Kudus, isknews.com – Khazanah Budaya Indonesia yang beragam sepatutnya kita bangga dan mensyukuri keberadaannya dengan cara “Nguri-Uri” atau melestarikannya. Seperti yang dilakukan masyarakat dukuh Pedak desa Klumpit kecamatan Gebog pada Jum’at (4/8/2017).
H. Ahmad Fauzi, ketua panitia penyelenggara kepada isknews.com mengatakan, Tradisi Apitan bagi masyarakat dukuh pedak menjadi momen yang ditunggu tunggu setiap tahunnya. Namun untuk tahun ini diadakan lebih meriah dibanding tahun sebelummya. Dimana kirab arak-arakan hasil bumi dari 6 Musholla berangkat ke Masjid Jami’ Baitul Muttaqin. Setelah berkumpul semua, baru keliling satu dukuh, kemudian baru di bagikan ke masyarakat dan bukan dengan cara rebutan.

“Masing-masing dari 6 Mushola yang diikuti anak-anak dari TPQ dan RTQ Sabilul Huda di dukuh Pedak membawa kirab yang dihiasi berbagai macam pernak pernik dan hasil bumi diantaranya ketela pohong, wortel, salak, pisang, jagung, ketimun, sayur dsb,” imbuhnya.
Dikatakan oleh Fauzi, Pada intinya, kegiatan ini untuk mengingat kepada Sang Pencipta, Allah SWT, yang telah memberikan rahmat-NYA kepada manusia di muka bumi ini, khususnya kepada kelompok petani yang hidupnya bertopang pada hasil bumi. Mereka percaya bahwa dengan bersyukur maka Allah SWT akan menambah kenikmatan-kenikmatan lagi, Allah akan menyuburkan tanah mereka, Allah akan menambah hasil panen mereka, dan Allah akan menghilangkan “paceklik” pada hasil bumi mereka. Maka dari itu, masyarakat dengan sadar dan penuh semangat melakukan kegiatan Apitan ini, meskipun dengan cara yang sederhana.
Kemudian, pada malam harinya setelah sholat maghrib diadakan tahlil umum yang dipimpin ulama setempat, kemudian dibagikan 600 nasi kepel yang terbuat dari daun jati. Setelah sholat isya’ berjama’ah dilanjutkan pembacaan sholawat nabi yang diiringi terbang papat. “Dengan rangkaian acara diatas, masyarakat ikut mencintai khazanah budaya dengan cara “Nguri-Uri” atau melestarikannya,” ungkapnya
Dijelaskannnya, acara apitan ini diadakan jum’at kedua pada bulan Apit atau Dzhulqo’dah. Bulan Apit, yaitu bulan diantara dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha, apit artinya terjepit, terjepit diantara dua hari raya), dan bulan APIT (tulisan Jawa = HAPIT) itu nama bulan setelah bulan Syawal (urutannya adalah bulan Puasa, Syawal, Hapit, Besar, dst). Sebagaimana halal bihalal yang dilakukan pada bulan Syawal, orang Jawa ada yang menyebutnya sebagai acara Syawalan, demikian pula Sedekah Bumi karena dilaksanakan bulan Hapit, maka disebut APITAN atau HAPITAN. ” itu adalah penjelasan dari para sesepuh. (AJ)









