Dosen IAIN Kudus Jabarkan tentang Arafah dan Serba-serbinya

oleh -1,370 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Hari Arafah adalah hari kesembilan dalam bulan Zulhijah dan merupakan hari kedua dalam ritual ibadah haji. Dalam ajaran Islam, Hari Arafah merupakan hari yang istimewa. Oleh karenanya, Dosen IAIN Kudus Fakultas Tarbiyyah Dosen Bahasa Arab, Mohammad Bahauddin, M.Hum ingin menjabarkan dan berbagi informasi terkait Arafah dan serba serbinya.

Ketahuilah, sesungguhnya termasuk hikmah dan kesempurnaan Alloh, Dia mengkhususkan sebagian makhluknya dengan beberapa keutamaan dan keistimewaan. Melebihkan sebagian waktu dan tempat dengan ganjaran dan pahala yang besar.

Diantaranya adalah Alloh mengkhususkan sebagian bulan dan hari dengan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan dan hari yang lain. Agar menjadi ladang bagi seorang muslim untuk menambah amalan dan kecintaannya terhadap ketaatan. Menuai pahala dan meraih ridhoNya.

Menggugah semangat baru dalam beramal, sebagai bekal untuk kampung nan abadi. Ingatlah, umur manusia seluruhnya adalah musim untuk menjalankan ketaatan dan menuai pahala. Beribadah dan menjalankan ketaatan hingga maut menjemput. Alloh berfirman:

واعبد ربك حتى يأتيك اليقين

Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian). (QS. al-Hijr: 99)

Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk memanfaatkan umur dan waktunya sebaik mungkin. Memperbanyak dan memperbagusi ibadah serta amalan hingga maut menjemput, lebih-lebih pada bulan dan hari yang penuh dengan keutamaan.

Dikatakan dalam suatu riwayat bahwa Allah memilih dan mengagungkan tiga waktu dari sepuluh hari yang utama: Sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan sepuluh hari pertama bulan Muharram”.

Di antara bulan-bulan yang penuh dengan keistimewaan adalah bulan Dzulhijjah. Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan dalam hadistnya yang shahīh bahwa hari-hari awal sepuluh bulan Dzulhijjah itu hari yang sangat utama buat beramal shālih. Beliau bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء.

Artinya: “Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shālih lebih dicintai oleh Allāh melebihi dari sepuluh awal bulan Dzulhijjah.  Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid)” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.

Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah.”

Lalu beliau memberi pengecualian yaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahwa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan”.

Sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijah sama dengan amalan satu tahun. Bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari, sedangkan hari Arofah sama dengan 10.000 hari.

Keutamaan ini semua berlandaskan pada riwayat fadho’il yang lemah (dho’if). Namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijah berdasarkan hadits shohih seperti hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di atas.

Dalam riwayat yang lain nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

ما من عمل أزكى عند الله عز وجل ولا أعظم أجرا من خير يعمله في عشر الأضحى.

Artinya: ” Tidak ada amalan yang lebih suci disisi Alloh  dan tidak ada yang lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang dia kerjakan pada sepuluh hari al-adha”

Ibnu Rojab mengatakan: “Hadits ini menunjukkan bahwa beramal pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah lebih dicintai disisi Alloh  daripada beramal pada hari-hari yang lain tanpa pengecualian. Apabila beramal pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Alloh, maka hal itu lebih utama disisiNya”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar  berkata: “Yang jelas, bahwa sebab keistimewaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah, karena pada bulan ini terkumpul ibadah-ibadah inti, seperti shalat, puasa, shadaqoh, haji, yang mana hal itu tidak didapati pada bulan yang lainnya”.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tidak lama lagi, yaitu dalam hitungan hari kita akan menghadapi datangnya hari raya idul Adha, dan diantara ibadah yang dianjurkan dalam syariat agama kita sebelum hari raya idul Adha adalah berpuasa pada hari Arafah yaitu hari pada tanggal sembilan bulan Dzul Hijjah.

Hari ‘Arafah adalah hari yang paling mulia dalam satu tahun sebagaimana hari jum’at adalah hari yang paling mulia dalam satu minggu. Hari ‘Arafah atau tanggal 9 Dzulhijjah 1445 tahun ini di Indonesia jatuh pada hari Ahad lusa. maka tidak heran jika didalamnya terdapat banyak keutamaan.

