Kudus, isknews.com – Permintaan roti kering menjelang Ramadan membawa berkah bagi pelaku usaha roti di Kabupaten Kudus. Salah satunya dirasakan oleh usaha warga yang berada di Desa Piji, Kecamatan Dawe. Produksi roti kering Japans dari Brand Global Bakery mengalami peningkatan cukup signifikan hingga sekitar 35 persen.
Pemilik Global Bakery, Sugiharto (61), mengatakan peningkatan produksi roti kering biasanya sudah mulai terasa sekitar satu bulan sebelum Ramadan.
“Untuk produksi terutama roti kering itu mengalami peningkatan yang lumayan, sampai sekitar 35 persen. Biasanya mulai terasa satu bulan sebelum Ramadan dan terus ramai sampai bulan puasa,” ujar Sugiharto saat diwawancarai pada Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, permintaan roti pada bulan Ramadan memang didominasi oleh roti kering karena daya tahannya lebih lama dibandingkan roti basah.
Sugiharto menjelaskan roti kering produksinya bisa bertahan hingga lima bulan jika disimpan dengan baik. Namun dalam praktiknya, produk tersebut biasanya sudah habis terjual dalam waktu sekitar satu bulan di pasaran.
“Kalau roti kering sebenarnya aman sampai lima bulan. Tapi biasanya di toko-toko itu maksimal satu bulan sudah habis karena pengambilannya dua minggu sekali,” jelasnya.
Berbeda dengan roti kering, roti basah memiliki masa simpan yang jauh lebih pendek karena tidak menggunakan bahan pengawet.
“Kalau yang basah cuma sekitar empat hari karena kami tidak memakai pengawet. Jadi di kemasan juga saya tulis masa simpannya empat hari saja,” tambahnya.
Produk roti kering dari Global Bakery kini telah dipasarkan hingga ke luar provinsi. Sugiharto menyebut jaringan pemasaran mereka menjangkau berbagai daerah seperti Pacitan dan Gunungkidul, serta sejumlah wilayah di Jawa Tengah seperti Wonogiri, Purwodadi, Pati, Kudus, hingga Rembang.
Pemasaran dilakukan melalui toko-toko dan pasar tradisional, termasuk sejumlah pusat oleh-oleh di kawasan wisata pantai selatan.
“Pasarnya di toko dan pasar tradisional. Di beberapa tempat juga masuk pusat oleh-oleh, terutama di daerah wisata pantai seperti Pacitan dan Gunungkidul,” katanya.
Salah satu produk yang paling diminati adalah bolu stik yang dikemas dalam ukuran 180 gram. Produk ini dijual kepada agen seharga Rp8.500 per kemasan, sementara di tingkat pengecer biasanya dijual sekitar Rp12.000.
Selain bolu stik, Global Bakery juga memproduksi beberapa varian roti kering lain seperti bolu senyum, bolu oval, bolu kuwuk, bagelan, serta roti kacang.
Meski permintaan meningkat, Sugiharto mengaku tahun ini pelaku usaha juga dihadapkan pada kenaikan harga bahan baku, terutama telur dan gula. Selain itu, harga plastik untuk kemasan juga mengalami lonjakan dalam beberapa waktu terakhir.
“Yang cukup terasa kenaikannya itu gula dan telur. Kemudian plastik kemasan juga naik cukup signifikan,” ungkapnya.
Global Bakery sendiri telah beroperasi di Kudus sejak tahun 2011. Awalnya usaha tersebut hanya memproduksi roti basah. Namun saat pandemi Covid-19, permintaan roti basah sempat turun drastis sehingga Sugiharto mulai mengembangkan produksi roti kering.
“Saat pandemi dulu roti basah turun drastis. Akhirnya saya siasati dengan membuat roti kering yang bisa diproduksi lebih banyak dan daya tahannya lebih lama,” katanya.
Saat ini usaha tersebut mempekerjakan sembilan karyawan yang sebagian besar berasal dari warga sekitar. Proses produksi dilakukan setiap hari dengan sistem libur bergantian.
“Jumlah karyawan ada sembilan orang dan sebagian besar dari warga sekitar sini. Produksi jalan setiap hari, liburnya bergantian,” pungkasnya. (AS/YM)











