Kudus, ISKNEWS.COM – Setelah sukses melakukan uji coba penanaman bawang merah pada lahan demplot seluas 2 hektare tahun lalu, kini Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kabupaten Kudus mulai melakukan produksi bawang merah.
Lahan persawahan seluas 20 hektare di tiga kecamatan disiapkan untuk ditanami bawang merah yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Lahan tersebut akan digarap oleh delapan kelompok tani.
Kepala Distanpangan Kudus Catur Sulistiyanto didampingi Plt Kabid Tanaman Pangan dan Perkebunan Arin Nikmah mengatakan, penyiapan lahan seluas 20 hektare sesuai dengan alokasi yang diperoleh dari Direktorat Hortikultura Kementerian Pertanian.
“Lahan 20 hektare dibagi di tiga kecamatan yakni Kecamatan Kota, Kecamatan Undaan, dan Kecamatan Bae,” katanya saat ditemui di kantornya, Kamis (31/05/2018). Dia menjelaskan, secara rinci di Kecamatan Kota seluas 4 hektare, Kecamatan Undaan, 14 hektare, dan Kecamatan Bae 2 hektare.
Penyediaan lahan 20 hektare untuk penanaman bawang merah juga sebagai tindak lanjut dari demplot tahun lalu yang dirasa memiliki nilai lebih, dan sangat potensial untuk peningkatan perekonomian petani.
“Kita akan melakukan pendampingan dan memberikan bantuan kepada petani yang bersedia menanam bawang merah,” tukasnya.
Bantuan yang dimaksut meliputi pemberian bibit bawang merah, sarana produksi (saprodi), dan sarana alsintan (saprotan) seperti pupuk dan obat-obatan lainnya. “Penanaman tahap pertama dilakukan di wilayah Kecamatan Kota, sisanya akan dilaksanakan September 2018,” imbuh Catur.
Ditambahkan, untuk bibit yang diberikan merupakan varietas Bima dan Bauji, di mana ini merupakan bibit unggu dari Brebes yang merupakan kiblatnya bawang merah di Indonesia. Nantinya akandisediakan bibit 1-1,2 ton per hektare.
“Kami akan berusaha untuk memaksimalkan potensi yang ada dan menyesuaikan kondisi geografis di Kudus. Tuntutan agar selalu berinovasi akan kita jawab dengan berbagai terobosan, kalaupun tidak mampu mengalahkan Brebes dalam produksi bawang merah, setidaknya bisa menyamai,” tandasnya.
Disinggung masih minimnya minat petani beralih ke bawang merah, menurutnya dikarenakan karena para petani sudah merasa nyaman dengan tanaman yang saat ini ditanam. Apalagi bawang merah ini, lanjutnya, membutuhkan modal yang cukup besar.
Sehingga membuat petani harus berfikir dua kali untuk beralih. “Tapi kami tetap optimistis ke depan akan banyak petani yang tertarik mengembangkan bawang merah, karena harga jualnya lebih menjanjikan,” katanya.
Catur mengungkapkan, jika harga bawang merah di pasaran minimal Rp 20 ribu maka petani dipastikan mendapatkan untung besar. Namun jika di bawah itu tergantung dari hasil produksinya. “Biasanya satu bibit bawang merah bisa tumbuh delapan sampai 10 bawang merah,” pungkasnya. (MK/WH)