Al-Imam Al-Hafidh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ As-Shaghir menyebutkan sebuah hadits yg berbunyi

صيام يوم عرفة كصيام ألف يوم (حب) عن عائشة

Puasa hari Arafah seperti puasa seribu hari. (HR. Ibnu Hibban dari Sayyidah Aisyah) [Al-Hafidh Al-Munawi, Faidul Qadir Syarah Al-Jami’ As-Shaghir, juz 4 hal.313 no. 5119]. Bukan hanya puasa, berdoa dihari Arafah juga sangat besar keutamaannya. Didalam hadits disebutkan

خير الدعاء دعاء يوم عرفة

Sebaik-baik doa adalah doa (yg dipanjatkan) dihari Arafah. (HR. Tirmidzi no. 3585).

Adapun alasan berdoa dihari Arafah menjadi doa paling baik adalah sebagaimana pemaparan Al-Hafidh Abil Ula Muhammad Abdur Rahman Al-Mubarokfuri.

لأنه أجزل إثابة وأعجل إجابة

Karena akan mendapatkan balasan yg berlimpah dan cepat dikabulkan. [Tuhfatul Ahwadzi, juz 10 hal. 36 cet. Darul Fikr Tahun 2003].

Timbul persoalan, perlu ke untuk kita samakan waktu kita berdoa dengan waktu wukuf di padang Arafah itu?

Nabi s.a.w bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

Maksudnya: “Sebaik-baik doa ialah doa yang dibaca pada hari Arafah..”

Jika diteliti hadis Nabi s.a.w ini, Nabi s.a.w tidak menyatakan sebaik-baik doa itu ketika waktu wukuf, tetapi dinyatakan sebaik-baik doa pada HARI Arafah.

Bilakah hari Arafah?

Syeikh Dr. Wahbah az-Zuhaili rahimahullah dan kebanyakan ulama yang lain menyatakan hari Arafah adalah pada 9 Zulhijjah. Bermaksud, sepanjang hari 9 Zulhijjah ini keseluruhannya adalah doa mustajab.

Adapun bagi orang-orang yang mengerjakan haji di Mekah, mereka perlu melaksanakan satu rukun haji yang dipanggil wukuf di Padang Arafah.

Sabda Nabi s.a.w:

الحج عرفة

Maksudnya: “Haji itu (berwukuf) di padang Arafah.”

Waktu wukuf bermula dari tergelincir matahari (masuk waktu Zuhur/waktu di Arab Saudi) hari ke 9 Zulhijjah sehingga terbit fajar 10 Zulhijjah. Maka oleh itu, bagi orang yang mengerjakan haji mereka digalakkan berdoa ketika sepanjang waktu wukuf oleh kerana ketika itu merupakan gabungan yang sangat cantik iaitu berada pada 9 Zulhijjah dan dalam keadaan berwukuf di padang Arafah. Maka insyaAllah mustajab doa berganda-ganda.

Oleh kerana itu, jelas di sini sepanjang hari Arafah merupakan hari doa mustajab. Cuma bagi orang yang mengerjakan haji ada keistimewaan tersendiri dalam mencari doa mustajab yang lebih mustajab.

Manakala bagi mereka yang tidak mengerjakan haji juga ada cara tersendiri untuk mencari doa mustajab yang lebih mustajab pada hari Arafah iaitu dengan berpuasa pada hari berkenaan.

Nabi s.a.w bersabda:

ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ.

Maksudnya: ” Tiga doa yang tidak akan ditolak Allah (bermaksud sangat mustajab) iaitu doa seorang pemimpin yang adil, doa orang berpuasa sehingga dia berbuka dan doa orang yang dizalimi..”

Kesimpulannya, tidak perlulah kita bersusah payah untuk menyesuaikan atau convert waktu wukuf di padang Arafah dengan waktu di Malaysia kerana masing-masing ada keistimewaan masing-masing. Islam tidak akan sesekali menyempitkan ruang ibadah kepada umatNya. Berdoalah pada mana-mana waktu sepanjang kita berpuasa di hari Arafah kerana ianya mustajab dan mujarab insyaAllah.

Berikut ini amalan-amalan sunnah yang dianjurkan:

  1. Puasa

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah. Keutamaan puasa Arafah ini seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah. Rasulullah SAW bersabda:

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas. (HR. Muslim)

  • Amal Shaleh, Dzikir dan Perbanyak Doa

Dia menjadikan media beramal tidak hanya pada satu amalan saja. Bagi yang tidak mampu haji, jangan bersedih, karena disana masih banyak amalan salih yang pahalanya tetap ranum dan siap dipetik pada bulan ini. Diantara contohnya shalat sunnah, dzikir, sadaqoh, berbakti pada orang tua, amar ma’ruf nahi mungkar, menyambung tali persaudaraan dan berbagai macam amalan lainnya. Amal-amal sholeh tersebut diantaranya:

  1. Baca Tahlil

Dalam Kitab “Na’tul Bidayah disebutkan “barang siapa yang membaca “لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قديرٌ” maka baginya seperti membebaskan 10 budak. Adapun semakin banyak semisal 1000 kali maka hal itu lebih baik.

Disebutkan pula dalam kitab Sunan Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

«أفضل الدعاء يوم عرفة، وأفضل ما قلت أنا والنبيّون من قبلي: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قديرٌ»

Artinya: Paling utamanya doa yang dibaca di hari Arofah dan yang paling utama saya baca dan nabi-nabi terdahulu adalah : “لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قديرٌ”.

  • Baca Surat Al-Ikhlas

Dalam kitab “al-Da’awat” terdapat hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas R.A:

من قرأ قل هو الله أحد ألف مرة يوم عرفة أعطِي ما سأل

Artinya: “Barang siapa membaca Q.S Al-Ikhlas (قل هو الله أحد) sebanyak 1000 kali di hari arofah, maka ia dapat meminta apa yang diinginkan”

  • Baca Tasbih

Disebutkan oleh Al-Allamah Syarif Ma’ al-Ainain dalam kitab “Ba’tu Al-Bidayah Wa Taushif al-Nihayah” bahwa sebagian kalimat yang dibaca di hari 10 bulan dzul-hijjah dan yang merupakan pemberian dari guru saya adalah catatan beliau bahwa Nabi SAW ketika mengajarkan ke sahabat-sahabatnya berupa bacaan:

حسبِيَ الله وكفى، سمع الله لمن دعا، ليس وراءه منتهى، من توكّل على الله كُفِي، ومن اعتصم بالله نجا

  • Baca Doa

Memperbanyak do’a ampunan dan pembebasan dari api neraka ketika itu karena hari Arofah adalah hari terkabulnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

Artinya: “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.”[HR. Tirmidzi no. 3585]

Dalam kitab at-Targhib diriwayatkan oleh Muad bin Jabal bahwa Nabi bersabda ada 5 malam yang jika dihidupkan dengan amalan-amalan maka pahalanya adalah surga, malam itu salah satunya adalah malam tarwiyah, malam arofah dan malam nahr. sedangkan yang lain adalah idul fitri dan malam nisfu sya’ban.

عن معاذ بن جبل قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من أحيا الليالي الخمس، وجبت له الجنة: ليلة التروية، وليلة عرفة، وليلة النحر، وليلة الفطر، وليلة النصف من شعبان

Dalam riwayat laian bahwa terdapat 5 malam yang dimana doa tidak akan ditolak pada malam tersebut yakni malam jumuah, awal malam rajab, malam nisyfu sya’ban, malam idul fitri dan malam idul adha.

روي عن ابن عمر رضي الله تعالى عنهما قال: “خمس ليال لا يرد فيهن الدعاء: ليلة الجمعة، وأول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة القدر، وليلتا العيدين.

Adapun doa yang dibaca sebagai berikut:

اللهم لك الحمد كالذي نقولُ، وخيرًا مما نقول، اللهم لك صلاتي ونسُكي ومحيايَ ومماتي، وإليك مآبي، ولك ربّي تُراثي، اللهم إني أعوذُ بك من عذاب القبر ووسوسة الصدرِ وشتاتِ الأمر. اللهم إني أعوذُ بك من شرِّ ما تجيء به الريح.

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم. لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد يحيي ويميتُ وهو حيٌّ لا يموتُ، بيده الخيرُ وهو على كل شيء قديرٌ.

(اللهم) اجعل في قلبي نورًا، وفي سمعي نورًا، وفي بصري نورًا، وفي لساني نورًا (اللهم) اشرح لي صدري ويسِّر لي أمري.

