongan Gembong Kamijoyo Mbabar dari Kelompok Seniman Barongan Kudus (KSBK).
Namun bagi penyelenggara, nilai utama Serah tidak hanya terletak pada karya yang dipentaskan, melainkan pada bagaimana ruang publik digunakan dan dihidupkan kembali oleh masyarakat.
Penyelenggara Serah#5, Melly Ferdiana Tasmara, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk membuka akses yang lebih luas terhadap ruang budaya yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh publik.
“Sering kali ruang publik dipahami hanya sebagai tempat yang harus diisi kegiatan. Padahal yang lebih penting adalah bagaimana ruang tersebut menjadi tempat warga bertemu, berdialog, dan membangun pengalaman bersama,” kata Melly.
Menurutnya, Taman Budaya Sosrokartono memiliki potensi besar sebagai ruang budaya terbuka yang mampu menjembatani seniman dengan masyarakat. Karena itu, berbagai program dalam Serah dirancang agar penonton tidak hanya menjadi konsumen pertunjukan, tetapi turut mengalami proses kebudayaan secara langsung.
Hal tersebut terlihat dari tata ruang pertunjukan yang tidak memisahkan secara tegas antara pemain dan penonton. Dalam pementasan Barongan KSBK, misalnya, arena dikelilingi masyarakat dari berbagai sisi sehingga tercipta hubungan yang lebih dekat dan egaliter.
Model penyelenggaraan seperti ini dinilai penting karena membuka peluang interaksi yang lebih luas dibandingkan pola pertunjukan konvensional yang membatasi posisi seniman dan penonton secara kaku.
Di sisi lain, pemanfaatan ruang terbuka juga memberikan kesempatan bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki akses terhadap kegiatan seni untuk ikut terlibat. Pengunjung dapat datang, menyaksikan, berdiskusi, bahkan berinteraksi langsung dengan para pelaku seni.
Melly menilai bahwa pemberdayaan ruang publik tidak cukup dilakukan melalui pembangunan fisik semata. Ruang akan benar-benar hidup ketika diisi oleh aktivitas sosial dan budaya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Ruang publik yang sehat bukan hanya ruang yang dibangun, tetapi ruang yang digunakan bersama dan memiliki makna bagi warganya,” ujarnya.
Melalui Serah#5, Taman Budaya Sosrokartono menunjukkan potensinya sebagai ruang budaya yang tidak hanya menjadi lokasi pertunjukan, tetapi juga wadah pembelajaran, pertukaran gagasan, dan penguatan jejaring komunitas.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan ruang bersama di kawasan perkotaan, program seperti Serah menjadi contoh bagaimana seni dapat berperan dalam menghidupkan ruang publik. Bukan sekadar menghadirkan tontonan, tetapi membangun hubungan yang lebih erat antara masyarakat, ruang, dan kebudayaan yang mereka miliki bersama.









