Kudus, isknews.com – Berjualan mie ayam sejak 1991, Suro (56) dikenal sebagai salah satu pedagang mie ayam paling lama di Kudus. Ia merupakan seorang perantau dari Pekalongan, datang ke Kudus dengan modal nekat karena merasa di kampung halamannya sudah terlalu banyak pesaing. Kudus menjadi pilihan untuk mulai segalanya dari awal.
“Di Pekalongan sudah banyak yang jualan mie ayam. Saya juga sempat merantau ke Jakarta. Tapi akhirnya saya nekat berangkat ke Kudus,” ujarnya.
Suro tak sendirian waktu itu. Ia berangkat bersama sembilan orang lain yang juga ingin mencoba peruntungan. Namun seiring waktu, satu per satu menyerah dan kembali pulang.
Berawal dari keliling dengan gerobak di Kudus pada tahun 1991, Suro kini telah memiliki kios tetap di Gang 7, Mlati Norowito, Kudus. Selama lebih dari tiga dekade, ia bertahan sebagai penjual mie ayam, tanpa pernah tinggalkan usahanya sekalipun.
Resep mie ayam yang ia racik juga tak lahir dari satu formula tetap. Bertahun-tahun ia sempurnakan cita rasa berdasarkan komentar pembeli. Hingga akhirnya, seorang pelanggan di daerah Salam berkata bahwa rasa mie ayamnya sudah pas. Sejak saat itu, resep tersebut menjadi racikan tetap yang ia gunakan hingga sekarang.
Meski kini tidak lagi buat mie sendiri seperti saat awal-awal berdagang, Suro tetap pertahankan kualitas rasa dan pelayanan. Ia siapkan dagangan sejak pukul 08.00 pagi dan membuka warung sekitar pukul 11.00-11.30 dan maksimal tutup pukul 21.00 malam. Usahanya hanya berhenti jika ada keperluan besar keluarga, selebihnya ia tak pernah libur berdagang.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, jumlah pembeli mulai turun. Jika dulu ia sanggup sediakan hingga 100 porsi per hari, kini ia hanya siapkan setengahnya.
“Sekarang pembeli memang berkurang, jadi saya ngga berani bikin banyak. Hari ini cuma berani bikin 50 porsi” ujarnya saat ditemui pada hari Senin (14/7/2025).
Meski begitu, semangatnya untuk terus berjualan tetap menyala. “Saya cuma berharap dagangan bisa seramai dulu lagi,” ucap Suro. (Nayla)







