Dampak Corona, Aktivitas Buruh Pabrik di Kudus Mulai Dikurangi

oleh

Kudus, isknews.com – Dampak wabah penyebaran virus corona (covid-19), sejumlah perusahaan  di Kabupaten Kudus mulai melakukan pengurangan aktivitas kerja para pegawainya dalam kesehariannya. Di antaranya melakukan efisiensi waktu kerja dengan mengurangi jam kerja perharinya dan menata ulang penjadwalan kerja  dengan system shif dan pengurangan jam kerja dari yang biasa dilakukan saat kondisi normal.

Menurut kepala Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kudus, Bambang Tri Waluyo, pihaknya menerima pemberitahuan pengurangan dan pengaturan ulang puluhan pekerja, terkait dampak penyebaran virus Corona yang dilaporkan oleh sejumlah perusahaan di Kudus.

“Hasil pantauan pengawas ketenagakerjaan yang disampaikan ke kami, pemenuhan hak normatif buruh tetap dikedepankan.  Kami sudah sampaikan pentingnya mengantisipasi dinamika tersebut dengan mengirim surat kepada perusahaan sejak 16 Maret lalu,” kata Bambang Tri Waluyo, Senin (30/03/2020) sore.

TRENDING :  Disnaker Kudus Siapkan Tim Pemantau Pelaksanaan UMK, Buka Saluran Hotline Pengaduan Buruh
kepala Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kudus, Bambang Tri Waluyo

Dia merinci, pengurangan jam kerja misalnya dari delapan jam menjadi lima jam. Pengaturan kerja dari yang semula dalam sehari dilakukan proses produksi tiga shif menjadi dua shif. Semua itu dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan perusahaan dan upaya mengantisipasi penyebaran virus korona.

”Ada pula perusahaan yang melaporan pengurangan produksi,” jelasnya.

Dikatakannya dengan adanya pengurangan aktivitas para pekerja itu, para pekerja pun memahaminya. Karena kebijakan pengurangan waktu kerja itu, seiring dengan adanya surat edaran dan imbauan dari pemerintah untuk mengurangi kegiatan yang sifatnya mengumpulkan massa.

“Belum ada laporan perusahaan yang memberlakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Seandainya hal tersebut terjadi, perusahaan dan pekerja diminta membuat kesepakatan secara bipartit. Kepentingan perusahaan dan pekerja diupayakan terpenuhi menyikapi kondisi sulit seperti sekarang ini,” ujarnya.

TRENDING :  Pilkades Serentak 2019 : Buruh Diminta Gunakan Hak Pilih Pagi Sebelum Kerja, Sejumlah Perusahaan Terbitkan Izin Nyoblos

Saat sekarang, di Kota Keretek terdapat sekitar 700-an perusahaan besar, menengah dan kecil. Adapun jumlah buruh diperkirakan 300 ribuan.

Ia berharap walau ada pengurangan aktivitas kerja yang dialami para pekerja, hak-hak upah para buruh harus tetap diterima. Supaya ekonomi para buruh tetap berjalan normal. 

Sebelumnya, pemerhati persoalan hukum dan perburuhan, Amat Soleh, nasib buruh dikaitkan dengan peningkatan penyebaran virus korona butuh solusi secepatnya. Pasalnya, sejumlah perusahaan mulai menghentikan aktivitas produksinya.

“Jika tidak ada penyikapan dan kemudian terpaksa harus dilakukan penghentian usaha karena dampak korona yang semakin luas, pekerja dan keluarganya akan mengalami kesulitan,” ungkap Soleh.

TRENDING :  Sudah saatnya Pengusaha Terapkan Struktur-Skala Upah

Segala kemungkinan dapat saja terjadi, salah satunya diberlakukannya kebijakan lockdown. Dia mengakui, hingga kemarin pemerintah menjamin tidak akan menerapannya. Namun, bila menyangkut persoalan pandemi yang menjalar ke seluruh penjuru dunia, segala kemungkinan dapat terjadi.

Soleh berharap, jika kondisi terpahit itu benar-benar dialami oleh para pengusaha dan kalangan buruh, hingga terjadi pemutusan hubungan kerja sebelum tanggal 1 Ramadan mendatang, hak tunjangan pemutusan hubungan kerja tetap harus diterima oleh para buruh. 

“Termasuk hak tunjangan hari raya pun harus diterima oleh para pekerja. Pasalnya, terjadinya pemutusan hubungan kerja bukan keinginan para pekerja. Melainkan keinginan pengusaha sebagai dampak kondisi penyebaran wabah virus corona yang berpengaruh pada kelangsungan perusahaan,” ungkapnya.

Ia mengatakan walau pun tanggal 1 Ramadan masih satu bulan lagi, tetapi harus diantisipasi dari sekarang.

“Minimal kita tetap jaga-jaga untuk mewaspadai kemungkinan yang bakal terjadi. Tetapi kami berharap, persoalan penyebaran virus corona ini segera bisa diatasi supaya ekonomi di kalangan pabrik tekstil dan garmen kembali normal,” katanya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :