Masyarakat Tetap Hidupkan Tradisi Kenduri Pada Lebaran Ketupat

oleh -371 Dilihat

Kudus, isknews.com – Sebuah kearifan masyarakat dalam kebersamaan tercermin pada masyarakat Kudus dan sekitarnya, tak terkecuali pada puluhan warga desa Jepang Pakis Rt.04/Rw.05, Rt.07/Rw.04, yang berbondong-bondong mendatangi Mushola Darul Muslimin, Jati, Kudus pada Minggu, (2/7/2017) pagi. Mereka dari pria wanita, dari anak-anak sampai usia lanjut, menghadiri selametan atau kenduri yang rutin diadakan setiap 7 hari setelah Hari Raya Idul Fitri.

Mereka dari rumah masing-masing membawa “Embor” yang berisi ketupat, lepet, lontong, dan sayuran berkuah dan lainnya. Setelah nantinya sampai di mushola, mereka menaruh “sedekah” berupa barang bawaan tersebut untuk dikumpulkan ke pengurus mushola. Setelah terkumpul, lalu diberikan bagi warga yang membutuhkan.

Dari pantauan isknews.com, selanjutnya kyai setempat membacakan tahlil, bertujuan untuk mendoakan kaum muslimin yang sudah meninggal. Di akhir acara, makanan yang berupa ketupat, lepat, lontong dan sayuran berkuah itu disantap bersama-sama setelah dido’akan tentunya.

Menurut pengurus mushola darul muslimin, Muhammad Busyiri, kepada isknews.com mengatakan, tradisi kupatan di Jawa khususnya di Kudus telah berlangsung sejak lama, tradisi ini digerakkan oleh kiai-kiai Nahdhotul Ulama’ yang mengambil pelajaran dari Nabi Muhammad SAW.

“Rasulullah dahulu mengadakan hari raya sesudah bulan Ramadhan. Sebab pada bulan Ramadhan kita sudah memohon ampun kepada Allah sebagai haqqullah. Lalu, haqqul adam dengan meminta maaf ke sesama manusia,” jelasnya

Kyai Busyiri mengimbau warga seusai lebaran hendaknya untuk terus menjalin ukhuwah antar tetangga. “tradisi ini jangan sampai punah.” pesannya. (AJ)

No More Posts Available.

No more pages to load.