DKK Kudus Soroti Kematian Ibu Akibat Penyakit Bawaan hingga Kurang Pemeriksaan

oleh -67 Dilihat
Foto: ilustrasi

Kudus, isknews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menyoroti penyebab utama kematian ibu yang terjadi sepanjang Januari hingga Juni 2025. Dari total enam kasus kematian ibu yang tercatat, sebagian besar dipicu oleh penyakit bawaan serta minimnya pemeriksaan kesehatan selama masa kehamilan.

Sekretaris DKK Kudus, Nuryanto, menjelaskan bahwa pihaknya sebenarnya telah berupaya maksimal menekan angka kematian ibu. Namun, ada kondisi yang terjadi di luar jangkauan petugas medis. Beberapa ibu hamil meninggal akibat komplikasi penyakit seperti epilepsi, gangguan jantung, asma, infeksi pasca melahirkan, hingga kasus tragis berupa pembunuhan.

“Seperti kasus ibu dengan riwayat epilepsi, kejadiannya mendadak di jalan sehingga tidak sempat tertolong. Itu terjadi di luar kendali kami,” kata Nuryanto saat dikonfirmasi pada Selasa (1/7/2025).

Ia menambahkan, untuk mencegah kematian ibu, DKK Kudus kini memperketat pengawasan mulai dari sebelum hamil hingga pasca melahirkan. Langkah itu dilakukan melalui peningkatan layanan skrining kehamilan, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), serta pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan.

Saat masa kehamilan, sambung Nuryanto, pemeriksaan antenatal care (ANC) wajib dilaksanakan secara menyeluruh dan berkualitas, mengikuti standar 12T. Pemeriksaan ibu hamil juga harus disertai dengan USG serta pemeriksaan dari kepala hingga kaki oleh dokter.

“Sementara setelah persalinan, kami pantau cakupan skrining bayi baru lahir (BBL), termasuk tindak lanjutnya di puskesmas,” tambahnya.

Catatan DKK Kudus menunjukkan bahwa pada tahun 2024, angka kematian ibu sempat menurun menjadi lima kasus. Bahkan hingga November 2024, hanya tercatat dua kasus, dan Kudus sempat menjadi lokasi studi tiru dari daerah lain, termasuk Kalimantan.

Namun, pada Desember 2024, DKK Kudus kembali mencatat tiga kasus kematian ibu secara mengejutkan. Ironisnya, dua dari tiga kasus tersebut justru berasal dari keluarga tenaga kesehatan (nakes) yang merasa mampu menangani sendiri tanpa pemeriksaan medis.

“Karena merasa bisa menangani sendiri, ibu hamil tersebut tidak diperiksakan sejak awal. Ada juga yang mengobati sendiri penyakit lain yang dimiliki, tapi justru semakin parah,” ujarnya prihatin.

DKK Kudus pun mengimbau seluruh masyarakat, terutama para calon ibu dan ibu hamil, agar tidak mengabaikan pemeriksaan rutin di puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya. Pemeriksaan dini dinilai penting untuk mencegah komplikasi dan risiko fatal selama masa kehamilan hingga pasca persalinan. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :