Kudus, isknews.com – Sebagai akses menuju destinasi wisata, perbaikan jalan rusak menuju Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus yang sisa penyelesaian pembangunan jalan kurang sekitar 1,2 Km lagi diupayakan secara bertahap. Selain menggunakan dana APBD Kabupaten Kudus, diusulkan dana bantuan dari Gubernur Jateng pada APBD Perubahan 2020.
Asisten II Bidang Ekonomi Kesejahteraan dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kudus, Ali Rifai, saat ditemui di lokasi, Selasa (03/12/2019), menyatakan tahun depan akan dilakukan perbaikan melalui paket pengerjaan senilai Rp 200 juta.
“Pada anggaran tahun 2020 ini kan ada anggaran 200 juta untuk jalan dan Rp 200 juta untuk talut, namun perbaikan ini sementara kita akan gunakan anggaran rutin dulu supaya baik, sebelum kita bangun total jalan cor nanti. Untuk melanjutkan perbaikan jalan yang sudah dilakukan sebelumnya, sebagai akses jalan wisata,” paparnya.

Selain itu, pada APBD Perubahan Provinsi Jateng melalui Bantuan Gubernur Jateng akan diusulkan program penyelesaian secara komprehensif. Penyelesaian yang dimaksud berupa penuntasan perbaikan jalan yang masih rusak sepanjang 1,2 kilometer, pembuatan talud dan jembatan Sungai Londo.
”Kami mengusulkan dengan untuk tiga kegiatan pembenahan sekaligus,” paparnya.
Menurutnya Pemkab juga ingin menata bagaimana limpahan banjir ini di sawah ini bisa dikurangi dengan penataan, termasuk pembangunan jembatan.
“Masih ada jembatan satu yang belum belum dibangun yaitu Jembatan Kali Londo, sebetulnya kami sudah mengusulkan lama, kemarin dapat satu ini.
Rinciannya, untuk pembuatan talud sepanjang tiga kilometer Berugenjang-Wonosoco Rp 12 miliar, perbaikan jalan Rp 8 miliar dan perbaikan jembatan Rp 5 miliar. Pihaknya belum mengetahui pembenahan mana yang disetujui provinsi.
”Yang jelas, sudah kami usulkan mendasarkan kebutuhan kondisi lapangan,” jelasnya.
Seperti diberitakan
sebelumnya, kerusakan jalan menuju ke Desa Wonsoco, Kecamatan Undaan, hingga
kemarin belum tertangani. Masih ada sekitar satu kilometer ruas yang rusak
berat. Sedangkan ruas lainnya sudah dilakukan pembetonan. Kondisi tersebut
dianggap mengurangi pengoptimalan desa di lereng Pegunungan Kendeng sebagai
kawasan wisata alam dan budaya. (YM/YM)










