Dua Tahun Tak Berfungsi, Komisi D Sidak Insinerator RSUD Kudus

oleh -339 kali dibaca
Suasana saat Komisi D DPRD Kudus sidak kondisi insinerator RSUD dr Loekmonohadi Kudus yang tidak berfungsi dua tahun terakhir. (Foto: YM)

Kudus, siknews.com – Instalasi incinerator atau alat yang digunakan untuk membakar limbah dalam bentuk padat dan dioperasikan dengan memanfaatkan teknologi pembakaran dengan ketinggian suhu tertentu yang ddimiliki oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Loekmonohadi Kudus telah lama tak lagi berfungsi.

Atas hal tersebut, Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus melakukan sidak atas keberadaan alat tersebut dan berharap bisa berfungsi kembali untuk pengelolaan limbah padat secara mandiri di rumah sakit daerah maupun puskesmas.

Lokasi insinerator tersebut berada di bagian belakang ruang pemulasaraan jenazah. Kondisi mesinya kemarin tidak beroperasi. Untuk pemusnahan limbah rumah RSUD dr. Loekmonohadi Kudus untuk sementara waktu bekerja sama dengan pihak ketiga.

Ketua Komisi D DPRD Kudus, Ali Ihsan menyatakan mesin insinerator RSUD dr Loekmonohadi tidak berfungsi semenjak dua tahun terkahir. Lantaran ada kerusakan yang terjadi pada mesin.

Pihaknya mendesak insinerator tersebut bisa berfungsi kembali. Jika memang dibutuhkan anggaran perawatan atau pengadaan baru, pihak RSUD bisa mengajukan anggaran.

“Karena ini asapnya tidak sesuai maka dihentikan nanti bisa tercemar. Kebutuhan insinerator ini sangat mendesak kebutuhannya pemanfaatnnya bisa untuk pemusnahan limbah medis RSUD maupun puskesma,” ungkapnya.

Sementara itu,  keberadaan pemusnahan limbah tersebut tidak melanggar Peraturan daerah Rencana Tata Ruang Tata Wilayah (RTRW) Kabupaten Kudus tahun 2022-2042. Sebab di dalam aturan yang sahkan yang tidak diperbolehkan adalah proses pengolahan limbah B3.

“Jika diaktifkan ini tidak melanggar Perda RTRW yang disahkan,” ungkapnya.

Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD dr Loekmonohadi Kudus, Sugiarto menyatakan, kondisi insenerator tersebut sudah rusak dua tahun terkahir. Atau bertepatan pada tingginya kasus Covid-19 di Kudus.

“Sudah tidak beroperasi lagi sekarang, sementara waktu kami menggunakan jasa pihak ketiga untuk pemusnahan limbah,” ungkapnya.

Sugiarto menambahkan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kerusakan. Di antaranya kondisi insinerator yang telah berumur. Alat pemusnah sampah medis itu sudah ada semenjak 2015 silam.

Faktor kerusakan selanjutnya, ada komponen mesin yang tidak berfungsi. Hal ini menyebabkan pembakaran tidak berjalan secara maksimal.

“Sesuai syarat ada dua alat skribel, satunya rusak sehingga partikel tidak mau turun. Itu ada batu api yang runtuh. Sudah pernah diperbaiki namun macet lagi, mungkin faktor usia,” katanya.

Alat insinerator tersebut, sebelumnya sempat dioperasikan. Namun asap yang keluar hitam pihak RSUD kemudian menghentikannya.

Langkah ke depannya, Sugiarto akan melihat terlebih dahulu anggaran yang dibutuhkan untuk perawatan maupun pengadaan insinerator baru.

“Kami lihat dulu mana yang memungkinkan, bisa perawatan atau bangun baru,” jelasnya.

Sementara untuk volume sampah medis per harinya RSUD mampu menghasilkan 300 kilogram. Dari perjanjian yang ditandatangani dengab pihak ketiga, satu kilogram sampah dihargai Rp 9 ribu.

Sampah tersebut diangkut oleh pihak ketiga ke Semarang untuk dimusnahakan. Pengambilannya dilakukan empat kali dalam satu Minggu.

Sebelumnya, warga Desa Ploso pernah memprotes pembakaran sampah medis yang dilakukan oleh RSUD dr Loekmonohadi Kudus. Pembakaran sampah medis itu diduga menyebakan polusi udara. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.