KUDUS, ISKNEWS.com – Program MBG (Membaca, Berkarya, Gembira) yang digelar Read Aloud Kudus di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kudus tidak hanya mengajak anak-anak gemar membaca. Melalui rangkaian kegiatan yang interaktif, peserta juga didorong mengembangkan kreativitas, keberanian berpendapat, serta kepercayaan diri sejak usia dini.
Ketua Read Aloud Kudus, Rizki Yuniarti, mengatakan MBG dirancang sebagai ruang belajar yang menyenangkan dengan mengombinasikan aktivitas literasi, apresiasi karya, dan kegiatan kreatif. Konsep tersebut diharapkan mampu membuat anak-anak belajar tanpa merasa terbebani.
“Program ini kami hadirkan agar anak-anak semakin dekat dengan buku sekaligus memiliki ruang untuk berimajinasi, berkreasi, dan percaya diri dalam mengekspresikan diri,” ujarnya.
Kegiatan diawali dengan sesi read aloud atau membaca nyaring yang dipandu para relawan Read Aloud Kudus. Cerita dibawakan secara ekspresif sehingga mampu menarik perhatian peserta. Selama kegiatan berlangsung, anak-anak diajak aktif berdialog, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, hingga mengembangkan imajinasi berdasarkan alur cerita yang dibacakan.
Menurut Rizki, metode membaca nyaring menjadi cara yang efektif untuk membangun minat baca sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi anak. Interaksi yang terjalin selama sesi berlangsung membuat mereka lebih berani menyampaikan gagasan dan memahami isi cerita.
“Metode membaca nyaring mampu menciptakan suasana belajar yang lebih hidup. Anak-anak menjadi lebih mudah memahami isi cerita sekaligus terdorong untuk mencintai buku sejak dini,” katanya.
Setelah mengikuti sesi literasi, peserta diajak menyaksikan film animasi hasil karya siswa SMK Raden Umar Said Kudus. Penayangan tersebut menjadi sarana memperkenalkan proses kreatif di balik produksi animasi sekaligus memberikan inspirasi bahwa karya anak bangsa mampu bersaing melalui kreativitas dan inovasi.
Anak-anak kemudian mengikuti kegiatan membuat keychain atau gantungan kunci bertuliskan nama masing-masing. Dengan bimbingan para relawan, mereka menyusun huruf demi huruf hingga menjadi sebuah karya yang dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
“Melalui aktivitas sederhana ini, anak-anak belajar melatih kreativitas, koordinasi motorik halus, ketelitian, sekaligus membangun rasa percaya diri karena berhasil menciptakan karya sendiri,” jelas Rizki.
Ia menuturkan, perpaduan antara membaca, menonton karya kreatif, dan membuat kerajinan menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi potensi diri.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya semakin gemar membaca, tetapi juga terbiasa mengekspresikan ide dan mengembangkan potensi diri sejak dini,” tuturnya.
Read Aloud Kudus juga mengapresiasi dukungan Perpustakaan Daerah Kudus yang telah memfasilitasi penyelenggaraan program MBG. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak anak memperoleh pengalaman belajar yang positif, menyenangkan, sekaligus memperkuat budaya literasi di Kabupaten Kudus. (AS/YM)







