Kudus, isknews.com – Wayang Klithik Wonosoco, salah satu seni pedalangan kayu tertua di Jawa Tengah, kini berada di ambang kepunahan. Seni tradisi yang telah hidup ratusan tahun di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tersebut saat ini hanya memiliki satu dalang aktif, yakni Ki Dalang Sutikno, generasi kedelapan pewaris Wayang Klithik Wonosoco.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya program pelestarian budaya bertajuk “Sang Dalang Terakhir”, yang berfokus pada dokumentasi melalui film dokumenter, penguatan ruang pertunjukan, serta kegiatan edukatif untuk menjaga keberlanjutan Wayang Klithik Wonosoco. Program ini mendapat dukungan Dana Indonesiana melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai bentuk komitmen negara dalam melindungi tradisi yang terancam putus regenerasinya.
Penggagas program, Bustomy Rifa Aljauhari, menegaskan bahwa Wayang Klithik Wonosoco tidak dapat dipandang sekadar sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai bagian dari ekosistem budaya hidup yang masih relevan hingga kini.
“Wayang Klithik adalah pengetahuan hidup yang diwariskan lintas generasi. Ia menyimpan cara pandang masyarakat desa terhadap alam, sejarah, kekuasaan, dan nilai-nilai kehidupan. Jika berhenti dipentaskan, yang hilang bukan hanya kesenian, tetapi juga ingatan kolektif masyarakat,” ujarnya.
Wayang Klithik Wonosoco memiliki keterkaitan erat dengan ritual merti sumber serta sejarah pelestarian mata air di kawasan Pegunungan Kendeng Utara. Berbeda dengan wayang yang bersumber dari epos India, lakon Wayang Klithik Wonosoco berakar pada babad tanah Jawa, merekam konflik kekuasaan lokal serta pesan moral yang kontekstual dengan kehidupan masyarakat desa.
Sementara itu, Ki Dalang Sutikno mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan tradisi yang telah diwariskan leluhurnya tersebut.
“Wayang Klithik bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah amanat dari para leluhur. Tanpa keberlanjutan, Wayang Klithik berisiko berhenti sebagai benda mati yang kehilangan ruhnya,” tuturnya.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Kudus. Bupati Kudus Dr. Ars. Sam’ani Intakoris, S.T., M.T., menyatakan bahwa program Sang Dalang Terakhir sejalan dengan upaya pelestarian warisan budaya daerah. Pemerintah berharap program ini mampu mendorong lahirnya generasi penerus, baik sebagai dalang, pelaku seni, maupun dokumentator tradisi.
Selain itu, Pemkab Kudus menekankan pentingnya penyediaan ruang penyimpanan dan perawatan yang layak bagi wayang klithik asli yang telah berusia ratusan tahun.
Sebagai puncak kegiatan, akan digelar Pementasan Wayang Klithik Wonosoco yang terbuka untuk umum pada:
- Hari/Tanggal: Sabtu, 10 Januari 2026
- Waktu: 18.30 WIB – selesai
- Lokasi: Taman Padang Mbulan Wates, Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus
Pementasan tersebut akan menghadirkan lakon baru sebagai refleksi perkembangan zaman, sekaligus menegaskan bahwa Wayang Klithik Wonosoco masih memiliki ruang hidup dan relevansi di tengah dinamika masyarakat modern.
Melalui kolaborasi antara masyarakat, penggiat budaya, dan pemerintah daerah, Wayang Klithik Wonosoco diharapkan tidak hanya terjaga sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup sebagai bagian dari identitas budaya Kabupaten Kudus. (AS/YM)