(اللهم) رب الحمد لك الحمد كما نقولُ وخيرًا مما نقول، لك صلاتي ونسكي ومحيايَ ومماتي، وإليك مآبي وإليك تُراثي. (اللهم) إني أعوذ بك من وساوس الصدر وشتَاتِ الأمر، وعذاب القبر (اللهم) إني أعوذ بك من شرّ ما يلجُ في الليل، ومن شرّ ما يلج في النهار، ومن شرّ ما تهبّ به الرياح، ومن شرّ بوائق الدَّهر. (اللهم) إني أعوذ بك من تحوُّل عافيتك، وفجأة نقمتك وجميع سخطك (اللهم) اهدني بالهدَى، واغفر لي في الآخرة والأولى يا خير مقصُود، وأسنى منْزُول به، وأكرم مسئول ما لديه أعطني العشية أفضلَ ما أعطيتَ أحدًا من خلقك، وحجّاج بيتك يا أرحم الراحمين.

(اللهم) يا رافع الدرجات، ومنزل البركات، ويا فاطرَ الأرَضين والسموات، ضجَّت إليك الأصواتُ بصنوف اللغات، يسألونك الحاجات وحاجتي إليك أن لا تنساني في دار البِلَى إذا نسيني أهلُ الدنيا (اللهم) إنك تسمعُ كلامي، وترى مكاني، وتعلمُ سرِّي وعلانيتي، ولا يخفى عليك شيءٌ من أمري، أنا البائسُ الفقيرُ، المستغيث المستجيرُ، الوجلُ المشفقُ المعترفُ بذنبه أسألك مسألة المسكين، وأبتهلُ إليك ابتهال المذنب الذّليل وأدعوك دعاء الخائف الضرير، دعاء من خضعتْ لك رقبته، وفاضت لك عبرته، وذلَّ لك جسده، ورغِم لك أنفه (اللهم) لا تجعلني بدعائك رب شقيًّا، وكن بي رؤوفًا رحيمًا، يا خيرَ المسئولين، وأكرم المعطين.

