“Dandhangan: Jembatan Rindu Perantau Kudus.”

oleh -783 Dilihat
Selamat datang kembali, para pejuang rindu. Biarkan riuhnya Dandhangan membasuh lelahmu setelah setahun merantau.( Gambar : ilustrasi )

Sapa Pagi :

Kudus, Ada sebuah suara yang tak pernah gagal menggetarkan hati wong Kudus, sejauh apa pun mereka melangkah. Bukan sekadar suara bedug yang bertalu dari menara, melainkan gema “dhang-dhang-dhang” yang menandai datangnya sebuah musim rindu: Dandhangan.

Bagi para perantau yang sedang berjuang di riuhnya Jakarta, dinginnya kota-kota di luar negeri, atau sunyinya pelosok negeri, Dandhangan bukan sekadar pasar malam tahunan. Ia adalah sebuah magnet emosional. Ia adalah aroma tanah kelahiran yang menyeruak di antara wangi jenang dan keriuhan pedagang. Saat kalender mendekati bulan suci, ada semacam “panggilan batin” yang membuat tiket kereta api ke Stasiun Poncol atau tiket bus menuju Terminal Jati menjadi benda paling berharga.

Dandhangan adalah jembatan rindu. Di sepanjang jalan Sunan Kudus hingga ke area Menara, setiap langkah kaki perantau adalah upaya untuk menjahit kembali kenangan masa kecil yang sempat terlepas. Kita merindukan sesaknya desakan orang-orang di antara lapak mainan tradisional kapal otok-otok, kita merindukan tawa bersama sahabat lama di pojokan stan kuliner, dan kita merindukan suasana magis saat lampu-lampu Menara berpendar menyambut fajar Ramadhan.

Bagi mereka yang tahun ini belum bisa pulang, Dandhangan menjadi luka manis. Melalui layar ponsel, mereka menyaksikan live streaming atau unggahan di media sosial—termasuk di linimasa ISK—dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa iri yang hangat saat melihat kerabat mengunggah foto berlatar Menara dengan takarir, “Dandhangan tahun iki ramene Pol !” Di situlah, jarak terasa begitu nyata, namun cinta pada tanah kelahiran justru semakin menguat.

Dandhangan mengajarkan kita bahwa sejauh apa pun burung terbang, ia akan selalu tahu jalan pulang menuju dahan yang paling nyaman. Tradisi ini adalah pengingat bahwa sebelum kita memasuki bulan penyucian jiwa, kita perlu “pulang” sejenak. Pulang ke rumah, pulang ke pelukan orang tua, dan pulang ke akar budaya yang membentuk jati diri kita sebagai orang Kudus.

Selamat datang kembali, para pejuang rindu. Biarkan riuhnya Dandhangan membasuh lelahmu setelah setahun merantau. Dan bagi Anda yang masih di tanah seberang, titipkan rindumu lewat doa; biarkan semangat Dandhangan tetap menyala di hatimu, meski ragamu belum sampai di pangkuan Kota Kretek.

Sebab di Kudus, setiap tabuhan bedug adalah detak jantung kita semua.( Mr )

No More Posts Available.

No more pages to load.