KUDUS, ISKNEWS.com – Yayasan Bina Pelayanan Masehi (YBPM) Kudus membekali semua pegawainya dengan keterampilan penanganan kegawatdaruratan melalui Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD). Pelatihan yang digelar bekerja sama dengan RS Mardi Rahayu Kudus tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan seluruh pegawai saat menghadapi kondisi darurat, khususnya di lingkungan sekolah.
Kegiatan berlangsung di RS Mardi Rahayu Kudus pada Jumat (3/7/2026). Pelatihan diikuti guru, tenaga kependidikan, serta pegawai lainnya dari berbagai unit di bawah naungan YBPM Kudus.
Direktur SDM dan Umum YBPM Kudus, Ratna Widhayanti, SST, mengatakan pelatihan ini merupakan bentuk komitmen yayasan dalam meningkatkan kompetensi seluruh pegawai agar mampu memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat ketika terjadi situasi kegawatdaruratan.
Menurutnya, semua pegawai, khususnya guru, merupakan pihak yang setiap hari berinteraksi langsung dengan siswa. Oleh karena itu, mereka perlu memiliki keterampilan dasar sebagai bekal untuk melakukan penanganan awal apabila sewaktu-waktu terjadi insiden yang membutuhkan tindakan segera sebelum pasien mendapatkan bantuan tenaga medis.
“Kami ingin seluruh pegawai memiliki tambahan keterampilan yang bermanfaat, sehingga ketika menjumpai kasus kegawatdaruratan mereka tidak panik dan mampu memberikan pertolongan pertama sesuai prosedur yang benar,” ujar Widha.
Dalam pelatihan tersebut, YBPM menghadirkan narasumber dr. Victor Kurniawan Chandra S bersama tim perawat Unit Gawat Darurat (UGD) RS Mardi Rahayu. Peserta tidak hanya memperoleh materi teori, tetapi juga praktik langsung mengenai teknik Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan langkah-langkah penanganan awal pada pasien dalam kondisi gawat darurat.
Dr. Victor menjelaskan bahwa setiap orang sebenarnya dapat memberikan pertolongan pertama kepada korban, asalkan memahami prinsip-prinsip dasar Bantuan Hidup Dasar. Pengetahuan tersebut sangat penting, terutama ketika menghadapi pasien yang mengalami henti jantung.
Ia menegaskan, pada kasus henti jantung terdapat masa emas (golden time) yang sangat menentukan peluang keselamatan pasien. Karena itu, tindakan awal tidak harus menunggu tenaga medis datang. Orang awam yang telah mendapatkan pelatihan dapat melakukan pertolongan sesuai prosedur sembari menunggu penanganan lanjutan.
Melalui pelatihan ini, YBPM Kudus berharap seluruh guru dan pegawai semakin sigap dalam menghadapi berbagai kondisi darurat, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Bekal pengetahuan dan keterampilan tersebut diharapkan mampu meningkatkan peluang keselamatan korban melalui pemberian pertolongan pertama yang cepat, tepat, dan sesuai standar. (AS/YM)






