Ngaji Budaya di Menawan Kudus Dorong Generasi Muda Kembali Kenali Warisan Leluhur

oleh -243 Dilihat
Budayawan sekaligus seniman Sujiwo Tejo menyampaikan pandangannya dalam diskusi “Ngaji Budaya Sendang Widodari: Antara Warisan, Mitos dan Masa Depan” di Bumi Perkemahan Abiyoso, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus, Sabtu (12/9/2026) malam. Ia menyoroti perubahan ritual budaya menjadi hiburan serta pentingnya menjaga ruh dan nilai yang terkandung di dalamnya. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Upaya mengenalkan kembali sejarah, budaya, serta warisan leluhur kepada masyarakat dan generasi muda menjadi salah satu tujuan digelarnya kegiatan “Ngaji Budaya Sendang Widodari: Antara Warisan, Mitos dan Masa Depan”. Kegiatan tersebut berlangsung di Bumi Perkemahan Abiyoso, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Sabtu (12/9/2026) malam.

Salah satu panitia sekaligus perwakilan Karang Taruna Desa Menawan yang terlibat bersama Tim Swara Kesadaran, Olga Yogantara, mengatakan kegiatan tersebut sengaja menghadirkan sejumlah tokoh yang dinilai memiliki kapasitas dan pengalaman dalam bidang kebudayaan.

Menurutnya, para narasumber yang hadir diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali memberikan perhatian terhadap kebudayaan Nusantara.

“Kami mengundang narasumber tersebut karena mereka merupakan tokoh nasional yang bisa menjadi panutan dalam mengangkat kebudayaan,” kata Olga saat dihubungi isknews.com, Minggu (13/9/2026) malam.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu membangkitkan ketertarikan pemuda untuk ikut menjaga dan melestarikan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Menurutnya, perkembangan budaya asing jangan sampai membuat generasi muda semakin jauh dari akar kebudayaannya sendiri.

Selain menjadi ruang edukasi, kegiatan tersebut dirancang sebagai langkah awal untuk membangun forum diskusi publik mengenai sejarah, budaya, mitos, serta warisan leluhur. Olga menilai masyarakat sebenarnya memiliki banyak orang yang peduli terhadap sejarah dan budaya, tetapi belum banyak ruang yang mempertemukan mereka untuk berdiskusi secara terbuka.

“Bukan berarti kita kekurangan orang yang peduli sejarah dan budaya. Kita justru masih kurang memberikan wadah untuk berdiskusi mengenai sejarah dan budaya,” jelasnya.

Dalam diskusi tersebut, mitos dan ritual turut dibahas dari perspektif yang lebih luas. Keduanya tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu yang dianggap irasional, tetapi juga dipandang sebagai bagian dari sistem pengetahuan, memori kolektif, serta nilai-nilai yang membentuk kehidupan masyarakat Nusantara.

Arsiparis ISI Surakarta, Jamal, mengatakan masyarakat perlu kembali mengenali akar kebudayaannya dengan memahami perjalanan masa lalu. Menurutnya, berbagai mitos yang berkembang di tengah masyarakat memiliki nilai dan prinsip yang dapat menjadi bagian dari pengetahuan kolektif.

“Mitos itu salah satu sistem pengetahuan yang kita miliki untuk memelihara memori kolektif masyarakat. Di dalam setiap mitos ada prinsip dan nilai,” ujarnya.

Jamal juga menyoroti adanya perbedaan cara pandang terhadap kebudayaan antara masyarakat dengan pihak yang memegang kekuasaan. Menurutnya, nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat terkadang mengalami perubahan pemaknaan ketika bersinggungan dengan kepentingan kekuasaan.

Sementara itu, budayawan dan seniman Sujiwo Tejo membahas perubahan sejumlah ritual budaya yang kemudian berkembang menjadi bentuk hiburan setelah masuk dalam industri. Menurutnya, perubahan bentuk kesenian tidak menjadi persoalan selama nilai dan ruh yang terkandung di dalam ritual tersebut tidak ikut menghilang.

Ia mencontohkan lagu Indonesia Raya yang menurutnya memiliki dimensi ikrar dan sumpah. Namun, dalam perkembangannya, lagu tersebut berpotensi hanya dipahami sebagai bagian dari kegiatan seremonial.

Sujiwo Tejo juga menilai kebudayaan Nusantara sejak dahulu memiliki kemampuan untuk menerima berbagai pengaruh dari luar tanpa kehilangan jati dirinya. Pengaruh budaya asing dapat diolah dan disesuaikan dengan karakter masyarakat Nusantara.

“Seluruh pertunjukan itu berasal dari ritus, tapi karena masuk industri semua berubah jadi hiburan. Kita mampu menghadapi pengaruh India hingga Barat dan mengolahnya menjadi bagian dari kebudayaan sendiri,” tegasnya.

Perspektif mengenai hubungan manusia dengan alam disampaikan Hari Fitrianto. Ia menjelaskan, spiritualitas masyarakat Nusantara sejak masa lalu tidak dapat dilepaskan dari interaksi manusia dengan lingkungan tempat mereka hidup.

Pada masa masyarakat masih berburu, hubungan tersebut tercermin melalui berbagai ritual yang berkaitan dengan hewan buruan. Ketika pola kehidupan berkembang menjadi masyarakat agraris, muncul konsep Ibu Pertiwi sebagai gambaran alam yang memberikan kehidupan sekaligus mengayomi manusia.

Menurut Hari, perkembangan modernitas kemudian cenderung memisahkan spiritualitas dari kebudayaan. Kondisi tersebut membuat sejumlah nilai budaya justru direduksi sebatas mitos atau dikemas sebagai komoditas pertunjukan.

Di tengah perkembangan teknologi digital, Endro Kusumo menilai manusia semakin berhadapan dengan teknologi yang berpotensi menjadikan manusia sebagai objek. Karena itu, menurutnya, kebudayaan tidak cukup hanya dipelajari melalui bacaan atau disaksikan sebagai tontonan, tetapi perlu dialami secara langsung.

Ia berpandangan pengalaman terhadap budaya dapat membantu manusia kembali mengenali kekuatan dan pengetahuan yang tersimpan dalam dirinya.

Sementara itu, GRAy Putri Purnaningrum dan Bendoro Lung Ayu turut mengangkat kehidupan serta berbagai ritus yang berkembang di lingkungan keraton. Ritus tersebut dinilai bukan sekadar rangkaian upacara, tetapi juga bagian dari kebudayaan yang menyimpan nilai, filosofi, dan tata kehidupan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, panitia berharap “Ngaji Budaya” dapat berkembang menjadi ruang diskusi yang berkelanjutan. Tidak hanya membicarakan masa lalu, tetapi juga mencari cara agar warisan budaya tetap relevan dan dapat dipahami oleh generasi mendatang. (AS/YM)