500 Lebih Pedagang “Mremo” Pada Even Dandhangan 2017 Kudus

oleh -2,470 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Dandhangan adalah sebuah even tradisional yang secara rutin digelar setiap menjelang datangnya bulan Ramadan di Kabupaten Kudus, sebuah pasar malam dengan serangkaian lapak para pedagang yang ikut “mremo” memeriahkan even tahunan yang menjadi penanda hadirnya bulan puasa ini, mremo adalah bahasa khas Kudus yang kurang lebih mengandung arti “ikut ambil peran” namun dalam konteks komersial, bisnis dan ke wirausahaan.

Kegiatan yang bakal berlangsung hingga 25 Mei 2017 itu diperkirakan akan menampung partisipasi dari hampir 500 an lebih pedagang baik lokal maupun dari luar kota, pelaksanaan agenda tahunan Kudus itu diungkapkan Kepala Bidang Pedagang Kaki Lima (PKL) Dinas Perdagangan Kudus, Sofyan Duhri di Kudus, Senin (17/4/17).

“Kemungkinan besar jumlah para pedagang itu akan terus bertambah, karena tahun sebelumnya juga menyediakan khusus gerai untuk pelaku usaha mikro kecil menengah [UMKM] dari luar kota serta pedagang luar daerah juga banyak sering berlangganan berjualan di perayaan Dandhangan ini,” ujarnnya.

Para pedagang itu sebagian  berjualan secara lesehan dan sebagian lagi berjualan dengan tenda atau gerai yang disediakan oleh Dinas Perdagangan, untuk menampung ratusan pedagang tersebut pada Dandhangan tahun 2017 ini kami sudah menyediakan gerai yang disewakan kepada pedagang serta menyiapkan lahan lesehan untuk para pedagang yang hendak berjualan secara lesehan. Adapun ukuran setiap gerai, kata dia, bervariasi, karena disesuaikan dengan jenis komoditas yang dijual

Beaya retribusinya, kata dia, setiap meter persegi senilai Rp2.000/hari. Angka itu ditetapkan sesuai Peraturan Bupati Kuudus No. 12/2012 tentang Pemakaian Kekayaan Daerah. Harga sewa tersebut, belum termasuk retribusi sampah dan biaya listrik. Terkait dengan retribusi sampah, berdasarkan Perbub No. 12/2010 tentang Retribusi Sampah dijelaskan bahwa tarifnya untuk setiap meter persegi senilai Rp60/hari.

Gerai-gerai yang disediakan Dinas Perdagangan Kudus tersebar di Jl. Sunan Kudus, Jl. Madureksan, Jl. Kiai Telingsing, Jl. Pangeran Puger, Jl. Wahid Hasyim, Jl. K.H. A. Dahlan, Jl. Menara, serta sepanjang jalur jalan Kudus-Jepara. Para pedagang kaki lima yang sebelumnya berjualan di sepanjang jalan yang digunakan even Dandhangan akan dialihkan ke tempat lain seperti ke Jl. Sunan Kudus mulai perempatan Ba’agil ke arah timur.

Panitia juga menyiapkan tenaga medis dan mobil ambulans serta mobil pemadam kebakaran guna antisipasi kebakaran serta bantuan medis. Sedangkan, untuk pengalihan arus lalu lintas yang sebelumnya melintas di Jl. Sunan Kudus, katanya, menunggu hasil koordinasi dengan dinas terkait.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya pada batas hari terakhir para pedagang menggelar “mremo” dagangannya, di Kudus juga dilangsungkan prosesi Kirab Dandhangan, untuk menandai awal puasa Ramadhan, yang menampilkan potensi budaya beberapa desa di Kudus dengan rute kirab di jalan-jalan protokol kota itu. Setibanya di alun-alun, peserta kirab memperagakan adegan yang menceritakan perkembangan Islam secara sederhana.

Seremonial tersebut biasanya ditutup dengan pemukulan bedug yang dilakukan oleh pejabat instansi terkait, sekaligus dimulainya awal puasa bulan Ramadan. Kendati terbilang sederhana, terbuka acara tradisi tahunan yang bakal digelar juga pada awal  ini tetap memiliki daya tarik wisata yang potensial jadi andalan Kudus.

Tak hanya kirab Dandhangan saja, pada even tahun ini juga di gelar Bazaar batik Jawa Tengah, dimana pada tahun ini ada 25 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang ikut memamerkan dan mempromosikan batik khas wilayahnya selama even Dandangan.

“Ini merupakan tambahan atau inovasi di Dandangan tahun ini. Inovasi terus dilakukan untuk menyuguhkan hal yang baru kepada masyarakat.

Dengan adanya batik, lanjut dia, maka warga yang hendak membeli batik dari daerah lain di Jateng, bisa mengunjungi lokasi Dandangan. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :