Kudus isknews.com – Suasana Alun-alun Simpang Tujuh Kudus mendadak dipenuhi gelak tawa anak-anak saat pembukaan Tradisi Dandangan 2026 digelar. Aneka dolanan tempo dulu yang jarang dijumpai kini kembali dimainkan, menghadirkan keceriaan sekaligus nuansa nostalgia di tengah keramaian pengunjung.
Atraksi tersebut dihadirkan Komunitas Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) yang sengaja menampilkan permainan tradisional sebagai hiburan sekaligus edukasi budaya bagi masyarakat. Puluhan anak terlibat aktif memainkan berbagai dolanan, menarik perhatian warga yang memadati pusat perayaan Dandangan.
Tak sekadar bermain, anak-anak juga menampilkan kisah tentang permainan tradisional sekaligus membawakan cerita asal-usul Tradisi Dandangan. Pertunjukan itu semakin hidup ketika terdengar suara bedug yang kemudian disusul hadirnya sosok yang memerankan Sunan Kudus.
Dalam adegan tersebut, tokoh Sunan Kudus menyampaikan bahwa bedug telah ditabuh sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan. Cerita itu pun disambut riang oleh anak-anak yang kembali larut memainkan dolanan yang tersedia.
Ketua Kampung Budaya Piji Wetan, Muhammad Zaini, mengatakan kegiatan ini memang disiapkan untuk memeriahkan pembukaan Dandangan sekaligus menghibur masyarakat dengan konsep permainan tempo dulu yang kini mulai jarang ditemui.
Menurut pria yang akrab disapa Jessy Segitiga itu, permainan tradisional memiliki nilai penting untuk dikenalkan kembali kepada generasi muda agar tidak punah. Ia mencontohkan dolanan seperti egrang, egrang bathok, estafet kayu, dakon, lompat tali, hingga dino boi yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut.
Ia menilai, dolanan tradisional bukan hanya sekadar permainan, tetapi juga bermanfaat bagi tumbuh kembang anak serta membangun interaksi sosial di lingkungannya.
Zaini juga menyoroti kebiasaan anak-anak masa kini yang cenderung terlalu lama bermain gawai. Jika tidak dibatasi, menurutnya, hal itu dapat menimbulkan ketergantungan dan berdampak negatif.
Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap permainan tradisional dapat menjadi media untuk mengenalkan kebudayaan sekaligus sejarah Dandangan kepada generasi sekarang, sekaligus mengurangi ketergantungan anak pada ponsel dan media sosial. (AS/YM)









