Kudus, isknews.com – Universitas Muria Kudus, pagi tadi menggelar Seminar Nasional dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional tahun 2017 dengan tema “Mewujudkan generasi emas 2045, melalui pendidikan yang memberdayakan”, Sabtu (22/7/16).
Digelar di Auditorium kampus Universitas Muria Kudus, Gondangmanis Bae Kudus , seminar Nasional ini menghadirkan pembicara utama Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Arist Merdeka Sirait dan dihadiri oleh sekitar 350 peserta seminar.
Arist yang pada tahun 1998, bersama Seto Mulyadi, Arist dan beberapa aktivis lain mendirikan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Walaupun telah mengakui konvensi PBB tentang hak anak di tahun 1990, sebelum tahun 1998 Indonesia memang masih belum memiliki media khusus untuk perlindungan anak. dan kini sebagai ketua komisi tersebut.
Hadir pada kegiatan seminar tersebut antara lain Rektor UMK, Dr. Suparnyo, SH, MS, Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kudus Hj. Noor Haniah, Camat Bae, Wakil Rektor 1, 2, 3, 4, ketua Yayasan Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak Kab. Kudus, Dr. Any Ismayawati, SH, M.Hum. Perwakilan Guru PAUD, SD/MI, SMP/MTS, SLTA/MA Kab. Kudus, Mahasiswa UMK dan perwakilan siswa SLTA.
Dalam sambutan pembukaan seminar, Rektor UMK, Dr Suparnyo menyampaikan, Peran keluarga harus selalu mengembangkan anak sehingga keberhasilan dapat tercapai, dunia pendidikan dapat terwujud dan berhasil itu tergantung dalam kebijakan pemerintah.
“Anak-anak kita harus kita siapkan agar menjadi anak yang mandiri berkarakter sehingga harapan bangsa Indonesia ke depan menjadi bangsa yang sejahtera dan harapannya menjadi bangsa yang adikuasa,” ujarnya.
Ditambahkannya, Anak-anak pada usia dini perlu diutamakan gizinya karena anak- anak merupakan generasi penerus bangsa. “Anak-anak kita diusia 6 tahun ke depan harus menjadi generasi emas Indonesia di tahun 2045 menjadi bangsa yang sejahtera dan makmu, dan anak-anak kita harus kita siapkan semaksimal mungkin jangan sampai tidak terkontrol sehingga anak kita terhindar dari pergaulan bebas dan pergaulan narkoba karena hal tersebut akan merusak generasi bangsa,” tutur Suparnyo.
Pidato sambutan Bupati Kudus yang dibacakan oleh Camat Bae antara lain menyampaikan, Kegiatan peringatan hari anak nasional tahun 2017 kita jadikan momentum untuk mendorong dan pergerakan pembangunan masyarakat dan bangsa untuk lepas dari kondisi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
Salah satu upaya kita yaitu mewujudkan budaya di semua aspek kehidupan kita. Budaya membaca hendaknya semakin ditumbuhkan dan dikembangkan baik di kalangan pendidikan maupun di masyarakat pada umumnya.
Melalui membaca akan terbuka jendela dunia dan wawasan yang sangat luas dan akan dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan tehnologi bagi peserta didik kita. Peningkatan ilmu pengetahuan dan tehnologi hendaknya dilakukan secara bersama-sama secara sinergi dengan penanaman karakter atau budi pekerti pada peserta didik.
Bahwa karakter positif antara lain kejujuran, tanggungjawab, kedisiplinan, kegotong-royongan, cinta tanah air dan saling menghormati satu sama lain perlu ditumbuh kembangkan sehingga harapan kita untuk mewujudkan generasi emas dapat tercapai.
Kudus sebagai pakubumi pendidikan di Indonesia mempunyai peran yang sangat strategis mulai dari tingkat Paud sampai dengan SLTA akan terus ditingkatkan sebagai standar nasional sampai internasional. Kami mengajak semua komponen untuk selalu peduli dan tanggap dengan anak-anak kita untuk itu orang tua sangat memegang peran yang sangat penting terhadap keberhasilan anak- anak kita.
Untuk mewujudkan generasi yang penuh semangat multi talenta harus dapat mengadaptasi semua perubahan yang ada sehingga dapat tercapai apa yang diharapkan.
Sementara itu Arist Merdeka Sirait, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia / KPAI) menyampaikan, Hari anak nasional dengan tema “Membangun genenasi platinum yang berkarakter” antara lain mengandung maksud, “Membangun generasi paltinum berkarakter yaitu kita harus membangun keluarga yang bertumbuh semakin kuat dan memfungsikan keluarga untuk peduli dan solider terhadap orang lain,” ujarnya.
Selanjutnya, Terapkan keluarga masa kini dengan memahami perkembangan perilaku anak dan membuat pola pergaulan yang sesuai karakter anak, menjangkau hati mengembangkan perangkat strategi berbasis hati untuk pertumbuhan anak, melibatkan interaksi spritual dalam keluarga melalui ibadah.
Mengembangkan spiritual dan moral menekankan motifasi melaui perkembangan spritual dan moral, mengelola emosi, membangun rasa hormat dalam kehidupan keluarga, pendidikan tentang seks, memperkuat keluarga sebagai kesatuan.
“Bentuk kekerasan yang terjadi terhadap anak disebabkan karena permasalahan ekonomi, lingkungan, pergaulan bebas dan kekerasan seksual sehingga kita semua harus ikut bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anak kita. Kekerasan terhadap anak bisa terjadi di rumah, lingkungan pendidikan, lingkungan tempat tinggal dan tempat umum,” kata Arist.
“Stop kekerasan terhadap anak, mari kita bersama-sama menjaga anak-anak kita untuk generasi bangsa kita lebih baik,” pungkasnya. (YM)
KOMENTAR SEDULUR ISK :






