Tradisi Haul Mbah Syekh Sultan Kamaludin Terus Lestari, Warga Dukuh Jetak Kedungdowo Kudus Gelar Kirab Budaya

oleh -476 Dilihat
Tradisi Haul Mbah Syekh Sultan Kamaludin terus dilestarikan oleh masyarakat Dukuh Jetak, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. (Foto: ist)

KUDUS, ISKNEWS.com – Tradisi Haul Mbah Syekh Sultan Kamaludin terus dilestarikan oleh masyarakat Dukuh Jetak, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Salah satu rangkaian utama dalam peringatan tahunan tersebut adalah kirab budaya yang melibatkan seluruh warga sebagai wujud penghormatan kepada tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal Dukuh Jetak sekaligus ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.

Sesepuh Dukuh Jetak, H. Ali Ihsan, mengatakan tradisi haul telah berlangsung secara turun-temurun dan hingga kini tetap dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat. Setiap tahun, kirab budaya menjadi agenda yang selalu dinantikan karena mampu mempererat kebersamaan sekaligus menjaga warisan budaya leluhur.

“Hari ini kita melaksanakan kirab budaya dalam rangka haul Mbah Syekh Sultan Kamaludin. Kirab budaya ini sudah bertahun-tahun berjalan secara kontinu dan diikuti oleh seluruh masyarakat Dukuh Jetak,” ujarnya saat ditemui, Minggu (28/6/2026).

Ia menjelaskan, sebelum kirab budaya digelar, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan prosesi buka luwur atau pelepasan kain penutup makam lama untuk kemudian diganti dengan luwur baru. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan kepada Mbah Syekh Sultan Kamaludin yang makamnya berada di Dukuh Jetak.

Selain kirab budaya, rangkaian haul juga diisi kegiatan keagamaan. Sebanyak 15 musala di Dukuh Jetak secara serentak menggelar khataman Al-Qur’an 30 juz sebagai bentuk doa bersama untuk memohon keberkahan bagi masyarakat.

“Di masing-masing musala mengadakan khataman Al-Qur’an 30 juz. Ada 15 musala yang melaksanakannya secara bersama-sama,” katanya.

Kirab budaya tahun ini diikuti dua RW yang terdiri atas 18 RT. Masing-masing RT menampilkan gunungan berisi aneka hasil bumi yang diarak mengelilingi kampung. Gunungan tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas rezeki dan hasil panen yang diberikan Allah SWT.

“Gunungan itu merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat atas rezeki dan hasil bumi yang diberikan Allah SWT. Setelah disusun, semuanya dikirab bersama-sama,” ungkap Ali Ihsan.

Rangkaian haul masih akan berlanjut pada 29–30 Juni 2026 dengan kegiatan ziarah ke lembaga pendidikan di Dukuh Jetak. Selanjutnya, pada 1 Juli 2026, masyarakat akan melaksanakan prosesi pemasangan luwur, dilanjutkan ziarah umum serta pembagian nasi berkah kepada masyarakat.

Puncak haul akan ditandai dengan penyembelihan seekor kerbau dan beberapa ekor kambing yang kemudian diolah menjadi nasi barokah untuk dibagikan kepada warga. Seluruh rangkaian kegiatan akan ditutup dengan pengajian umum yang menghadirkan KH. Ahmad Badawi Basyir dari Kudus pada malam 17 Muharam 1448 Hijriah.

Ali Ihsan menuturkan, makam yang kini dikenal sebagai makam Mbah Syekh Sultan Kamaludin memiliki sejarah panjang. Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, makam tersebut pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang warga Dukuh Jetak bernama Mbah Ngasiman saat sedang mencangkul tanah. Saat ditemukan, jasad di dalam makam disebut masih utuh beserta kain kafannya sehingga warga kemudian membersihkan lokasi tersebut dan melaksanakan salat jenazah sebagai bentuk penghormatan.

“Awalnya masyarakat meyakini beliau sebagai Mbah Jogo yang menjaga dan menjadi cikal bakal Dukuh Jetak. Kemudian ada beberapa ulama yang menyampaikan bahwa makam ini merupakan makam Mbah Syekh Sultan Kamaludin,” jelasnya.

Menurutnya, keyakinan tersebut diperkuat oleh keterangan sejumlah tokoh agama, di antaranya Mbah Doro Umar dan seorang wali dari Grabag, Magelang, Mbah Yusuf, yang menyebut sosok yang dimakamkan di tempat tersebut adalah Syekh Sultan Kamaludin. Sejak saat itu, masyarakat secara rutin memperingati haul setiap 17 Muharam sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengenang jasa tokoh yang diyakini memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Dukuh Jetak.

Ali Ihsan juga menjelaskan asal-usul penamaan Dukuh Jetak yang masih terus diceritakan dari generasi ke generasi. Menurutnya, nama “Jetak” berasal dari kondisi tanah yang dahulu dipenuhi gamping berwarna putih sehingga tampak mencolok dari kejauhan. Dalam bahasa setempat, kondisi tersebut dikenal dengan istilah njet atau ngetak-ngetak, yang kemudian berkembang menjadi sebutan Jetak.

Selain itu, masyarakat juga mewariskan kisah tentang perjalanan Sultan Hadirin yang dikaitkan dengan wilayah Kaliwungu. Berbagai cerita tersebut, kata Ali Ihsan, menjadi bagian dari sejarah lisan yang terus dijaga sebagai identitas masyarakat Dukuh Jetak sekaligus memperkuat semangat melestarikan tradisi haul dan kirab budaya yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. (AS/YM)