Kudus, isknews.com – Ribuan bocah atlet bulu tangkis dari 33 provinsi di Indonesia berkumpul di Kudus untuk mengikuti audisi umum PB Djarum 2025. Di antara mereka, ada sosok Muhammad Abidzar Alghifari, bocah berusia 11 tahun asal Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, yang datang dengan semangat membara dan mimpi besar menjadi pemain bulu tangkis profesional.
Abidzar bukan wajah baru di ajang pencarian bakat bulu tangkis ini. Tahun lalu, tepatnya pada 2024, ia sempat lolos ikuti Audisi Umum hingga tahap karantina. Namun, langkahnya harus terhenti di eliminasi kedua. Kala itu, kondisi fisiknya dinilai belum memenuhi standar, terutama dari segi tinggi badan.
“Tahun kemarin gagal karena tingginya masih kurang. Sekarang sudah lebih tinggi, jadi lebih percaya diri,” ujar Abidzar.
Meski kecewa, Abidzar tidak patah arang. Ia justru menjadikan kegagalan itu sebagai bahan evaluasi diri. Baginya, tubuh yang sehat dan siap adalah modal penting untuk bisa bersaing di lapangan.
“Kalau persiapan tahun ini lebih fokus. Latihannya rutin dari jam tiga sore sampai enam sore. Juga lebih disiplin soal makan, nggak sembarang lagi,” tambahnya.
Perjalanan Abidzar menuju Kudus tidaklah mudah. Dari Kota Balikpapan, ia harus menempuh jarak yang jauh dengan biaya yang tidak sedikit. Keluarganya yang hidup sederhana tentu harus berpikir keras untuk mendukung langkahnya. Namun, semangat besar Abidzar mengalahkan segala keterbatasan.
Anak bungsu ini punya cara sendiri untuk mewujudkan mimpinya. Dari hasil kejuaraan lokal yang ia ikuti di Bali, ia menyisihkan uang hadiah sedikit demi sedikit. Tabungan itu akhirnya terkumpul hingga empat sampai lima juta rupiah, cukup untuk membiayai tiket perjalanan, makan, hingga kos selama audisi di Kudus.
“Dari pertandingan-pertandingan di Bali, aku kumpulin. Alhamdulillah bisa terkumpul sekitar empat sampai lima juta rupiah,” ucapnya bangga.
Dalam perjalanan meraih mimpi, Abidzar juga memiliki sosok idola. Ia mengagumi permainan Mohammad Ahsan, pebulutangkis ganda putra andalan Indonesia.
“Aku suka sama Ahsan. Mainnya tenang tapi kuat, selalu fokus di lapangan,” ucapnya malu-malu. Bagi Abidzar, menyaksikan aksi idolanya selalu memberi energi baru untuk terus berlatih dan bermimpi.
Tahun ini adalah kali ketiganya mengikuti audisi umum PB Djarum. Tahun pertama, ia harus pulang lebih awal karena permainannya belum maksimal. Tahun kedua, ia berhasil menembus karantina tetapi terhenti karena faktor fisik. Kini, tahun ketiga, ia kembali dengan semangat yang lebih besar.
“Targetnya masuk karantina lagi, tapi lebih siap. Mudah-mudahan bisa lolos,” katanya penuh percaya diri.
Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, Abidzar sudah terbiasa membagi waktu antara belajar dan berlatih. Sepulang sekolah, ia langsung menuju lapangan untuk latihan.
“Kalau sekolah ya sekolah. Pulang sekolah langsung latihan. Paling capek, tapi ya senang,” ujarnya ringan.
Selain latihan reguler, Abidzar juga menambah porsi latihan mandiri. Pagi hari ia berlari kecil atau melakukan skipping, sementara sore hari ia berlatih bersama klub.
“Kalau privat belum bisa, soalnya biayanya besar. Jadi latihan seadanya,” tambahnya.
Kini, Abidzar kembali berdiri di antara ribuan peserta audisi. Ia bukan sekadar membawa raket dan tas perlengkapan, tetapi juga mimpi yang begitu besar. Setiap ayunan raketnya adalah doa, setiap langkahnya di lapangan adalah harapan.
Bagi sang ibu, Dian, semangat putranya adalah kekuatan. Ia mengingat betul saat Abidzar baru saja sakit, namun tetap bersikeras berangkat ke Kudus demi mengikuti audisi.
“Sebagai ibunya, tentu saya khawatir. Tapi kalau melihat semangatnya, saya tidak tega melarang. Kami pun akhirnya berangkat bersama naik bus dari Balikpapan,” kenangnya.
Meski perjalanan panjang dan melelahkan, Dian merasa semua perjuangan itu sebanding dengan semangat anaknya.
“Kami orang tua hanya bisa mendukung sebisanya. Capek itu pasti, tapi kalau lihat dia semangat, semua terbayar,” ucapnya menutup kisah dengan mata berbinar. (YM/YM)










