Kudus, isknews.com — Festival Lajur Caping Kalo yang digelar dalam rangkaian Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Ribuan peserta dari kalangan sekolah, perguruan tinggi hingga masyarakat umum turut ambil bagian dalam festival budaya khas Kudus tersebut.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyebut antusiasme masyarakat terhadap Caping Kalo menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat kuat di tengah perkembangan zaman.
“Festival Lajur Caping Kalo ini antusias masyarakat, baik itu sekolahan maupun umum maupun universitas sangat-sangat luar biasa. Masyarakat bangga dengan Caping Kalonya,” ujar Sam’ani.
Menurutnya, Caping Kalo bukan sekadar penutup kepala tradisional, melainkan simbol kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Kudus.
Proses pembuatannya yang dilakukan dengan cara dianyam menggunakan bambu dan tali aren dinilai mengandung nilai kesabaran, ketelatenan, hingga kekompakan masyarakat.
“Nah khas lain dari yang lain ini dipadukan dengan kreativitas masyarakat, kesabaran, ketelatenan, kekompakan karena di situ kan nganyam. Ada juga kearifan lokal karena menggunakan bambu dan tali aren,” katanya.
Sam’ani bahkan berharap Caping Kalo bisa semakin dikenal hingga tingkat internasional.
Ia bercanda bahwa suatu saat Caping Kalo bisa dipakai tokoh dunia maupun kerajaan luar negeri.
“Kami harapkan nanti mungkin Caping Kalo mendunia. Apalagi nanti kalau dipakai kerajaan Inggris atau mungkin negara-negara lain maka jadi heboh,” ucapnya sambil tersenyum.
Ia menegaskan, Caping Kalo merupakan warisan budaya leluhur Kudus yang harus terus dikenalkan kepada generasi muda maupun masyarakat luar daerah.
Pemerintah Kabupaten Kudus juga mendorong penyebaran penggunaan Caping Kalo sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
“Ini budaya dan kreativitas masyarakat terdahulu kita. Minimal menyebarkan virus Caping Kalo ke daerah tetangga sekitar,” lanjutnya.
Sebagai bentuk pelestarian budaya, Pemkab Kudus juga mendorong penggunaan pakaian adat Kudus setiap tanggal 23, khususnya bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Dalam penggunaan pakaian adat tersebut, perempuan dianjurkan mengenakan Caping Kalo.
“Setiap tanggal 23 kita memakai pakaian adat Kudus terutama untuk ASN. Kalau ibu-ibu ya memakai Caping Kalo,” jelasnya.
Kebijakan tersebut ternyata turut berdampak terhadap peningkatan permintaan dari para pengrajin Caping Kalo di Kudus.
Sam’ani menyebut jumlah ASN perempuan yang cukup banyak ikut membantu mendongkrak produksi kerajinan tersebut.
“Pengrajin semakin tambah pesanannya. Walaupun mungkin di masyarakat ada yang pakai yang asli, ada yang KW, nggak apa-apa yang penting semangatnya,” katanya.
Ia berharap para pengrajin mampu terus menjaga keberlangsungan produksi Caping Kalo sekaligus menyiapkan generasi penerus agar kerajinan khas Kudus itu tetap lestari.
“Moga-moga pengrajin bisa meneruskan dan memberikan kesempatan pada penerus-penerus untuk membuat kerajinan Caping Kalo,” pungkasnya.( YM/YM)