(إلهي) من مدح لك نفسه فإني لائم نفسي (إلهي) أخرست المعاصي لساني فما لي وسيلة من عملٍ، ولا شفيع سوى الأملِ (إلهي) إني أعلمُ أن ذنوبي لم تُبق لي عندك جاهًا، ولا للاعتذار وجهًا، ولكنك أكرمُ الأكرمين (إلهي) إن لم أكن أهلاً أن أبلغ رحمتك فإنّ رحمتك أهلٌ أن تبلغني، ورحمتك وسعت كلّ شيء وأنا شيء (إلهي) إن ذنوبي وإن كانت عظامًا ولكنها صغارٌ في جنبِ عفوك، فاغفرها لي يا كريمُ (إلهي) أنت أنت، وأنا أنا، أنا العوَّادُ إلى الذنوب، وأنت العوّاد إلى المغفرة (إلهي) إن كنتَ لا ترحم إلا أهل طاعتك، فإلى من يفزَع المذنبون؟ (إلهي) تَجنّبتُ عن طاعتك عمدًا، وتوجهت إلى معصيتك قصدًا، فسبحانك ما أعظمَ حجتك عليّ، وأكرم عفوَك عني، فبوُجوب حجتك عليّ وانقطاع حُجتي عنك وفقري إليك، وغناك عني إلا غفرت لي يا خيرَ من دعاهُ داعٍ، وأفضلَ من رجاه راجٍ بحرمة الإسلام وبذِمة محمد عليه السلام أتوسّل إليك فاغفر لي جميع ذنوبي، واصرفني من موقفي هذا مقضيّ الحوائج، وهب لي ما سألتُ، وحقق رجائي فيما تمنّيتُ (إلهي) دعوتك بالدعاء الذي علّمتنيه فلا تحرمني الرجاءَ الذي عرّفتنيه (إلهي) ما أنت صانع العشية بعبدٍ مقرٍّ لك بذنبه؟ خاشعٍ لك بذِلّته، مستكين بجُرمه، متضرّع إليك من عمله، تائب إليك من اقترافه، مستغفرٍ لك من ظلمة، مبتهلٍ إليك في العفو عنهُ، طالبٍ إليك نجاح حوائجه، راجٍ إليك في موقفه مع كثرة ذنوبه، فيا ملجأ كلِّ حيّ، ووليَّ كل مؤمن، من أحسن فبِرَحمتك يفوزُ، ومن أخطأ فبخطيئته يهلك (اللهم) إليك خرجنا، وبفنائك أنخنا، وإياك أمَّلنا، وما عندك طلبنا، ولإحسانك تعرَّضنا، ورحمتك رَجونا، ومن عذابك أشفقنا، وإليك بأثقال الذنوب هربنا، ولبيتك الحرام حججنا. يا من يملك حوائج السائلين، ويعلمُ ضمائر الصامتين، يا من ليس معه ربٌّ يُدعَى، ويا من ليس فوقه خالقٌ يُخشَى، ويا من ليس له وزيرٌ يؤتى، ولا حاجبٌ يرشى، يا من لا يزدادُ على كثرة السؤال إلاَّ جُودًا وكرَمًا، وعلى كثرة الحوائج إلاّ تفضيلاً وإحسانًا. (اللهم) إنك جعلتَ لكلِّ ضيفٍ قرًى ونحن أضيافك فاجعل قِرَانًا منك الجنة (اللهم) إن لكل وفدٍ جائزةً، ولكل زائرٍ كرامة، ولكل سائل عطيةً، ولكل راجٍ ثوابًا، ولكل ملتمس لما عندك جزاءً، ولكل مسترحم عندك رحمةً، وكل راغبٍ إليك زُلفَى، ولكل متوسّل إليك عفوًا، وقد وفدنا إلى بيتك الحرام، ووقفنا بهذه المشاعر العظام، وشهدنا هذه المشاهد الكرام، رجاءً لما عندك فلا تخيبْ رجاءنا. (اللهم) تابعتَ النِّعم حتى اطمانت الأنفسُ بتتابع نعمك، وأظهرتَ العبر حتى نطقتِ الصوامتُ بحجتك، وظاهرتَ المنن حتى اعترف أولياؤك بالتقصير عن حقّك، وأظهرتَ الآيات حتى أفصحتِ السموات والأرضون بأدلّتك، وقهرتَ بقدرتك حتى خضع كل شيء لعزّتك، وعنتِ الوجوهُ لعظمتك. إذا أساء عبادك حلُمت وأمهلت، وإن أحسنوا تفضّلت وقبِلتَ، وإن عصَوا سترتَ، وإذا أقبلنا إليك قرُبت، وإذا ولّينا عنك دعوت. (إلهنا) إنك قلتَ في كتابك المبين لمحمد خاتم النبيين؛ ﴿قل للذين كفروا إن ينتهوا يُغفر لهم ما قد سلف﴾ فأرضاك عنهم الإقرار بكلمة التوحيد بعد الجحود، وإنا نشهد لك بالتوحيد مُخْبتِينَ، ولمحمد بالرسالة مخلصين، فاغفر لنا بهذه الشهادة سوالف الإجرام، ولا تجعل حظّنا فيه أنقص من حظِّ من دخل في الإسلام (إلهنا) إنك أحببت التقرُّب إليك بعتق ما ملكَت أيماننا ونحن عبيدُك، وأنت أولى بالتفضّل فأعتقنا، وإنك أمرتنا أن نتصدّق على فقرائنا ونحن فقراؤك وأنت أحق بالتطوُّل فتصدَّقْ علينا، ووصيتنا بالعفو عمن ظلمنا وقد ظلمْنا أنفسنا وأنت أحقّ بالكرم فاعف عنا، ربنا اغفر لنا وارحمنا أنت مولانا، ربنا آتنا في الدنيا حسنةً وفي الآخرة حسنةً وقنا برحمتك عذاب النار.

  • Menulis rajah

Menulis ayat khusus yaitu pada malam lailatul qodar, malam hari arofah (9 dzulhijjah) & malam separuh dari bulan sya’ban yang berfaidah melancarkan rizki (baik rizki harta benda atau rizqi maknawi). Berikut tulisanya:

إِنَّ هَٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِن نَّفَادٍ

(Tulislah & selalu bawalah bersama-mu, diletakkan di dompet atau tempat menyimpan harta)

  • Membaca amin 6666 kali

فائدة من الشيخ احمد غزالي محمد فتح الله هو عن الشيخ نور أحمد الجفاري رحمه الله تعالى

Barang siapa membaca lafadz “Ãmin” 6666x diwaktu jamaah haji sedang wuquf di ‘Arafah, maka insyaallah ia akan dipenuhi hajatnya dan insyaallah akan sampai ke makkah-madinah Bi idznillah.

KOMENTAR SEDULUR ISK :