Kudus, isknews.com – Di tengah arus kuliner modern yang semakin beragam, Gethuk Dalangan yang berlokasi di Barongan, Kecamatan Kota Kudus, tetap eksis sebagai pilihan kudapan tradisional yang diminati masyarakat. Tak hanya menawarkan cita rasa otentik, usaha ini juga menyimpan sejarah panjang yang telah diwariskan secara turun-temurun selama tiga generasi.
Gethuk Dalangan kini dikelola oleh Imah (47), penerus usaha keluarga yang sudah berdiri sejak sekitar tahun 1981. Menurut penuturannya, usaha ini awalnya dirintis oleh buyutnya, kemudian diteruskan oleh sang ibu, dan kini dilanjutkan oleh Imah.
“Yang asli kan bukan saya yang mendirikan, tapi saya hanya meneruskan. Kayanya dulu itu ada dari sekitar tahun 1981. Kalau saya, mulai meneruskan sejak tahun 2006. Jadi sudah sekitar 19 tahun,” jelasnya saat ditemui pada Sabtu (26/7/2025).
Ragam jajanan tradisional yang dijual pun cukup beragam. Selain gethuk, terdapat juga puli, ketan, mata belong, dan lupis. Seluruh proses pembuatan dilakukan secara mandiri di rumah. Imah menyebut, proses memasak dimulai sejak pukul 02.30 WIB dan siap disajikan pukul 09.00 WIB.
Dalam satu hari, Imah bisa menyediakan hingga seribu porsi jajanan. Pada hari-hari biasa, terutama saat anak sekolah sudah masuk, jumlah pembeli memang tidak seramai hari libur. Namun, permintaan tetap stabil. Mayoritas pembeli datang dari kalangan ibu rumah tangga dan pegawai kantoran yang bekerja di sekitar Kudus.
“Kalau rame itu biasanya disediakan seribu porsi. Kadang ya habis 900, kadang seribu juga bisa habis,” ujarnya.
Sementara itu, pembeli dari kalangan anak muda terbilang lebih sedikit. Biasanya mereka membeli dalam jumlah kecil untuk teman ngopi atau sekadar nostalgia dengan jajanan masa kecil. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian kuliner tradisional.
Kendala lain yang dihadapi dalam proses produksi adalah kondisi cuaca. Saat suhu udara tinggi, kualitas bahan baku seperti singkong bisa berubah, membuat tekstur menjadi lebih keras. Meski begitu, Imah memastikan bahwa hal ini tidak mempengaruhi cita rasa secara signifikan.
Konsistensi dalam menjaga kualitas juga tampak dari perhatian Imah terhadap bahan pewarna yang digunakan, terutama untuk jajanan mata belong yang memiliki warna mencolok. Imah menjelaskan bahwa ia hanya menggunakan pewarna makanan yang aman dikonsumsi.
Meskipun terkadang konsumen protes terhadap warna mata belong yang dianggap kurang menarik, Imah tetap teguh pada pendiriannya untuk menggunakan pewarna makanan yang aman.
“Saya maunya generasi kita nggak makan makanan yang cepat saji gitu sih. Ini kan lebih sehat. Harapannya anak-anak muda beli makanan tradisional seperti gethuk ini,” tutupnya. (Nayla)







