DKK Kudus Gencar Sosialisasi dan Edukasi Tekan Angka Stunting

oleh -248 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus terus melakukan upaya pemantauan guna menekan angka stunting di Kota Kretek. Plt Kepala DKK, dr Aziz Achyar melalui Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Muslimah mengatakan pihaknya terus berupaya melakukan sosialisasi dan edukasi kepada ibu-ibu hamil terkait hal tersebut.

Musimah menjelaskan, Stunting sendiri merupakan kondisi dimana tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak lainnya yang sebaya.

“Jika stunting dapat dicegah sejak ibu hamil, hingga bayi lahir usia dua tahun,” kata dia, Rabu (02/09/2020).

Menurutnya, kondisi ibu hamil KEK (Kurang Energi Kronis) yang menandakan ibu hamil tersebut kurang gizi, dapat menjadi pemicu terjadinya stunting.

Foto ilustrasi sejumlah petugas dari DKK saat berikan sosialisasi dan edukasi terkait pencegahan stunting kepada ibu-ibu (Foto: istimewa)

“Intervensi kehamilan, dimulai dari bagaimana pemeriksaan kehamilannya, bagaimana status gizi ibu hamil, ada penyakit penyerta atau tidak, itu juga berpengaruh. Sehingga kalau ibu hamil kurang energi kronis (KEK), lingkar lengan kurang dari 23 cm itu berarti kan kurang gizi,” paparnya.

Jika hal tersebut tidak diatasi sejak masih hamil, maka terdapat kemungkinan bayi yang ia kandung mengalami IUGR (Intra Uterine Growth Restriction) atau gangguan tumbuh kembang di dalam rahim. Dimana hal itu berpotensi bayi yang lahir nantinya bisa kurang dari 2,5 kg.

“Itu juga awal langkah untuk terjadinya stunting. Makanya kita pantau dari sejak ibu masih hamil,” imbuhnya.

Setelah lahir, lanjut Muslimah, ibu hamil itu juga harus mendapatkan pelayanan yang terbaik. Seperti persalinan dengan tenaga kesehatan, sehingga bayi lahir dengan normal dan selamat.

Lebih lanjut, Muslimah juga mengimbau agar seteah melahirkan, ibu harus IMD (Inisiasi Menyusu Dini). IMD ini minimal harus satu jam. Pasalnya, IMD itu merupakan langkah awal keberhasilan ASI eksklusif.

“Jadi harapan kami semua ibu-ibu ini sadar akan ASI eksklusif sehingga tidak memberikan makanan apapun hingga dia umur enam bulan. Termasuk air putih, itu namanya ASI eksklusif,” terangnya.

Setelah enam bulan, tambah Muslimah, dilanjutkan dengan PMBA (Pemberian Makanan Bayi dan Anak). PMBA sendiri, nantinya dilakukan secara bertahap. Dimana pihaknya telah melatih kader-kader untuk membuat makanan pada bayi.

“Itu nanti kita beri edukasi juga. Harapannya PMBA itu bertahap, jadi anak itu tidak hanya dikasih ulekan nasi sama pisang. Tapi semuanya harus variatif. Kami sudah melatih kader-kader untuk bagaimana membuat makanan bayi,” tandasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.