REGIONAL, ISKNEWS.COM – Tari Caping Kalo membawa cerita dan nilai budaya Kudus dalam ajang Folklore Festival Kota Lama Semarang, Jumat (18/9/2026). Pementasan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan seni tradisi Kudus kepada masyarakat yang hadir di kawasan Kota Lama Semarang.
Tari Caping Kalo merupakan karya seni pertunjukan yang diproduksi oleh GsT Production. Karya tersebut terinspirasi dari caping kalo yang tidak hanya digunakan sebagai properti tari, tetapi juga menjadi simbol untuk menggambarkan kehidupan serta nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat Kudus.
Melalui rangkaian gerak dan penyajiannya, tarian tersebut menggambarkan sosok perempuan Kudus yang lekat dengan nilai ketekunan, kesederhanaan, kebersamaan, serta keberanian dalam mempertahankan identitas budaya.
Nilai-nilai tersebut kemudian dituangkan ke dalam bahasa seni pertunjukan agar tradisi tidak sekadar menjadi bagian dari masa lalu. Tari Caping Kalo berupaya menghadirkan kembali nilai budaya lokal dalam bentuk yang dapat dinikmati dan dipahami oleh masyarakat masa kini.
Pementasan di kawasan Kota Lama Semarang menjadi salah satu ruang bagi karya tersebut untuk bertemu dengan penonton dari berbagai latar belakang. Kehadiran Tari Caping Kalo sekaligus menjadi sarana memperluas pengenalan terhadap salah satu karya seni yang mengangkat identitas budaya Kudus.
Tari Caping Kalo pertama kali diluncurkan pada 8 Februari 2026. Setelah peluncuran tersebut, karya ini terus dikembangkan melalui latihan, proses pembelajaran, pementasan, dan berbagai kegiatan kebudayaan.
Koordinator Tari Caping Kalo, M. Rakha Reswara, mengatakan perjalanan karya tersebut masih terus berlanjut. Menurutnya, setiap kesempatan tampil menjadi ruang untuk memperkenalkan karya sekaligus mengembangkan seni tradisi agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Melalui keterlibatannya dalam Folklore Festival Kota Lama Semarang, GsT Production terus membawa Tari Caping Kalo ke berbagai ruang perjumpaan seni. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar seni tradisi tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi juga terus berkembang dan dapat diterima oleh masyarakat di tengah perubahan zaman,” ujar M. Rakha Reswara.
Ia menambahkan, pementasan di Kota Lama Semarang menjadi bagian dari perjalanan Tari Caping Kalo untuk terus menemukan ruang apresiasi baru. Karya tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu medium untuk memperkenalkan cerita tentang tradisi, perempuan, dan identitas masyarakat Kudus melalui seni tari.
Melalui pementasan tersebut, Tari Caping Kalo kembali membawa unsur budaya Kudus keluar dari daerah asalnya. Kehadirannya di Folklore Festival Kota Lama Semarang menjadi bagian dari upaya memperluas ruang perjumpaan antara seni tradisi lokal dan masyarakat. (AS/YM)






