Tradisi “Unjung” Konsep Alternatif Membangun Silaturahmi

oleh -1,524 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Tradisi unjung atau saling bersilaturahmi masih terus berlangsung di tengah-tengah kita hingga hari ketiga lebaran ini,. Meski hari raya telah usai, semangat saling melebur dalam maaf dan memaafkan terus digalakkan.

Bukan hal yang asing, jika halalbihalal menjadi sebuah tradisi yang mengakar dan melintasi zaman serta generasi. Bahkan halalbihalal seakan menjadi khazanah (kekayaan) tersendiri bagi bangsa kita.

Herry Koestiyanto, pengamat kebudayaan dan anggota salah satu organisasi pranotocoro  di Kudus menjelaskan, Sebagai tradisi, halalbihalal menyajikan beragam makna bagi setiap muslim, “tak terkecuali bagi kita, tradisi halalbihalal dari prespektif kebudayaan merupakan salah satu sisi yang positif dari peninggalan masa lalu yang masih dipertahankan sampai sekarang,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Senin (26/6/17)

Menurutnya, Seorang budayawan terkenal Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.
Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global. Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan.
Yang ada hanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tanda keakraban.
Menurut tuntunan ajaran Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera minta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah SWT lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (Alquran Surat Ali Imran ayat 134).

“Sebenarnya, halalbihalal merupakan pembudayaan dari apa yang di kampung-kampung disebut dengan unjung-unjung (berkunjung, red), ketika hari raya idul fitri tiba. Sehingga, ketika masyarakat masih agragria, unjung-unjung masih memungkinkan,” jelasnya saat dijumpai diruang kerja.

Dalam budaya Jawa, seseorang “sungkem” kepada orang yang lebih tua adalah suatu perbuatan yang terpuji. Sungkem bukannya simbol kerendahan derajat, melainkan justru menunjukkan perilaku utama. Tujuan sungkem, pertama, adalah sebagai lambang penghormatan, dan kedua, sebagai permohonan maaf, atau “nyuwun ngapura”. Istilah “ngapura” tampaknya berasal dari bahasa Arab “ghafura”.
Para ulama di Jawa tampaknya ingin benar mewujudkan tujuan puasa Ramadan. Selain untuk meningkatkan iman dan takwa, juga mengharapkan agar dosa-dosanya di waktu yang lampau diampuni oleh Allah SWT. Seseorang yang merasa berdosa kepada Allah SWT bisa langsung mohon pengampunan kepada-Nya. Tetapi, apakah semua dosanya bisa terhapus jika dia masih bersalah kepada orangorang lain yang dia belum minta maaf kepada mereka?
Nah, di sinilah para ulama mempunyai ide, bahwa di hari Lebaran itu antara seorang dengan yang lain perlu saling memaafkan kesalahan masingmasing, yang kemudian dilaksanakan secara kolektif dalam bentuk halal bihalal. Jadi, disebut hari Lebaran, karena puasa telah lebar (selesai), dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus).
Dari uraian di muka dapat dimengerti, bahwa tradisi Lebaran berikut halal bihalal merupakan perpaduan antara unsur budaya Jawa dan budaya Islam.

“Namun, ketika masyarakat bergeser ke arah modern, dimana pihak yang di kunjungi semakin membengkak. Hal tersebut kemudian yang menjadikan halalbihalal sebagai konsep alternatif untuk membangun silaturahmi sekaligus saling memaafkan ketika puasa telah usai,” imbuhnya.

Meski demikian, priya yang juga aktifis pertanian organik tersebut menambahkan, bahwa ketika halalbihalal digalakkan, bukan berarti tradisi unjung-unjung menjadi tidak penting. “Hal ini (unjung-unjung, red) merupakan hal penting, terkhusus bagi masyarakat nusantara. Maka dari itu, mudik juga menjadi tradisi penting tahunan,” serunya.

halalbihalal merupakan proses antar orang dengan koleganya untuk saling bertemu dan memaafkan. Halalbihalal baginya bisa menjadi wadah untuk memulai kehidupan baru, untuk mengatur spirit baru ke depannya. “Puasa itu identik dengan tirakat. Sehingga harapannya, orang yang selesai puasa mempunyai spirit baru dengan adanya kegiatan tersebut,” pungkasnya. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :