Dua Pekan Berjalan, MBG Prasmanan di SD 1 Prambatan Lor Tuai Respons Positif

oleh -89 Dilihat
Siswa SD 1 Prambatan Lor, Kudus, menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan. Melalui konsep ini, siswa dibiasakan mengantre, mengambil makanan sesuai kebutuhan, serta belajar mandiri dan berbagi dengan teman. Selain menyajikan makanan dalam kondisi hangat dan segar, sistem ini diharapkan dapat mengurangi sisa makanan. Foto: ist

KUDUS, ISKNEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di SD 1 Prambatan Lor, Kabupaten Kudus, mendapat respons positif dari para siswa setelah diterapkan selama dua pekan. Melalui konsep ini, siswa dapat mengambil makanan sendiri dan memilih lauk sesuai selera, sementara makanan disajikan dalam kondisi hangat dan segar.

Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton bersama Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, Anggun Nugroho, meninjau langsung pelaksanaan program tersebut pada Rabu (21/10/2026). Untuk sementara, uji coba sistem prasmanan menyasar siswa kelas V dan VI.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat proses penyajian makanan sekaligus mengevaluasi respons siswa terhadap pola makan bersama. Sistem prasmanan juga diharapkan dapat menjadi alternatif pembagian MBG yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.

Bellinda mengatakan, penerapan konsep tersebut perlu dikaji dari berbagai aspek sebelum dikembangkan lebih luas. Salah satu tujuan yang ingin dicapai ialah mengurangi sisa makanan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih lauk dan mengambil makanan sesuai kebutuhan.

“Harapannya, melalui sistem prasmanan ini, anak-anak bisa memilih lauk yang mereka sukai sehingga makanan yang terbuang bisa dikurangi. Namun, tentu perlu kita lihat bersama apakah pelaksanaannya efektif dan bisa diterapkan dengan baik di sekolah,” ujar Bellinda.

Menurutnya, evaluasi perlu mencakup kelancaran antrean, kecukupan porsi dan gizi, kebersihan, serta kemampuan siswa mengambil makanan dalam jumlah yang dapat dihabiskan.

Siswa Belajar Mandiri dan Disiplin

Plt Kadisdikpora Kudus Anggun Nugroho menjelaskan, sistem prasmanan tidak hanya menawarkan cara penyajian makanan yang berbeda, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran karakter bagi siswa.

Berdasarkan hasil pemantauan, para siswa memberikan respons positif terhadap konsep tersebut. Mereka menyukai makanan yang disajikan dalam kondisi hangat dan masih segar sehingga pengalaman makan bersama menjadi lebih menyenangkan.

“Anak-anak merespons dengan sangat baik dan menyukai konsep prasmanan ini karena makanannya disajikan dalam kondisi hangat dan masih segar,” ujar Anggun.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut sekaligus membiasakan siswa untuk tertib mengantre, mencuci tangan sebelum makan, berbagi dengan teman, serta mengambil makanan secukupnya agar tidak banyak yang tersisa.

Kebiasaan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab terhadap makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Anggun menjelaskan, makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikirim menggunakan wadah berukuran besar atau panci penyaji. Menu yang tersedia meliputi nasi, lauk-pauk, sayuran, dan buah.

Dalam pelaksanaannya, siswa mengambil makanan secara bergantian mengikuti alur yang telah diatur agar pembagian berlangsung tertib. Sekitar empat hingga lima siswa turut membantu mengambilkan makanan bagi teman-temannya, mulai dari nasi, ayam, tahu, sayur, hingga buah.

Meski melibatkan siswa, proses pembagian tetap berada dalam pemantauan petugas SPPG untuk memastikan pelayanan berjalan dengan baik.

Efektivitas dan Jam Pembelajaran Jadi Evaluasi

Meski mendapat sambutan baik, penerapan MBG dengan sistem prasmanan masih memerlukan evaluasi lebih lanjut. Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah efektivitas waktu pelaksanaan agar kegiatan makan bersama tidak mengganggu proses belajar mengajar (KBM).

Anggun mengatakan, hasil evaluasi tersebut penting untuk mengetahui apakah sistem prasmanan dapat diterapkan secara efektif dengan tetap menjaga kelancaran kegiatan belajar di sekolah.

“Termasuk nanti efektif atau tidak, berpengaruh dengan jam pembelajaran atau tidak, nanti itu akan jadi evaluasi,” terangnya.

Selain SD 1 Prambatan Lor, sekolah lain di Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, sebelumnya juga sempat ditunjuk sebagai lokasi percontohan MBG dengan sistem prasmanan. Namun, pelaksanaan di sekolah tersebut kini telah dihentikan.

Anggun menambahkan, penentuan sekolah sasaran maupun evaluasi keberlanjutan program merupakan kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN). Karena itu, hasil uji coba di SD 1 Prambatan Lor akan menjadi bagian dari bahan pertimbangan dalam menentukan kelanjutan penerapan konsep prasmanan di sekolah.

Dengan evaluasi yang menyeluruh, sistem tersebut diharapkan dapat mendukung penyediaan makanan bergizi bagi siswa sekaligus membangun kebiasaan makan yang sehat, mandiri, dan bertanggung jawab. (AS/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.