Dari Karton ke Kulit: Pengrajin Wayang Muda Penuh Dedikasi

oleh -109 Dilihat
oleh

Kudus, isknews.com – Di sebuah gang kecil bernama Gg. Karang Pakel 1, Kauman, Besito, RT 5 / RW 4, Gebog, Kabupaten Kudus, seorang anak muda tengah memahat masa lalu dengan penuh ketekunan. Muhammad Naufal Satrio (23), mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) yang memilih jalan sunyi menjadi pengrajin wayang kulit. Bukan sekadar profesi, bagi Satrio, wayang adalah cinta, budaya, dan warisan yang harus dijaga.

Keseriusannya dalam menekuni dunia wayang dimulai sejak tahun 2020. Berawal dari rasa iseng dan hobi menggambar tokoh wayang di kertas karton, kini ia mengolah sendiri kulit kerbau menjadi tokoh-tokoh pewayangan yang detail dan bernilai seni tinggi. Proses belajarnya pun tak biasa, otodidak melalui YouTube dan Facebook.

“Awalnya iseng aja, terus lama-lama banyak yang minta dibikinin. Ya sudah, saya seriusin,” ujarnya dengan senyum.

Satrio menjelaskan proses pembuatan wayang kulit cukup panjang. Dimulai dari mengeringkan kulit kerbau selama seminggu (bahkan bisa dua minggu saat musim hujan), kemudian membuat sketsa, menatah (melubangi) dengan alat khusus, menyungging (mewarnai), hingga tahap finishing dengan digapit. Tokoh paling rumit yang ia buat adalah Ratu dan Kayon, karena penuh ornamen kecil yang membutuhkan ketelitian tinggi.

“Bikin satu wayang bisa makan waktu sampai seminggu. Harus sabar banget,” katanya.

Saat ini, banyak pesanan datang dari anak-anak SD hingga SMP yang sedang belajar mendalang di sanggar seni. Permintaan cukup tinggi, meski alat-alat seperti tatah harus ia beli ke Solo karena sulit ditemukan di Kudus.

Sebagai seniman muda, Satrio memiliki harapan besar. Ia ingin semakin banyak generasi muda mengenal dan mencintai dunia wayang. Namun ia juga mengaku, minimnya perhatian dari pemerintah terhadap seni wayang di Kudus menjadi tantangan tersendiri.

“Banyak anak-anak sebenarnya mau belajar dalang, tapi nggak ada fasilitas. Saya harap ada wadah, misalnya festival atau lomba dalang,” harapnya.

Bagi Satrio, wayang bukan sekadar seni. Ia menyebutnya sebagai “ujung tombak budaya Jawa” karena mengandung seni rupa, karawitan, sastra, dan teater dalam satu pertunjukan.

“Selama masih bisa, saya akan terus membuat wayang. Ini bukan sekadar kerja, tapi bentuk cinta saya pada budaya,” tutupnya. (Afif)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
oleh