Sri Hartini Ingin Petani Jateng Naik Kelas lewat Bioteknologi

oleh -435 Dilihat
Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sri Hartini. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sri Hartini, mendorong para petani di Jawa Tengah untuk naik kelas melalui pemanfaatan bioteknologi pertanian yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kemandirian petani.

Hal tersebut disampaikan Sri Hartini saat menghadiri kegiatan konsolidasi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Jawa Tengah yang dirangkai dengan pelatihan bioteknologi di Hotel Kenari Kudus, Sabtu (24/1/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Biotechnology-Based for Practical Agriculture’s” itu bertujuan mengenalkan peran bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari serta penerapannya dalam praktik pertanian sehat dan berkelanjutan.

Pelatihan menghadirkan praktisi bioteknologi pertanian, Dhimas Driessen, yang memaparkan pemanfaatan teknologi hayati untuk meningkatkan hasil pertanian, termasuk teknik pembuatan pupuk organik berbasis bahan lokal.

Sri Hartini mengatakan, pelatihan tersebut menjadi langkah konkret untuk membekali petani agar tidak terus bergantung pada pupuk pabrikan maupun subsidi pemerintah.

Melalui bioteknologi, petani bisa membuat pupuk sendiri sehingga biaya produksi lebih ringan dan hasil panen dapat meningkat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konsolidasi Tani Merdeka diikuti kader dari wilayah Eks Karesidenan Pati. Kabupaten Kudus dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menjadi salah satu basis pengembangan organisasi petani di Jawa Tengah.

Menurutnya, Tani Merdeka memiliki peran penting dalam menyerap dan memperjuangkan aspirasi petani. Sejumlah kebijakan pemerintah yang berpihak pada petani telah direalisasikan, mulai dari kemudahan akses pupuk, penurunan harga pupuk hingga 20 persen, pembelian hasil panen oleh pemerintah, hingga pembangunan infrastruktur pertanian.

Sekarang tantangannya bukan hanya soal bantuan, tetapi bagaimana petani mampu meningkatkan produktivitasnya secara berkelanjutan,” jelasnya.

Sri Hartini menambahkan, peningkatan hasil panen perlu terus didorong melalui inovasi, dengan target produksi dari rata-rata enam ton per hektare dapat meningkat hingga sepuluh ton per hektare.

Selain peningkatan kapasitas petani, pemerintah pusat hingga daerah juga terus menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang dikawal agar tepat sasaran.

Bantuan bibit, pupuk pascabencana, alsintan, irigasi hingga pembangunan jalan usaha tani sudah banyak digelontorkan. Harapannya, petani dapat lebih mudah mengelola lahan dan memasarkan hasil panennya,” terangnya.

Ia juga menekankan pentingnya regenerasi petani dengan mendorong keterlibatan generasi muda. Menurutnya, petani milenial di Jawa Tengah saat ini menunjukkan perkembangan positif, bahkan sebagian telah mampu menembus pasar ekspor dengan pendampingan pemerintah.

Sementara itu, Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Kudus, Ahmad Fatkhul Azis, mengatakan kegiatan pelatihan ini menyasar seluruh pengurus dan anggota Tani Merdeka dari tingkat desa hingga kecamatan.

Sasaran kami adalah para petani yang tergabung dalam Tani Merdeka Kudus agar memiliki pemahaman baru terkait bioteknologi pertanian,” katanya.

Ia menyebutkan, jumlah anggota Tani Merdeka Kudus saat ini telah mencapai lebih dari 300 orang, mayoritas berasal dari kelompok tani dan gabungan kelompok tani. Hingga kini, pembentukan koordinator desa telah terealisasi hampir 80 persen.

Melalui pelatihan tersebut, diharapkan para petani mampu bertransformasi menuju pertanian modern yang mandiri, produktif, dan berdaya saing, sehingga benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan serta memperkuat ketahanan pangan Jawa Tengah. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :