25 Santri PTYQR Kudus Ikuti Haflah Usai Lalui Ujian Ketat Hafalan Al-Qur’an 30 Juz

oleh -13 Dilihat
Sebanyak 25 santri Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Remaja (PTYQR) Kudus mengikuti Haflatul Hidzaq ke-28 setelah dinyatakan lulus ujian hafalan 30 juz Al-Qur’an. Prosesi ini menjadi puncak perjuangan panjang para santri dalam menghafal dan menjaga kemurnian Al-Qur’an. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM

Kudus, isknews.com – Sebanyak 25 santri Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Remaja (PTYQR) Bejen Kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus, berhasil mengikuti Haflatul Hidzaq ke-28 setelah melewati ujian ketat hafalan 30 juz Al-Qur’an. Momen ini menjadi puncak perjalanan panjang para santri dalam menuntaskan hafalan sekaligus membuktikan kualitas bacaan mereka.

Ketua Panitia, Anang Ma’ruf, menjelaskan bahwa peserta haflah tidak hanya dituntut menyelesaikan hafalan, tetapi juga harus lolos tahapan evaluasi yang cukup berat.

“Yang ikut haflah ini adalah santri yang sudah khatam dan telah melewati proses tes. Jadi tidak semua yang selesai hafalan bisa langsung ikut,” ujarnya.

Ia menuturkan, proses dimulai dari setoran hafalan secara bertahap kepada masing-masing ustaz, mulai dari satu halaman hingga akhirnya genap 30 juz. Namun, setelah dinyatakan khatam, santri masih harus menjalani ujian lanjutan.

“Mereka wajib mengikuti tes membaca 30 juz secara bil ghaib dalam satu kesempatan. Ini yang menjadi penentu apakah santri bisa mengikuti haflah atau belum,” jelasnya.

Proses penilaian dilakukan oleh para guru pondok yang menyimak hafalan santri secara langsung. Sementara itu, keputusan akhir terkait kelulusan ditetapkan oleh pengasuh pondok.

“Yang menyemak para guru, tapi keputusan akhir tetap dari romo kiai,” tambahnya.

Anang mengungkapkan, setiap santri memiliki proses yang berbeda dalam menghafal. Ada yang mampu menyelesaikan setoran dalam waktu relatif cepat, namun belum tentu langsung lulus ujian akhir.

“Ada yang sudah khatam setoran dalam beberapa tahun, tetapi belum siap membaca 30 juz sekaligus. Jadi harus menunda ikut haflah,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa peserta tahun ini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, hingga luar Jawa seperti Kalimantan, Palembang, dan wilayah Indonesia timur.

“Peserta cukup beragam, dari berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.

Selain fokus pada hafalan Al-Qur’an, para santri juga tetap menempuh pendidikan formal. Sebagian masih berada di jenjang aliyah, sementara lainnya mengikuti program Pendidikan Diniyah Formal (PDF) yang berbasis keagamaan.

“PDF ini tetap memberikan ijazah formal, namun lebih menekankan pada penguasaan ilmu agama dan kitab,” jelasnya.

Sementara itu, Pengasuh PTYQR Kudus, KH. M. Ulin Nuha Arwani, berpesan agar para santri tidak berhenti pada hafalan semata, tetapi juga terus memperdalam pemahaman Al-Qur’an.

“Dalam mempelajari Al-Qur’an harus melibatkan lisan, akal, dan hati. Lisan untuk membaca, akal untuk memahami, dan hati untuk merasakan,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya mempelajari ilmu alat seperti nahwu, shorof, dan balaghah agar makna Al-Qur’an dapat dipahami secara utuh dan diamalkan dalam kehidupan.

“Dengan bekal ilmu tersebut, diharapkan santri mampu mengamalkan ajaran Al-Qur’an secara benar,” pesannya.

Di akhir, ia mengingatkan agar Al-Qur’an tidak dimanfaatkan semata-mata untuk kepentingan duniawi.

“Jangan sampai Al-Qur’an hanya dijadikan alat untuk mencari dunia yang tidak bernilai. Jadikan sebagai pedoman hidup,” pungkasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :