Kreatif! Karang Taruna Budi Luhur Desa Terban Luncurkan “LT-Mod”, Hidupkan Kembali Ruang Kebersamaan Lewat Layar Tancep Modern

oleh -644 Dilihat
Nonton bareng LT-Mod (Layar Tancep Modern) yang berpusat di pelataran Aula Balai Desa Terban. (Foto: Istimewa)

KUDUS, isknews.com – 23 MEI 2026, Di era di mana masyarakat lebih sering menghabiskan waktu di depan layar gadget masing-masing, Karang Taruna Budi Luhur Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, mengambil inisiatif segar untuk merekatkan kembali hubungan antarwarga.

Pada Sabtu (23/5/2026) malam, para pemuda ini resmi meluncurkan program inovatif bernama “LT-Mod” (Layar Tancep Modern) yang berpusat di pelataran Aula Balai Desa Terban.

LT-Mod merupakan sebuah reorientasi dari tradisi nonton bareng (nobar) bioskop keliling atau layar tancep yang populer di masa lalu.

Bedanya, kali ini dikemas dengan sentuhan teknologi masa kini menggunakan proyektor berkualitas tinggi (high-definition) serta sistem suara yang menggelegar untuk kenyamanan warga yang hadir.

Eddy Susanto, salah satu anggota Karang Taruna Budi Luhur Desa Terban, mengungkapkan bahwa esensi utama dari LT-Mod ini adalah menciptakan wadah interaksi sosial yang nyata bagi warga desa.

“Kami ingin menghidupkan kembali ruang nostalgia layar tancep, tapi dengan fasilitas zaman sekarang. Melalui LT-Mod, kami menyajikan hiburan visual yang sehat sekaligus mengembalikan semangat gotong royong dan keguyuban warga yang mulai jarang terlihat di ruang publik,” ujar Eddy Susanto.

Peluncuran perdana ini mendapat sambutan hangat. Sejak sore hari, warga dari berbagai lintas generasi serta tokoh masyarakat setempat mulai memadati pelataran aula dengan membawa alas duduk masing-masing. Atmosfer kebersamaan langsung terasa kental saat pemutaran video profil Desa Terban dimulai, yang kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film utama, “Laskar Pelangi”.

Pemutaran film “Laskar Pelangi” yang menjadi sajian perdana malam itu seakan merefleksikan apa yang sedang diupayakan oleh pemuda Desa Terban: merajut mimpi dan kebersamaan dari keterbatasan ruang hiburan yang ada.

Ketika lampu proyektor akhirnya dipadamkan dan warga mulai melipat alas duduk mereka untuk kembali ke rumah masing-masing, ada satu hal yang tertinggal di pelataran Balai Desa.

Sebuah kesadaran bersama bahwa kebahagiaan terbesar sebuah desa justru lahir dari kesederhanaan saat seluruh warganya duduk berdampingan secara setara.