Kudus, isknews.com – Hilal yang diamati di Kabupaten Kudus tercatat masih berada di bawah 3 derajat, sehingga tidak tampak saat pelaksanaan rukyatul hilal dan belum memenuhi kriteria penentuan awal Syawal 1447 Hijriyah.
Kondisi tersebut terungkap dalam kegiatan rukyatul hilal yang digelar Kementerian Agama Kabupaten Kudus di Gedung Laboratorium Terpadu lantai 5 di MAN 2 Kudus, Kamis (19/3).
Dalam pengamatan yang dilakukan sejak matahari terbenam sekitar pukul 17.49 WIB hingga 17.58 WIB, seluruh petugas tidak berhasil melihat hilal. Pemantauan telah dilakukan dengan bantuan alat optik seperti teodolit dan teropong, namun hasilnya tetap nihil.
Kepala Kementerian Agama Kudus, Shony Wardana, menjelaskan bahwa penentuan 1 Syawal mengacu pada kriteria yang disepakati dalam forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.
“Dari hasil perhitungan tim, posisi hilal di Kudus hanya sekitar 1 derajat dengan elongasi 3,8 derajat, sehingga masih berada di bawah kriteria yang ditetapkan,” ujarnya.
Dengan hasil tersebut, pihaknya memperkirakan Hari Raya Idul Fitri 1447 H berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Meski demikian, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah pusat.
Shony menambahkan, meskipun ada sebagian kelompok masyarakat yang telah menetapkan 1 Syawal lebih awal, pihaknya mengimbau agar perbedaan tersebut disikapi dengan bijak.
“Kami mengajak masyarakat untuk saling menghormati perbedaan dan tetap menjaga kerukunan dalam menyambut Idul Fitri,” pesannya.
Ia juga menegaskan bahwa momentum Lebaran seharusnya menjadi ajang mempererat persaudaraan, bukan sebaliknya menimbulkan perpecahan akibat perbedaan penentuan hari raya. (AS/YM)








