Hadapi Tantangan Masa Depan, Gen Z Diajak Bangun Lingkungan Sosial yang Suportif

oleh -27 Dilihat
Foto Bersama di sela-sela kegiatan Temu Wicara Nation Building Beswan Djarum 2025/2026 bertajuk "Karsa Muda Berkarya" menghadirkan narasumber untuk berbagi pengalaman dan wawasan kepada lebih dari 500 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Kegiatan ini mendorong generasi muda mengembangkan softskill, memperluas jejaring, serta membangun lingkungan sosial yang suportif. Foto: Djarum Foundation

KUDUS, ISKNEWS.COM – Kemampuan membangun relasi sosial yang sehat dan saling mendukung dinilai menjadi salah satu bekal penting bagi generasi Z (Gen Z) dalam menghadapi tantangan masa depan. Selain kemampuan akademis dan teknis, generasi muda juga perlu memiliki keterampilan nonteknis (softskill), kepemimpinan, serta jejaring yang mampu mendorong perkembangan diri.

Hal tersebut menjadi salah satu fokus Djarum Foundation melalui program Djarum Beasiswa Plus. Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan Temu Wicara Nation Building Beswan Djarum 2025/2026 bertajuk “Karsa Muda Berkarya” yang mengangkat pentingnya pengaruh sosial bagi generasi muda.

Program Manager Djarum Foundation Abraham Delta Oktaviari mengatakan, penguatan softskill menjadi perhatian penting seiring meningkatnya kebutuhan dunia kerja terhadap sumber daya manusia yang memiliki kemampuan beradaptasi dan berkolaborasi.

Ia menyebutkan, berdasarkan data tahun 2020, Gen Z mendominasi komposisi penduduk usia kerja dengan persentase mencapai 27,94 persen. Kondisi tersebut menjadikan pengembangan kapasitas generasi muda sebagai salah satu langkah penting dalam menciptakan SDM yang unggul dan kompetitif.

“Kami mencermati berbagai laporan global, termasuk dari World Economic Forum, terkait softskill yang akan berkembang pesat pada masa depan. Salah satunya, terkait aspek kepemimpinan dan pengaruh sosial. Ini relevan dengan kecenderungan di generasi muda, khususnya gen Z saat ini, yang mengharapkan tujuan dan koneksi sosial saat memasuki dunia profesional. Maka itu, dalam Temu Wicara ini, kami tidak hanya menghadirkan narasumber untuk berbagi, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berjejaring dan berkolaborasi,” kata Abraham.

Lebih lanjut, Abraham menjelaskan bahwa melalui kegiatan tersebut, mahasiswa didorong untuk menemukan lingkungan pergaulan yang positif dan memberikan nilai tambah bagi perkembangan diri. Mereka juga diharapkan mampu menjadi bagian dari lingkungan yang suportif bagi orang lain sehingga dapat saling berkolaborasi dalam menciptakan dampak positif bagi masyarakat.

Salah satu narasumber, konten strategis sekaligus wirausahawan Natasha Keniraras atau yang dikenal dengan nama Natkeni di media sosial, turut menyoroti pentingnya memiliki lingkungan sosial yang mendukung perjalanan hidup anak muda.

Menurutnya, generasi Z saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kehadiran media sosial, misalnya, turut memengaruhi cara anak muda memandang pencapaian, kesuksesan, hingga standar kehidupan.

Natasha membagikan pengalamannya ketika berhasil mempublikasikan jurnal hingga tingkat internasional saat masih kuliah. Meski memiliki pencapaian akademis, ia mengaku pernah mengalami kelelahan mental. Pengalaman tersebut membuatnya memahami pentingnya dukungan lingkungan sosial sekaligus kemampuan menghargai perjalanan diri sendiri.

“Dulu waktu kuliah, aku publikasi jurnal sampai ke level internasional. Ternyata di tengah pencapaian ini, aku kelelahan mental. Jadi, punya lingkungan sosial yang suportif itu penting. Mereka bisa memberi masukan dan dukungan, tetapi yang akhirnya menyelamatkan kita itu justru bagaimana cara kita melihat ke diri kita sendiri. Jangan membandingkan dengan hidup orang lain yang terlihat di layar gawai, dengan perjalanan kita sendiri,” kata Natasha.

Ia menambahkan, keberanian untuk mencoba berbagai hal, membangun relasi yang sehat, serta memiliki pandangan positif terhadap diri sendiri menjadi sejumlah faktor yang membantunya terus berkembang.

Sebagai alumni Beswan Djarum, Natasha juga merasakan manfaat pengembangan softskill yang diperoleh selama mengikuti program Djarum Beasiswa Plus. Beberapa kemampuan yang dinilainya berguna dalam perjalanan karier antara lain negosiasi, memahami psikologi manusia, serta membangun komunikasi yang efektif.

“Trial-error juga sampai akhirnya berhasil, yang penting mencoba terus karena kita tidak tahu bisa sejauh apa, sebanyak apa, dan seberapa lama kita akan berhasil,” ujarnya.

Perspektif lain disampaikan Guru Besar Kimia Anorganik Institut Teknologi Bandung (ITB), Ismunandar. Ia menilai perjalanan karier seseorang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Berbagai pengalaman dan keputusan yang diambil justru menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan diri.

Menurutnya, generasi muda tidak perlu terpaku pada perjalanan karier orang lain yang terlihat teratur. Sebaliknya, mereka harus berani mengambil kesempatan dan terus memperkaya pengalaman melalui proses belajar.

“Kalau melihat CV orang lain, kok kesannya linear, seolah ada garisnya. Namun perjalanan hidup itu dimulai setiap kali kita harus mengambil keputusan. Ada yang terkesan tidak logis, terkadang zig-zag. Jika ingin bertumbuh, berkembang, dan berdampak, maka generasi muda harus selalu belajar, memperkaya diri dengan keterampilan. Jangan takut untuk ambil peluang. Kalau kita bisa, kenapa tidak?” kata Ismunandar.

Dalam kesempatan tersebut, Ismunandar juga menceritakan perjalanan profesionalnya yang tidak hanya berkutat di bidang akademis. Keahliannya dalam kimia anorganik turut membawanya menekuni bidang diplomasi hingga dipercaya menjadi duta besar di UNESCO.

Ia mengaku pengalaman tersebut memiliki tantangan tersendiri karena berbeda dengan latar belakang keilmuannya. Namun, bekal pengetahuan, pengalaman, serta jejaring yang telah dibangun sebelumnya menjadi modal untuk mengambil kesempatan tersebut.

“Banyak peluang yang biasanya muncul saat kita sedang dalam proses belajar, termasuk saat masih menjadi mahasiswa. Jadi, coba saja,” tuturnya.

Sebagai informasi, Temu Wicara Nation Building Beswan Djarum 2025/2026 diikuti lebih dari 500 mahasiswa yang berasal dari sekitar 100 universitas di berbagai wilayah Indonesia.

Tidak berhenti pada diskusi dan berbagi pengalaman, Djarum Foundation juga memberikan ruang bagi para mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan nonteknis melalui pementasan teater dan tari. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program Nation Building guna membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan berkolaborasi, berkomunikasi, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya. (AS/YM)