Dampak Kemarau Panjang Di Kabupaten Pati Ribuan Hektar Padi Alami Puso

oleh

Pati,ISKNEWS.COM-Kemarau panjang yang terjadi tahun ini, menimbulkan dampak yang sangat luas. Selain masyarakat yang mebutuhkan pasokan air bersih, sejumlah sumber air banyak yang mengalami kekeringan. Tak luput, areal pertanian pun tidak bisa ditanami karena kurangnya pasokan air.
Ribuan hektar areal sawah di Kabupaten Pati membutuhkan air. Hingga saat ini para petani tidak bisa berbuat banyak, mereka hanya bisa menunggu hujan dan gelontoran air dari Waduk Kedungombo. Hal ini berakibat pada molornya Musim Tanam I (MT I).

TRENDING :  Agustus 2019, Kelompok Bahan Makanan di Kudus Sumbang Inflasi 0,82 Persen
Areal persawahan di Kecamatan Gabus Pati mengering karena tidak adanya air. (ivan nugraha)


“Musim Tanam I sudah dipastikan mundur. Melihat hujan belum juga turun, juga gelontoran air Kedungombo baru akan dilaksanakan pada 1 November nanti,” ujar Kamelan, petani dari Desa Jambean Kidul Kecamatan Margorejo Pati.
Menurut data Dinas Pertanian(Dispertan) Kabupaten Pati, setidaknya ada 3.700 hektare persawahan di wilayah Kabupaten Pati saat ini mengalami kekeringan. Sedangkan tanaman padi yang dipastikan puso sekitar 1.700 hektare.
“Kemarau ini kan termasuk panjang, jadi banyak sawah yang mengalami kekeringan. Kondisi ini diperparah dengan belum turunnya hujan sampai saat ini,” terang Muhtar Efendi, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati.
Seharusnya, imbuh Muhtar, jika berpatokan pada penghitungan musim, Oktober ini sudah mulai memasuki musim hujan. Disebutkan juga, kapasitas air di Waduk Gembong dan Gunungrowo hanya mampu mencukupi kebutuhan petani sampai pada penanaman, selebihnya tidak bisa.
“Tanaman padi ini kan membutuhkan banyak air, apalagi saat mulai tumbuh. Bagaimana hasilnya bisa bagus kalau saat tumbuh saja kekurangan air. Kasihan mereka yang sudah menanam tetapi hasilnya puso,” terang Muhtar Efendi lebih lanjut.
Kepala Dispertan Pati mengakui sudah melakukan konsultasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemasli Juwana, terkait masalah irigasi tersebut.
“Tapi bagaimana lagi, kondisi embung dan bendungan sendiri sampai saat ini volume airnya sangat kurang,” pungkasnya. (IN)

KOMENTAR SEDULUR ISK :