Kudus, isknews.com – Upaya Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kudus dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan melalui berbagai kegiatan kreatif. Salah satunya lewat pelatihan pembuatan ecoprint yang digelar di halaman selatan kantor Arpusda Kudus, Jumat (31/10). Kegiatan ini menjadi sarana bagi warga, terutama ibu rumah tangga dan lansia, untuk mengasah kreativitas sekaligus menambah keterampilan bernilai ekonomi.
Kepala Dinas Arpusda Kudus, Mutrikah, menjelaskan bahwa pelatihan ecoprint merupakan bagian dari program inklusi sosial yang diinisiasi lembaganya. Melalui program ini, perpustakaan daerah tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi kreatif, seni, dan budaya.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya datang ke perpustakaan untuk membaca, tapi juga belajar dan berkembang. Hari ini kami fasilitasi pelatihan ecoprint agar masyarakat bisa berkreasi dari bahan alami dan bernilai ekonomi,” ujarnya.
Mutrikah menambahkan, kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi antara Arpusda, anggota dewan, dan komunitas yang turut memberikan dukungan, termasuk dalam penyediaan bahan dan peralatan pelatihan.
“Alhamdulillah kegiatan ini bisa berjalan berkat dukungan teman-teman dewan dan komunitas. Kuota hanya 30 peserta, tapi yang mendaftar langsung penuh,” katanya.
Menariknya, pelatihan ini diminati banyak peserta lanjut usia. Mereka terlihat antusias mencoba teknik mencetak motif alami dari daun ke kain, sambil berdiskusi dan saling berbagi pengalaman.
“Saya terharu karena yang ikut justru banyak lansia dan pensiunan. Semangat mereka luar biasa,” imbuh Mutrikah.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat menjadi peluang ekonomi baru.
“Kami ingin ibu-ibu tidak perlu mencari penghasilan di luar rumah. Mereka bisa punya showroom kecil di rumah, menampilkan karya mereka sendiri,” tuturnya.
Selain pelatihan ecoprint, Dinas Arpusda Kudus juga rutin menggelar berbagai kelas gratis bagi masyarakat, seperti kelas menulis, bahasa Inggris, komputer, tari, hingga merajut. Program ini merupakan bagian dari konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat yang diusung perpustakaan.
“Setiap bulan ada sekitar sepuluh kelas aktif. Semua gratis, terbuka untuk umum, dan banyak yang berkelanjutan karena pesertanya merasa nyaman belajar sambil bersosialisasi,” jelasnya.
Dengan beragam kegiatan tersebut, Dinas Arpusda Kudus terus bertransformasi menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat — tempat di mana warga bisa membaca, belajar, berkreasi, sekaligus mengembangkan potensi ekonomi dan sosial mereka. (AS/YM)







