Curah Hujan Tinggi, Rendam Ratusan Hektar Sawah di Kawasan Undaan, Nilai Kerugian Ratusan Juta

oleh

Kudus, isknews.com – Curah hujan tinggi yang melanda wilayah Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus pada sepekan terakhir, telah mengakibatkan terendamnya 275 hektar sawah di 3 Desa di Kecamatan tersebut.

Desa Lambangan, Berugenjang dan terparah melanda Desa Wonosoco. Para petani diwilayah ketiga desa tersebut ditaksir menderita kerugian hingga
mencapai ratusan juta rupiah.

Sejumlah bibit padi yang telah ditanam untuk persiapan musim tanam pertama (MT I) 2019/2020 tidak dapat diselamatkan. Kondisi bibit rusak dan
membusuk sehingga tidak dapat ditanam.

Ratusan hektar sawah di Kecamatan Undaan Kudus terendam air akibat curah hujan tinggi sepekan terakhir (Foto: YM)

Salah seorang petani yang juga Ketua Gapoktan Desa Wonosoco Undaan,
Khumaidi mengatakan, sawah tenggelam di desanya mencapai 150 hektare
dari luas lahan pertanian keseluruhan sekitar 370 hektare.

Kejadian justru ketika bibit padi tinggal tanam, namun tiba- tiba datang hujan yang terjadi secara beruntun dalam beberapa hari hingga air menggenang.

TRENDING :  Doakan Mahasiswa Kendari Yang Gugur Tetembak Peluru Aparat, IMM dan PMII Kudus Gelar Salat Gaib

Kondisi persawahan semakin buruk setelah mendapat tambahan kiriman air dari limpasan Sungai Londo yang tak jauh dari tempat itu.

“Sudah sekitar sepuluh hari ini sawah berisi bibit tanaman terendam air,”
ujarnya, Senin (2/12/2019).

Kepala Desa Wonosoco, Setiyo Budi menambahkan, bibit tanaman yang terendam lebih dari seminggu akan membusuk.

Menurutnya, kawasan Wonosoco dan sekitarnya merupakan daerah cekungan sehingga ketika datang musim hujan petani selalu was- was karena khawatir sawah mereka akan tenggelam.

Kondisi seperti itu hampir terjadi setiap tahun, bahkan petani sampai mengalami tiga kali gagal setiap musim tanam.

“Ini kegagalan tanam pertama pada MT I tahun ini,” terangnya.

TRENDING :  Desa Undaan Tengah Terus Berbenah

Hal senada diungkapkan Kades Berugenjang Undaan, Kiswo. Akibat tingginya curah hujan dan limpasan Sungai Londo, sawah di desanya yang
tenggelam mencapai sekitar 75 hektare.

Perlu campur tangan pemerintah untuk mengatasi persoalan klasik yang terjadi setiap tahun tersebut. Salah satunya melalui normalisasi Sungai Londo.

Tahun lalu pemerintah kabupaten (pemkab) telah melakukan normalisasi atas izin Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana di Semarang. Namun normalisasi Sungai Londo belum tuntas.

“Normalisasi harus dilanjutkan agar genangan air di lahan pertanian dapat keluar melalui Sungai Londo,” ungkapnya.

Selain itu perlu dibangun pintu air di pertemuan Sungai Londo dengan saluran  JU-3DA. Pintu air penting agar air tidak naik ke JU-3DA ketika Sungai Londo penuh.

TRENDING :  Harga Gabah di Blora Merosot

Hal lain agar kawasan itu tidak mudah terendam maka perlu optimalisasi lahan. Sebagian petani sudah memulai pengurukan pada lahan sawah yang cekung, tetapi belum optimal.

“Untuk normalisasi Sungai Londo, pembuatan pintu air dan optimalisasi
lahan butuh dana besar, sehingga perlu campur tangan pemerintah atau
pihak berwenang,” tegasnya.

Sementara Camat Undaan, Rifai Nawawi menyatakan, sawah berisi bibit
tanaman padi yang terendam di tiga desa di Undaan mencapai 275
hektare, masing- masing Desa Wonosoco 150 hektare, Desa Berugenjang 75
hektare dan Desa Lambangan 50 hektare.

“Kerugian akibat sawah yang terendam itu mencapai sekitar Rp 275 juta,” tandas dia. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :