Capaian TPBIS Kudus Masih Bergerak, Skor Sementara Tembus 96,25

oleh -85 Dilihat
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpus) Kudus, Mutrikah. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Capaian penilaian Key Performance Indicator (KPI) Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Kabupaten Kudus masih berpeluang berubah hingga akhir 2026. Berdasarkan penilaian sementara, Kudus memperoleh skor 96,25 dan menempati posisi teratas di Jawa Tengah, mengungguli Kabupaten Blora dengan nilai 96 serta Demak yang meraih skor 93.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpus) Kudus, Mutrikah, menyampaikan bahwa hasil tersebut tidak terlepas dari keterlibatan berbagai pihak dalam mengembangkan fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, Dinarpus membuka ruang kolaborasi dengan komunitas lokal agar masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas perpustakaan untuk menyelenggarakan kegiatan secara mandiri dan berkelanjutan.

“Kami membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Selama ini, ada banyak komunitas lokal di Kudus yang bekerja sama dengan kami,” katanya.

Ia menjelaskan, komunitas yang bermitra dengan Dinarpus mendapatkan kesempatan menggunakan ruangan perpustakaan untuk mengadakan kegiatan rutin. Mereka juga diberi keleluasaan menjaring peserta sendiri sehingga aktivitas tidak harus selalu bergantung pada agenda yang disusun oleh pihak dinas.

Berbagai program pembelajaran pun dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kegiatannya meliputi kelas public speaking, pemasaran digital atau digital marketing, keterampilan merajut, pelatihan ecoprint, hingga pembelajaran komputer bagi penyandang disabilitas.

Mutrikah menilai, pendekatan tersebut membuat perpustakaan memiliki peran lebih luas dibandingkan sekadar menyediakan bahan bacaan. Melalui TPBIS, fasilitas perpustakaan diharapkan menjadi tempat bagi warga untuk menambah pengetahuan, mengasah kemampuan, serta menciptakan peluang baru.

“TPBIS ini mendorong perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, namun jadi ruang bagi masyarakat untuk belajar dan berinovasi,” ujarnya.

Manfaat program tersebut terlihat dari tingginya minat masyarakat terhadap sejumlah pelatihan. Salah satunya kelas public speaking yang kuota 50 pesertanya telah terpenuhi bahkan sebelum pendaftaran resmi dibuka.

Sementara itu, kelas digital marketing memberikan bekal kepada peserta untuk mempromosikan produk melalui media sosial. Keterampilan ini diharapkan membantu pelaku usaha memperluas jangkauan pemasaran tanpa harus bergantung pada pihak lain.

Mutrikah mencontohkan pengalaman Lela, 54, yang mengikuti pelatihan pemasaran digital. Setelah memperoleh pembekalan, peserta tersebut mampu membuat materi promosi secara mandiri dan memasarkan produknya melalui media sosial, sehingga turut mendukung peningkatan keuntungan usahanya.

Selain menyelenggarakan pelatihan, Dinarpus juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperkenalkan hasil karya mereka melalui kegiatan pameran. Fasilitas tersebut menjadi sarana untuk memperluas promosi sekaligus membuka peluang bagi produk lokal agar lebih dikenal masyarakat.

Pengembangan kapasitas warga tidak hanya menyentuh keterampilan ekonomi. Dinarpus juga menyediakan kegiatan pengembangan diri, termasuk kelas emotional freedom dan trauma healing tanpa dipungut biaya.

Mutrikah menyebut pendampingan tersebut turut memberikan ruang bagi peserta untuk membangun kepercayaan diri dan berbagi pengalaman. Salah satu peserta yang sebelumnya mengikuti kegiatan pendampingan kini dinilai lebih terbuka dalam berinteraksi dan menceritakan pengalamannya kepada orang lain.

Ia berharap pelaksanaan TPBIS dapat terus dikembangkan agar layanan perpustakaan semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi pusat informasi, tetapi juga mampu mendukung peningkatan keterampilan dan kemandirian warga.

Sementara itu, Pustakawan Ahli Madya Dinarpus Kudus, Ninik Mustikawati, menjelaskan bahwa penilaian KPI TPBIS mengacu pada aktivitas yang dilaporkan melalui sistem informasi manajemen milik Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Terdapat tiga strategi utama yang menjadi dasar penilaian program tersebut. Ketiganya mencakup peningkatan layanan informasi, pelibatan masyarakat melalui kegiatan pelatihan dan pembelajaran gratis, serta advokasi untuk memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak.

Setiap aktivitas yang dilaksanakan kemudian dicatat dan dimasukkan ke dalam sistem informasi sebagai bagian dari pemantauan perkembangan program. Kelengkapan laporan kegiatan menjadi salah satu unsur yang memengaruhi perolehan nilai.

Ninik menegaskan, skor 96,25 yang diumumkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah belum menjadi hasil final. Pasalnya, pelaksanaan kegiatan dan proses penginputan data masih berjalan sehingga nilai yang diperoleh Kudus berpotensi mengalami perubahan.

“Capaian saat ini nilainya 96,25. Namun, itu belum capaian akhir karena masih ada kegiatan yang diinput. Jadi, datanya masih bergerak,” jelasnya.

Ia menambahkan, Kabupaten Kudus telah melaksanakan program TPBIS sejak 2020. Konsistensi dalam menjalankan program tersebut juga mendapat apresiasi melalui penghargaan Mitra Jempolan dari Perpusnas pada periode caturwulan kedua 2026. (AS/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.