Tanpa Dialog, “Jala dan Jana” Sampaikan Pesan Ekologi Lewat Teater Boneka

oleh -333 Dilihat
Foto: ist

KUDUS, ISKNEWS.COM – Pertunjukan teater boneka “Jala dan Jana” berhasil menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam tanpa mengandalkan dialog. Mengandalkan gerak tubuh, visual, boneka, kain, dan bunyi gemericik air, pementasan yang digelar di Panggung Ngepringan, Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW), Kudus, Sabtu (18/7/2026) malam itu mengajak penonton merenungkan kembali makna sungai sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Selama kurang lebih 30 menit, Flying Balloons Puppet bersama KBPW menghadirkan pertunjukan yang mengangkat mitos sungai sebagai medium untuk menyampaikan pesan ekologis. Tanpa sepatah kata pun terucap, alur cerita tetap mampu dipahami melalui perpaduan visual, pergerakan pemain, serta permainan boneka yang sarat makna.

Sutradara pertunjukan, Rangga Dwi Apriadinnur, mengatakan karya tersebut berangkat dari cerita rakyat mengenai ular berkepala kerbau dan buaya putih yang dipercaya hidup di sungai. Menurutnya, mitos tidak semestinya dipahami hanya sebagai kisah mistis, melainkan juga sebagai warisan pengetahuan masyarakat dalam menjaga keseimbangan alam.

“Bagi kami, mitos merupakan produk pengetahuan yang lahir dari sungai. Di dalamnya ada pesan agar manusia memahami bahaya sungai, banjir, sekaligus pentingnya menjaga alam,” ujarnya.

Rangga menjelaskan, kata Jala berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti air. Filosofi tersebut menjadi dasar lahirnya pertunjukan yang menggambarkan hubungan manusia dengan air sebagai ikatan yang terus berlangsung dan selalu berkembang mengikuti perubahan zaman.

Menurutnya, proses kreatif “Jala dan Jana” juga terus berevolusi. Sejak pertama kali dipentaskan pada 2018 dalam sebuah festival di Solo bersama seniman asal Australia, karya tersebut terus mengalami penyempurnaan, baik dari sisi visual maupun pendekatan artistik.

“Karya ini seperti seniman, akan terus tumbuh. Kami selalu melihat kembali dari sudut pandang yang berbeda, mencari visual dan perspektif baru,” katanya.

Selain menyampaikan pesan pelestarian lingkungan, pertunjukan itu juga dirancang agar dapat dinikmati anak-anak tanpa harus menggunakan pendekatan yang terkesan menggurui. Melalui kekuatan visual dan boneka, penonton diajak membangun imajinasi secara bebas tanpa dibatasi narasi verbal.

“Kami tidak pernah meragukan imajinasi anak. Benda-benda sederhana di rumah pun bisa menjadi media untuk membangun cerita. Yang penting adalah bagaimana mereka memvisualisasikan imajinasinya,” jelas Rangga.

Ia menambahkan, dalam teater boneka, hubungan antara pemain dan boneka tidak hanya sebatas subjek dan objek. Setiap benda, menurutnya, memiliki karakter, memori, dan cara berkomunikasi yang harus dipahami oleh para pemain selama proses penciptaan karya.

“Setiap objek memiliki cerita, memori, dan cara berkomunikasi. Itu yang terus kami pelajari dalam proses berkarya,” tandasnya.

Sementara itu, Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan, Jessy Segitiga, mengaku terkesan dengan kekuatan pertunjukan yang mampu menyampaikan pesan mendalam melalui bahasa visual. Baginya, minimnya dialog justru membuat makna yang ingin disampaikan terasa lebih kuat.

“Saya seperti ditampar. Sering kali pertunjukan dipenuhi kata-kata, tetapi justru kosong. Di sini tidak ada dialog, tetapi ketubuhan dan visual mampu berbicara sangat jujur hingga pesannya sampai kepada penonton,” ungkapnya.

Jessy menilai pendekatan teater boneka yang memberikan ruang luas bagi imajinasi anak layak dikembangkan sebagai bagian dari metode pendidikan. Menurutnya, pilihan artistik yang digunakan juga selaras dengan tema sungai sebagai ruh pertunjukan.

Melalui “Jala dan Jana“, Flying Balloons Puppet menunjukkan bahwa isu lingkungan dapat disampaikan secara sederhana namun tetap kuat. Tanpa dialog, pertunjukan tersebut menghadirkan pengalaman visual yang mengajak penonton membaca ulang hubungan manusia dengan alam sekaligus menyadari pentingnya menjaga kelestarian sungai sebagai sumber kehidupan. (AS/YM)