Tanda Panen Raya, Warga Colo Kudus Gelar Tradisi Wiwit Kopi

oleh -154 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah menggelar tradisi ‘wiwit’ kopi atau dimulainya panen tanaman kopi.

Tradisi ‘wiwit’ kopi ini sebagai tanda akan adanya panen raya di Kawasan Pengunungan Muria. Biasanya panen raya di mulai pada bulan Juni hingga Agustus.

Menurut Ketua Kelompok Tani Kopi Desa Colo Purbo Wiyanto di Kudus, tradisi ‘wiwit’ kopi ini merupakan wujud ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hasil tanaman kopi yang melimpah.

“Wiwit kopi ini diikuti pulahan petani kopi di Colo. Ini wujud syukur kepada Tuhan,” kata dia, di Kebun Kopi Mbedagan Ngasem Kembar, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kamis (23/6) kemarin.

Ia mengakui hampir semua tanaman kopi petani sudah terlihat berbuah merah sehingga sudah saatnya dipanen.

Petani Kopi di Colo, Kudus memanen kopi di Lereng Muria sebagi tanda dimulainya panen raya

“Setidaknya bulan ini sudah bisa dimulai atau menunggu bulan Juli hingga Agustus 2022 mendatang,” ujarnya.

Sebelum acara panen raya dimulai, lanjut Purbo, petani beserta keluarga lebih dahulu menyiapkan berbagai sesaji untuk dibawa ke perkebunan.

“Petani membawa ambengan. Ambengan itu makanan tradisional seperti tempe, tahu, ayam, telor, nasi serta sayuran yang dibawa ke areal perkebunan kopi,” jelasnya.

Kemudian, ambengan didoakan oleh tokoh agama setempat, lantas dimakan bersama-sama.

Untuk jenis kopi yang di tanam di Pegunungan Muria berupa robusta. Dengan harga jual Rp 500 ribu per 1 kwintal kopi brongkol atau buah kopi habis dipanen.

“Satu kwintal kopi brongkol dihargai Rp 500 ribu dari pengepul. Kalau kopi kering beras seharga Rp 25 ribu perkilo,” tandasnya.(yy/ym)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.