Kudus, isknews.com – Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi Partai Golkar, Arif Wahyudi, turun langsung membantu penanganan warga terdampak banjir di Kabupaten Kudus.
Tak hanya menyalurkan bantuan, Arif bahkan membuka dapur umum sejak hari pertama banjir melanda, meski rumah pribadinya juga ikut terendam air.
Banjir pertama terjadi pada malam Senin, 12 Januari 2026, dan sejak hari itu pula dapur umum langsung didirikan untuk melayani kebutuhan makanan warga terdampak di sejumlah desa.
“Banjir itu malam Senin, tanggal 12 Januari 2026. Hari Seninnya langsung kita bikin dapur. Ini sudah hari ke delapan dari banjir yang pertama,” ujar Arif Wahyudi saat ditemui di lokasi penyaluran bantuan, Senin (19/1/2026).
Arif menjelaskan, dapur umum tersebut melayani distribusi makanan siap saji ke berbagai wilayah terdampak banjir, mulai dari Desa Payaman, Ngulang, Loranggulon, Karangrowo, Wates, Ngemplak, Undaan Lor, hingga sejumlah desa di Kecamatan Mejobo.
“Setiap hari kami menyediakan makanan siap saji dan kami kirim ke pos pengungsian maupun balai desa lewat koordinasi kepala desa. Jumlahnya kami sesuaikan dengan data pengungsi. Di Payaman sekitar 200-an jiwa, di Ngulang juga sekitar itu,” jelasnya.
Pada hari-hari awal banjir, Arif mengungkapkan dapur umum harus memasak dalam jumlah besar untuk mencukupi kebutuhan warga terdampak di seluruh Kabupaten Kudus.
“Dari hari pertama sampai hari kelima itu cukup berat, karena rata-rata kami harus memasak sekitar 10 ribu porsi per hari untuk dibagikan,” ungkapnya.
Seiring berkurangnya genangan di beberapa wilayah dan kondisi relawan yang mulai kelelahan akibat aktivitas memasak selama 24 jam, dapur umum kemudian beralih menyalurkan bahan baku mentah ke desa-desa yang masih terdampak cukup parah.
“Relawan kami banyak yang kelelahan karena masak siang malam. Maka hari ini kami putuskan mengirim bahan mentah seperti beras, mie instan, telur, susu, dan minyak goreng ke desa-desa yang masih berat,” katanya.
Arif menegaskan, seluruh upaya yang dilakukan murni atas dasar kemanusiaan. Ia mengaku sangat memahami kondisi warga karena merasakan langsung dampak banjir di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.
“Ini soal kemanusiaan. Rumah saya juga kebanjiran, saya tahu bagaimana rasanya. Kita bersyukur masih bisa bergerak dan punya tempat yang bisa dijadikan dapur, untuk apa kalau bukan berbagi dengan saudara-saudara kita yang terdampak banjir,” tuturnya.
Sebagai anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Arif memastikan akan mendorong langkah pemulihan pascabanjir, khususnya di bidang kesehatan dan sosial.
“Setelah ini kita fokus recovery, mulai dari trauma healing, kesehatan fisik, hingga bantuan sosial. Rumah warga yang jebol akan kami dorong masuk program RTLH sesuai kelayakan. Untuk infrastruktur, tentu akan kami koordinasikan dan kolaborasikan dengan pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Payaman, Nurhadi, menyampaikan bahwa banjir di wilayahnya mulai terjadi sejak Senin, 12 Januari 2026, dan semakin meningkat pada Selasa (13/1/2026) hingga akhirnya dilakukan evakuasi warga pada Rabu (14/1/2026).
“Ketinggian air saat evakuasi sekitar 83 sentimeter. Sempat naik hingga 97 sentimeter, dan hari ini sudah mulai surut di kisaran 90 sentimeter,” jelas Nurhadi, Senin (19/1/2026).
Ia menyebutkan, banjir merendam wilayah Karanganyar dan merambah hingga Dukuh Kayaman serta Dukuh Banca.
Dari total 802 rumah, sebanyak 286 rumah terdampak banjir, dengan jumlah pengungsi mencapai 213 jiwa per hari ini.
“Posko pengungsian kami pusatkan di SD Negeri 1 Payaman. Dapur umum mulai berjalan sejak hari Rabu,” imbuhnya.
Nurhadi juga mengapresiasi bantuan dari Arif Wahyudi dan Fraksi Partai Golkar yang sejak hari pertama telah membantu memenuhi kebutuhan logistik warga pengungsian.
“Alhamdulillah sejak awal kami dibantu nasi bungkus matang. Hari ini dapur umum beliau memang sudah ditutup, tapi sisa logistik masih akan dibawa ke sini,” katanya.
Untuk layanan kesehatan, ia memastikan pengungsi mendapatkan pendampingan optimal.
“Pelayanan kesehatan 24 jam dibagi tiga sif dari Puskesmas Jepang dan rumah sakit se-Kabupaten Kudus. Keluhan paling banyak gatal-gatal, sementara lansia dan anak-anak relatif aman,” pungkasnya. (YM/YM)










