Bersama Wujudkan Kudus Bebas DBD dengan cara Ketahui dan Cegah

oleh -199 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Kabupaten Kudus karena telah menjadi wilayah endemis DBD dengan jumlah kasus yang tergolong tinggi setiap tahunnya.

Stefani Rema Septiana mahasiswi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta menjelaskan, DBD merupakan salah satu penyakit endemik yang disebabkan oleh virus dengue melalui nyamuk Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus yang berperan sebagai vektor penyakit.

Nyamukmenghisap darah manusia yang telah terinfeksi virus dengue, sehingga menyebabkan nyamuk ikut terinfeksi. Virus dengue kemudian ditularkan melalui gigitan dan injeksi air liur nyamuk yang telah terinfeksi, sehingga virus dengue masuk ke dalam darah dan menginfeksi manusia lainnya.

“Menurut data dari Dinas Kesehatan, Jumlah kasus DBD yang terjadi di Kabupaten Kudus mulai dari tahun 2014 hingga Januari 2024 terbilang cukup tinggi dengan rata-rata ratusan kasus terjadi setiap tahunya. Pada tiga tahun terakhir telah tercatat 553 kasus dengan 8 kematian pada tahun 2022, 377 kasus dengan 2 kematian pada tahun 2023, dan pada Januari 2024 telah mencapai 35% dari kasus DBD tahun 2023 yaitu 119 kasus. Hal tersebut membuktikan signifikannya peningkatan kasus DBD yang terjadi pada tahun 2024.

Data hasil surveilans kasus DBD menunjukkan persentase distribusi penderita DBD berdasarkan kelompok usia pada tahun 2018 hingga 2022, lebih banyak terjadi pada kelompok usia 5-14 tahun dengan persentase 52%-73%. Persentase distribusi pada anak usia 0-4 tahun yaitu 16%-26% dan usia 15-64 tahun terjadi dengan persentase yang hampir sama yaitu 16%-25%. Pada usia lebih dari 65 tahun sangat sedikit kasus DBD yang terjadi dan hanya terjadi sebanyak 2% pada tahun 2018,” ungkap mahasiswi Program Studi Biologi, Fakultas Bioteknologi itu.

Epidemiologi DBD

Menurut Stefani, Peningkatan kasus DBD yang terjadi secara signifikan dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu lingkungan fisik (iklim) seperti curah hujan, suhu, dan kelembapan; lingkungan biologi mengenai keberadaan tanaman (vegetasi) dan breeding places; serta lingkungan sosial mengenai perilaku masyarakat, sanitasi lingkungan buruk, dan kepadatan penduduk.

Kemudian, kata Stefani, Iklim dapat mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk dalam hal pola kawin dan bertelur, pola makan nyamuk betina, serta kemampuan nyamuk betina dalam menularkan virus. Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus aktif menggigit pada pagi hari pukul 09.00-10.00 dan sore hari pukul 15.00-16.30. Intensitas curah hujan yang tinggi, suhu, dan kelembapan udara pada kondisi ideal untuk perkembangbiakan nyamuk dapat meningkatkan populasi nyamuk secara signifikan dan meningkatkan kesempatan nyamuk untuk menjadi vektor penyakit DBD dalam kurun waktu lebih lama.

Lingkungan biologi mengenai keberadaan tanaman seperti tanaman pekarangan, tanaman hias, semak-semak atau tanaman perdu yang rimbun, serta keberadaan breeding places seperti tanaman hias bermedia air, akuarium, drum air, kaleng bekas, ban bekas, potongan bambu, dan benda lain yang berpotensi menjadi genangan air di sekitar rumah dapat menjadi tempat nyamuk untuk berkembangbiak. Hal tersebut dapat memperbesar peluang nyamuk untuk menjangkau lingkungan rumah dan menginfeksi manusia (host).

Selain hal tersebut, lanjut Stefani, faktor sosial yang menyebabkan tingginya kasus DBD yaitu kebiasaan buruk masyarakat seperti menggantung pakaian bekas pakai, tidak menggunakan kelambu dan obat anti nyamuk, kurangnya kesadaran untuk melakukan kegiatan PSN 3M+, tidak menguras air bak mandi, membiarkan genangan air dan tumpukan sampah di sekitar tempat tinggal, serta tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di beberapa kecamatan di Kabupaten Kudus. Hal tersebut dapat memperbanyak tempat-tempat perkembangbiakan (breeding places) nyamuk di dalam dan sekitar rumah serta meningkatkan potensi perluasan daerah penyebaran vektor dan penularan virus dengue kepada manusia.

Banyaknya faktor pendukung yang dapat meningkatkan terjadinya kasus DBD tersebut mengharuskan untuk dilakukannya program pengendalian agar terhentinya penyebaran DBD, sehingga kasus DBD dapat semakin berkurang.

Pengendalian DBD

Tingginya kasus DBD, masih kata Stefani, dapat mengancam nyawa manusia terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan individu dengan kondisi medis tertentu, serta memengaruhi kualitas hidup, dan kesehatan mental manusia. Oleh karena itu, diperlukannya pengendalian yang dilakukan secara maksimal untuk menekan angka kasus DBD.

Pemerintah Kabupaten Kudus telah melakukan berbagai upaya pengendalian melalui berbagai program guna menanggapi tingginya kasus DBD. Upaya pengendalian tersebut meliputi surveilans epidemiologi penyakit DBD, pelayanan kesehatan, serta pengendalian vektor DBD terpadu melalui pengelolaan lingkungan, pengendalian biologis, pengendalian kimiawi, dan pemberdayaan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus membentuk tim verifikasi untuk melakukan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN), pemberian bubuk abate kepada masyarakat secara gratis, screening DBD, sosialisasi gerakan PSN 3M plus, dan mengeluarkan surat edaran yang menginstruksikan agar setiap rumah memiliki juru peman.tau jentik (Jumantik). Program pengendalian DBD yang dilakukan oleh pemerintah tidak akan berjalan secara maksimal tanpa adanya peran serta masyarakat, karena justru masyarakatlah yang memiliki peranan penting dalam upaya pengendalian kasus DBD.

Menurut Stefani, Surveilans epidemiologi merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam pengendalian DBD dan memerlukan peran aktif masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dilakukan agar masyarakat dapat berperan aktif dalam pengendalian DBD, salah satunya melalui kegiatan Surveilans Berbasis Masyarakat.

Surveilans Berbasis Masyarakat merupakan kegiatan pengamatan, pelaporan, dan respon dini oleh masyarakat secara terus menerus dan sistematis terhadap gejala penyakit dan faktor risiko yang menjadi tanda munculnya suatu permasalahan kesehatan di masyarakat kepada pemerintah setempat maupun dinas terkait.  Surveilans Berbasis Masyarakat akan sangat membantu pemerintah dalam merespon dan mendeteksi kasus yang terjadi secara lebih cepat.

“Masyarakat juga diharuskan untuk menjalankan gerakan PSN 3M plus (Pemberantasan Sarang Nyamuk Menguras, Menutup dan Mengubur). Plus-nya adalah bentuk upaya pencegahan tambahan seperti memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, daur ulang sampah yang bernilai ekonomis, serta gotong royong membersihkan lingkungan.

Kesadaran diri masyarakat untuk berperan aktif dan menghentikan kebiasaan buruk yang dapat menimbulkan kasus baru merupakan tindakan tepat dalam pengendalian DBD. Antar masyarakat dan masyarakat dengan pemerintah harus mampu bekerja sama dengan baik, sehingga program pengendalian dapat berjalan secara maksimal dan kasus DBD dapat berkurang,” pungkasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :