
Kudus, isknews.com – pada tanggal 11 November yang lalu, Agustin Anggriani (22) menerima anugerah kebudayaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Anies Baswedan, Ph.D., berkat tulisannya tentang Kudus yang berjudul “Belajar Budaya Damai pada Kota Menara”.
Alumni SMA Negeri 1 Kudus ini memandang, Kudus adalah sebuah kota yang dapat menjadi teladan dalam mengaplikasikan budaya damai. Bukan rahasia lagi bahwa Kudus adalah sebuah kota terkecil di Jawa Tengah, yang menjadi salah satu penyetor pajak terbesar di Indonesia, dengan masyarakatnya yang multikultural nan harmonis.
Sebuah tanah marka di Kudus, Menara Kudus, menjadi ikon kota Kudus sejak hampir lima abad yang lalu. Ia bukan sekadar bagian kompleks tempat beribadah, lebih dari itu, ia adalah tempat bersejarah, salah satu pusat spiritualisme Islam di Jawa, objek wisata, ikon kota, serta monumen peradaban masa lalu. Oleh salah satu ulama tersohor di Jawa, Sunan Kudus, Menara Kudus sekaligus masjidnya dibangun di atas tanah seluas 7.000 meter persegi di daerah Kauman, Kudus. Keberadaan bangunan bersejarah setinggi 19 meter itu bahkan menyita perhatian Mark R. Woodward, antropolog dari Arizona State University, Amerika Serikat. Dalam karya ilmiahnya yang berjudul Jerusalem in Java, Woodward menyebutkan bahwa nilai akulturasi budaya Hindu, Jawa, sekaligus China yang ada pada tubuh Menara Kudus menyiratkan dakwah Sunan Kudus yang mengusung integrasi Islam dengan budaya lokal dan anti kekerasan.
Lalu apa yang membuat Woodward menamai Kudus sebagai Jerusalemnya Jawa? Ternyata konsep kota Jerusalem yang terkenal sebagai kota suci tiga agama besar dunia (Islam, Kristen, dan Yahudi) telah diadopsi Sunan Kudus sebagai konsep dalam pembangunan kompleks Menara Kudus. Sejak ribuan tahun yang lalu, permukiman sekitar kompleks Menara Kudus memang telah dipadati penduduk dengan aneka ragam agama dan budaya. Empat agama yang sudah eksis kala itu adalah Islam, Kong Hu Cu, Kejawen, dan Hindu. Selain itu, diberitakan bahwa Sunan Kudus pernah berkunjung ke Jerusalem sebelum mendirikan Menara Kudus beserta masjid yang berdiri di sampingnya. Masjid Al-Aqsa namanya, diambil dari nama masjid di Jerusalem, sedangkan nama kota Kudus diambil dari nama lain Jerusalem, yaitu Al-Quds, sebuah kata dalam bahasa Arab yang berarti suci.
Sunan Kudus dalam menyiarkan Islam membawa misi perdamaian yang membuat banyak orang terkesima. Dikisahkan, Sunan Kudus membawa sapi di sampingnya dan mengikatnya pada sebuah gerbang tua bekas kerajaan Majapahit, tak lain agar masyarakat Hindu berdatangan. Ketika masyarakat Hindu berdatangan itulah, Sunan Kudus memulai dakwahnya. Akhirnya banyaklah pemeluk Islam di Kudus dengan strategi dakwah yang unik tersebut. Semenjak peristiwa bersejarah itulah, sapi dianggap berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam di Kudus, dan untuk tetap menghormati pemeluk agama Hindu, Sunan Kudus memerintahkan untuk tidak menyembelih sapi di Kudus. Betapa sebuah ajaran mulia agar kita harus berhati-hati dalam menjaga perasaan umat agama lain. Ajaran untuk tidak menyembelih sapi ini pun masih dipertahankan di Kudus sampai detik ini.
Menara Kudus menyapa dengan damai pada setiap bentuk perbedaan di kota tempat ia berdiri. Konstruksi batu bata yang tertata rapi mirip candi Hindu; gerbang berbentuk gapura candi; pagar kompleks masjid yang tersusun dari batu bata mirip benteng keraton Jawa; puncak menara dan atap masjid yang berbentuk limasan; tatahan China dengan corak bunga; piring keramik China yang menempel pada tubuh menara, semua fakta unik tersebut bukanlah tanpa arti. Ini adalah sebuah monumen lintas kultural yang sengaja dibangun sebagai suatu isyarat dari Sunan Kudus agar masyarakat Kudus senantiasa menghormati segala macam perbedaan, baik itu perbedaan etnis maupun perbedaan agama.
Sekitar 150 meter di tenggara Masjid Al-Aqsa Kudus berdirilah Kelenteng Kong Hu Cu yang dibangun sebelum Masjid Al-Aqsa Kudus didirikan. Betapa sebuah harmoni yang indah ketika di sekitar masjid ada orang-orang Tionghoa leluasa beribadah, pun orang-orang Muslim sama sekali tak terusik karenanya. Di samping itu, geliat ekonomi oleh warga lokal maupun Tionghoa terlihat selaras, tanpa ada gesekan yang membuat sendi-sendi keharmonisan itu renggang.
“Bagi saya pribadi, warga Kudus adalah tipikal manusia yang lebih mengedepankan terwujudnya kesejahteraan dalam hidup daripada sekadar mengurusi perbedaan yang ada. Baik warga Jawa dan Tionghoa di Kudus menjalin kerjasama yang erat dalam berbagai bidang, utamanya dalam bidang ekonomi, sehingga tidak ada kecemburuan sosial serta kesenjangan ekonomi di kota tersebut. Rupanya, ajaran Sunan Kudus yang sarat dengan perdamaian dan nilai-nilai toleransi rupanya telah mendarah daging dalam jiwa setiap warga Kudus,” tutur perempuan yang akrab disapa Anggi ini.
Tulisannya telah dipertahankan di depan para jurnalis dan pejabat Kemdikbud sebagai sebuah karya yang orisinal dan layak. Sebanyak lebih dari 1500 karya masuk ke pihak Kemdikbud, dan karya Agustin menempati posisi terbaik kedua. Karya-karya ini dihimpun dan digunakan sebagai percontohan dalam projek internalisasi budaya damai di daerah rawan konflik.
“Saya berharap, tulisan saya ini adalah sebuah dokumentasi sejarah yang memantik segenap warga Kudus agar dapat mempertahankan kehidupan yang harmonis ini sehingga tetap menjadi teladan untuk kota lain sebagai kota yang damai, sejahtera, dan berdikari,” pungkas alumni Unnes yang sekarang menjadi wali kelas program unggulan di MI Al-Khoiriyyah 1 kawasan Tugu Muda Semarang.






