Kudus, isknews.com – Prosesi Tradisi Kupatan Kanjeng Sunan Muria di Taman Ria, Desa Colo, Keamatan Dawe, Kabupaten Kudus pagi tadi berlangsung meriah. Ribuan warga Kudus hadir menyaksikan perhelatan budaya warga masyarakat dl lereng Gunung Muria yang di gelar pada tiap sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, atau yang di kenal dengan nama Bodo Kupat, Rabu (12/06/2019).
Ditandai dengan 21 gunungan kupat dan lepet. yang dibawa masing-masing setiap Desa yang ada di Kecamatan Dawe usai dilakukan prosesi di Makarn Sunan Muria, kupat dan lepet yang telah dikemas meniadi beberapa gunungan. kemudian diusung turun dan menuju ke Taman Ria yang melibatkan lebih kurang 400 orang pengangkut gunungan.
Sebelumnya sempat digelar pentas tari kontemporer yang mengisahkan kebhinekaan di Indonesia yang dilakukan oleh anak-anak dari SD 2 Japan, siswa SMK N 2 Kudus dan para remaja warga Desa Colo dan sekitarnya.
Mereka menampilkan lagu dari sejumlah daerah dan diiringi muslk kolaborasi diatonik dan pentatonik dengan selingan penari latar. Pertunjukan tersebut bertema “Kupat untuk Indonesia Bersatu”.
Dalam kesempatan tersebut Bupati Kudus Ir H Muhammad Tamzil menyerahkan secara simbolis kupat dan lepet kepada tokoh warga. Sebelumnya dilakukan penyerahan Surat Wasiat dari juru kunci Makam Sunan Muria kepada Kepala Desa Colo Awang Ristihadi.

Dari pantauan media ini, ribuan warga berebut gunungan ketupat yang digantungkan di
Mereka memanggul gunungan dan diletakkan di depan panggung. Kemudian, acara dilanjutkan dengan berbagai kesenian Setelah itu, perwakilan desa mendoakan acara di muka panggung.
Belum sempat doa berakhir, warga langsung mendekati gunungan ketupat. Mereka spontan merebut gunungan ketupat. Suasana makin riuh meski panitia berupaya menenangkan warga agar bersabar.
Namun warga tetap asyik dan larut dalam rebutan ketupat. Tak lama kemudian, gunungan itu menyisakan kerangka bambu saja.
“Saya sengaja ikut meramaikan. Saya ikut rebutan ketupat barusan,” kata seorang warga yang ikut rebutan ketupat, Mujahidin (40) ditemui tengah mengumpulkan banyak ketupat dari gunungan.
Warga Kabupaten Brebes ini rela datang dari daerahnya. Selain untuk berziarah ke Makam Sunan Muria, Mujahidin ikut pula berebut ketupat dari gunungan.
“Harapannya dapat berkah Sunan Muria,” harap Mujahidin.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Kasmudi menjelaskan acara dimaksudkan untuk melestarikan budaya, dan mempromosikan budays Kudus. Serta memberi hiburan kepada masyarakat.
“Prosesi kupatan kanjeng Sunan Muria di Colo ini untuk mempromosikan budaya Kudus. Sebelumnya manakib, dan ziarah ke makam Sunan Muria. Setidaknya ada 21 gunungan kupat dan lepet, empat gunungan merupakan persembahan darl empat RW di Desa CoIo serta 17 gunungan dari masing-masing desa di wilayah Kecamatan Dawe,” kata dia.
Usai pelaksanaan prosesi budaya Bupati Kudus M Tamzil mengunjungi berbagai stand UMKM yang di lakukan oleh warga Colo dan sekitarnya.
“Saya amati di dalam setiap even budaya di Kudus, kini sudah berkembang menjadi tak hanya prosesi kebudayaan dan pertunjukan seni saja, tapi warga Kudus sudah mengerti konsep Gusjigang yang sebenarnya, ada kesadaran untuk mengembangkan jiwa wirausaha pada diri mereka, dengan memanfaatkan even-even budaya untuk mendisplai produk-produk dagangan mereka,” ujar Bupati Kudus.

Menurutnya ini bagus, banyak produk-produk adalan lokal seperti kopi Muria atau Ubi Ganyong yang kemudian diproses menjadi penganan yang menarik dan berbeda.
“Kalau soal pemasaran, mereka sudah tak bermasalah, mereka sudah mengerti usaha dagang berbasis online, kita tinggal mendorong mereka pada kemasan dan perijinannya saja,” ujar Tamzil. (YM/YM)











