Kudus, isknews.com – Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Kudus resmi menyatakan langkah besar dengan melepaskan diri dari induk organisasi lama dan mendeklarasikan kemandirian, Sabtu (11/4/2026).
Momentum ini menjadi penanda babak baru bagi IGABA untuk berdiri lebih mandiri sekaligus memperkuat sinergi dalam memajukan pendidikan anak usia dini.
Deklarasi yang digelar di Aula Muhammadiyah Kudus tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Milad ‘Aisyiyah ke-109, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi pijakan strategis dalam mempertegas arah organisasi ke depan.
Sebagai organisasi profesi yang berdiri sejak 10 Oktober 1997, IGABA selama ini berperan dalam pembinaan guru dan pengembangan pendidikan anak usia dini di lingkungan ‘Aisyiyah. Dalam struktur kelembagaan, IGABA menjadi kepanjangan tangan Majelis PAUD Dasmen ‘Aisyiyah dalam meningkatkan mutu tenaga pendidik.
Acara tersebut dihadiri berbagai unsur pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus, Kementerian Agama, Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah, hingga organisasi mitra seperti IGTKI, HIMPAUDI, dan IGRA.
Koordinator Majelis PAUD Dasmen PDA Kabupaten Kudus, Fajar Sri Utami, menegaskan bahwa kemandirian IGABA harus dibarengi dengan penguatan tata kelola organisasi. Ia juga mendorong agar IGABA tetap menjalin kerja sama dengan organisasi mitra demi kemajuan pendidikan anak usia dini di Kudus.
Dalam kesempatan itu, IGABA Kudus turut menyampaikan permohonan izin dan doa restu untuk melepaskan diri dari organisasi induk sebelumnya, yakni IGTKI dan HIMPAUDI di Kabupaten Kudus.
Ketua Majelis PAUD Dasmen PDA Kudus, Dian Handayani, mengingatkan bahwa gerakan pendidikan ‘Aisyiyah memiliki akar sejarah panjang. Sejak berdirinya TK Bustanul Athfal pertama pada 1919 di Kauman, Yogyakarta, ‘Aisyiyah telah berkomitmen menghadirkan pendidikan bagi anak-anak dengan nilai keislaman, kebangsaan, dan cinta tanah air.
“Sejak awal, TK ABA hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan anak-anak pribumi agar mendapatkan akses pendidikan yang layak,” ujarnya.
Ketua IGABA Kudus, Noor Sitayah, menyampaikan bahwa kemandirian ini diharapkan mampu mendorong peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan PAUD ‘Aisyiyah secara lebih optimal.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang PAUD Dikmas Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho, menilai langkah IGABA harus menjadi titik awal kontribusi yang lebih besar bagi dunia pendidikan.
“Paradigma yang dibangun bukan bersaing, tetapi bersanding. Organisasi mitra bukan kompetitor, melainkan bersama-sama mewujudkan guru berkualitas dan sekolah yang aman,” tegasnya.
Ia menambahkan, Disdikpora Kudus menyambut baik kemandirian IGABA dan berharap organisasi tersebut mampu bersinergi dengan berbagai pihak dalam membangun ekosistem pendidikan anak usia dini yang lebih baik.
Dengan deklarasi ini, IGABA Kabupaten Kudus diharapkan semakin kuat secara kelembagaan, mampu meningkatkan kompetensi anggotanya, serta menjadi garda terdepan dalam kolaborasi pendidikan anak usia dini di Kabupaten Kudus. (YM/YM)










