Bupati Kudus Tinjau SDN 1 Adiwarno, Bahas Solusi Minimnya Siswa Baru

oleh -142 Dilihat
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris turun langsung meninjau kondisi SDN 1 Adiwarno, Kecamatan Mejobo, yang tahun ini tidak mendapatkan satu pun siswa baru. Kunjungan ini dilakukan menyusul kabar bahwa ruang kelas satu di sekolah tersebut kosong karena tidak ada pendaftar pada tahun ajaran 2025/2026.

Dalam kunjungannya pada Sabtu, 19 Juli 2025, Bupati menyatakan prihatin atas fenomena ini dan mengungkapkan akan segera melakukan kajian menyeluruh untuk mencari penyebab sekaligus solusi terbaik.

“Kita akan kaji lebih dalam kenapa muridnya bisa sedikit. Apakah karena program Keluarga Berencana (KB) berhasil, jumlah anak usia sekolah menurun, atau karena masyarakat lebih memilih sekolah swasta yang dianggap lebih unggul,” jelas Sam’ani.

SDN 1 Adiwarno saat ini hanya memiliki 23 siswa aktif yang tersebar di kelas dua hingga enam. Tidak ada satu pun siswa baru yang mendaftar di kelas satu tahun ini. Jumlah siswa terus mengalami penurunan setiap tahunnya, bahkan beberapa kelas hanya diisi dua atau tiga siswa.

Bupati juga menyoroti lokasi sekolah yang berada satu kompleks dengan SDN 2 Adiwarno, yang membuat persaingan dalam penerimaan siswa baru semakin ketat. Selain itu, berkembangnya wacana penggabungan sekolah (regrouping) di tengah masyarakat disebut turut memengaruhi minat orang tua untuk menyekolahkan anak di SDN 1 Adiwarno.

“Kalau memang diperlukan regrouping, itu nanti juga akan kita kaji. Karena ini tidak hanya terjadi di sini. Sekolah-sekolah lain dalam satu kompleks seperti di Kesambi juga akan menjadi perhatian,” tambahnya.

Sementara itu, Plt Kepala SDN 1 Adiwarno, Siti Lestari, mengaku pihak sekolah sudah berusaha keras mencari siswa, termasuk melakukan sosialisasi dari rumah ke rumah. Namun, sebagian besar orang tua memilih menyekolahkan anak ke tempat lain.

“Kami sudah sosialisasi langsung ke warga. Tapi kebanyakan ikut kakaknya atau memilih sekolah lain yang jaraknya lebih dekat,” ujar Siti Lestari.

Ia menyebut bahwa dengan tidak adanya siswa baru, peran guru juga terdampak. Guru kelas satu kini harus membantu di kelas lain, dan keberlanjutan tenaga guru wiyata pun ikut terancam.

Saat ini, SDN 1 Adiwarno memiliki delapan guru yang terdiri dari dua guru PNS, tiga guru PPPK, dan dua guru wiyata. Fasilitas sekolah juga masih terbatas. Meski kamar mandi baru diperbaiki, kondisi atap masih bocor dan kusen pintu serta jendela sudah banyak yang rusak.

“Kalau memang nantinya harus diregroup, kami siap mengikuti arahan dari dinas,” pungkasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :