Wayang Klithik Wonosoco Kembali Pentas, Angkat Babad Lokal

oleh -535 Dilihat
Foto: istimewa

Kudus, isknews.com – Wayang Klithik Wonosoco kembali menyapa publik melalui sebuah pementasan yang mengangkat babad sejarah lokal, menandai upaya menghidupkan kembali seni tradisi kayu yang kian terpinggirkan oleh arus modernisasi. Pementasan tersebut menjadi ruang penting bagi Wayang Klithik untuk kembali hadir di tengah masyarakat, tidak sekadar sebagai tontonan, tetapi juga sebagai penutur sejarah dan nilai-nilai leluhur.

Wayang Klithik Wonosoco merupakan seni pedalangan berbahan kayu yang tumbuh dan berkembang selama ratusan tahun di Desa Wonosoco, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Berbeda dengan wayang kulit yang bertumpu pada epos Mahabharata dan Ramayana, Wayang Klithik Wonosoco menyampaikan kisah-kisah babad lokal yang merekam asal-usul desa, konflik kekuasaan, hingga relasi manusia dengan alam dan spiritualitas.

Saat ini, keberlangsungan Wayang Klithik berada di titik rawan. Seni tradisi ini hanya menyisakan satu dalang aktif, yakni Ki Sutikno, generasi kedelapan pewaris Wayang Klithik Wonosoco. Minimnya regenerasi membuat praktik pedalangan yang dahulu lekat dengan ritual desa kini hanya tampil pada momentum tertentu, seperti sedekah bumi atau merti sumber.

Kondisi tersebut mendorong penggiat budaya asal Kudus, Bustomy Rifa Aljauhari, menggagas program bertajuk Sang Dalang Terakhir. Program ini dirancang sebagai upaya penyelamatan Wayang Klithik Wonosoco melalui dokumentasi film, penguatan ruang pertunjukan, serta kegiatan edukatif yang melibatkan masyarakat dan komunitas seni.

“Wayang Klithik bukan sekadar arsip budaya. Ia adalah praktik budaya hidup yang memuat pengetahuan sejarah lokal, relasi manusia dengan alam, serta nilai spiritual masyarakat Jawa,” ujar Bustomy.

Ia menjelaskan, Wayang Klithik Wonosoco memiliki keterkaitan erat dengan ritual merti sumber yang dijalankan masyarakat setempat. Wayang berfungsi sebagai medium doa, pengingat sejarah, sekaligus sarana pendidikan moral yang diwariskan lintas generasi.

Program Sang Dalang Terakhir melibatkan berbagai penggiat seni dan komunitas budaya di Kabupaten Kudus dengan tujuan membuka ruang regenerasi serta menumbuhkan kembali minat generasi muda terhadap Wayang Klithik.

“Harapannya, melalui dokumentasi dan pertunjukan yang dikemas relevan dengan zaman, Wayang Klithik dapat kembali memiliki ruang hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Upaya pelestarian ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Dana Indonesiana sebagai bentuk komitmen negara menjaga tradisi budaya yang terancam putus regenerasi.

Sementara itu, Ki Sutikno mengungkapkan kegelisahannya terhadap masa depan Wayang Klithik Wonosoco. Menurutnya, ancaman terbesar bukan hanya ketiadaan penerus, tetapi juga hilangnya makna wayang sebagai suara leluhur desa.

“Wayang Klithik bukan hanya pertunjukan. Di dalamnya ada doa, nilai, dan sejarah desa. Jika tidak diwariskan, semua itu bisa hilang,” tuturnya.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kudus, Jatmiko Muhardi Setyanto, menilai Wayang Klithik sebagai kekayaan budaya khas Kudus yang perlu dikenalkan lebih luas.

“Harapannya, Wayang Klithik tidak berhenti pada satu generasi. Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi dan ruang publik agar seni tradisi ini tetap relevan,” ujarnya.

Sebagai puncak rangkaian program, Wayang Klithik Wonosoco dipentaskan pada Sabtu (10/1/2026) pukul 19.00 WIB di Taman Padang Mbulan, Wates, Undaan, Kudus. Pementasan tersebut menghadirkan lakon baru yang tetap berpijak pada babad lokal, sekaligus menjadi dialog antara tradisi dan realitas sosial masa kini.

Bagi masyarakat Wonosoco, pementasan ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan ikhtiar menjaga babad sejarah agar tetap hidup, bergerak, dan terus diceritakan dari balik kelir wayang kayu. (AS/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.